Menikah. Jomblo. Bahagia.

Dunia hari ini dihadapkan pada suatu fenomena yang menarik. Jumlah orang yang memutuskan untuk tidak menikah saat ini meningkat hampir di seluruh negara, terutama di negara Barat, dan tidak terkecuali di Indonesia. Walau data dari Asia Research Institute menunjukkan bahwa dibandingkan negara lain, jumlah orang yang tidak menikah di Indonesia masih relatif kecil, namun jika dilihat peningkatannya dari tahun ke tahun, terdapat jumlah yang berarti terutama dari tahun 1970 hingga tahun 2005, yang mengalami peningkatan hingga 3 kali lipat.

Menariknya lagi, hasil survei Badan Pust Statistik tahun 2014 menunjukkan bahwa indeks kebahagiaan pada orang-orang yang tidak menikah lebih tinggi daripada yang menikah. Bahasa lainnya, para jomblo di Indonesia ditemukan lebih berbahagia daripada mereka yang menikah. Padahal, di sisi lain, budaya di Indonesia masih sangat menjunjung tinggi pernikahan, sehingga mereka yang tidak menikah, apalagi perempuan, dianggap gagal dalam hidupnya.

Benarkah menikah membuat seseorang bahagia?

Menanggapi data-data tersebut, pertanyaan yang muncul berikutnya ialah: apakah benar menikah bisa membuat seseorang lebih berbahagia? Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa status pernikahan berkaitan dengan kurangnya risiko penyakit jantung, depresi, dan meningkatnya kepuasan hidup seseorang. Namun,  penelitian lain menemukan bahwa bukan pernikahan yang membuat seseorang bahagia, tetapi orang yang bahagia yang cenderung memutuskan untuk menikah.

Bella DePaulo, profesor psikologi dari University of Carolina, St. Barbara, menemukan bahwa sebagian besar penelitian tentang pernikahan berlandaskan pada ideologi bahwa pernikahan adalah hal yang positif (sehingga tidak menikah dianggap negatif), sehingga terjebak pada metodologi serta pengambilan keputusan yang keliru. Ia menunjukkan salah satu contoh penelitian yang dilakukan oleh Richard Lucas dan koleganya pada tahun 2003, yang menunjukkan bahwa kebahagiaan seringkali bersifat dinamis dan mengikuti adaptation model, di mana ketika seseorang mengalami kejadian menyenangkan, maka kebahagiaannya akan meningkat, tetapi akan berangsur-angsur kembali menurun hingga pada titik stabil kebahagiaannya. Dengan demikian, penelitian-penelitian yang mengaitkan kebahagiaan dengan pernikahan selayaknya tidak diukur dalam satu waktu (cross-sectional design), karena bisa saja orang yang baru menikah saat itu masih merasa bahagia. Cara terbaik untuk menelitinya ialah dengan menggunakan desain longitudinal, di mana pengukuran terhadap kebahagiaan dilihat dari waktu ke waktu dan diamati perbandingannya antara yang menikah dan tidak menikah. Lucas dan koleganya melakukan penelitian dengan cara ini dan menemukan bahwa pada beberapa orang, pernikahan memang bisa meningkatkan kebahagiaan secara permanen, tetapi tidak pada semua orang.

Jadi, siapa yang berbahagia dan yang tidak?

Menjalani hidup sebagai single, DePaulo mengaku dirinya sangat puas dan berbahagia dalam hidupnya. Ia mengklaim bahwa statusnya ialah ‘single at heart’. Tentu ia tidak sendiri. Beberapa orang juga dapat ditemui puas dengan hidupnya walau tidak menikah. Namun seringkali yang membuat seseorang berbahagia atau tidak bukan status pernikahannya, bahkan bukan kehidupan pernikahannya, tetapi stigma dan prasangka yang diberikan oleh lingkungan terkait dengan status pernikahannya itu. Terutama di Indonesia, ketika seorang perempuan di usia 30 tahunan dan tidak menikah, bukan hanya ia yang seringkali dianggap gagal, tetapi juga terkait dengan reputasi seluruh keluarganya. Tentu ini menjadi beban bagi perempuan tersebut, apalagi, seperti kita ketahui, menikah bukan seperti kuliah yang bisa diputuskan dari satu pihak. Supaya bisa bergelar akademis, kita bisa berupaya sekuat tenaga agar terdaftar dan lulus. Namun untuk bisa bergelar ‘nyonya’, perlu upaya dan kesempatan bertemu dengan orang yang disebut sebagai belahan jiwanya, yang memang ‘jodohnya’.

Oleh karena itu, terkait dengan status pernikahan, hanya ada 2 tipe orang yang akan berbahagia: mereka yang ingin dan berhasil menikah, dan mereka yang tidak menikah karena ingin untuk tidak menikah. Sebaliknya, 2 tipe orang yang paling tidak berbahagia ialah: mereka yang menikah namun tidak ingin menikah dan mereka yang tidak menikah padahal ingin menikah. Jelas bahwa bukan status pernikahan yang membuat bahagia, tetapi motivasi yang terealisasilah yang menentukan kebahagiaan. Parahnya, seringkali kita turut andil menambah beban pada orang-orang yang tidak menikah, melalui pertanyaan “kapan kawin?”,” masih single aja nih?” yang terdengar sepele, namun sangat merampas kebahagiaan  mereka – dan mungkin keluarga besarnya.

Jadi, berhentilah menghakimi. Tidak selamanya bertanya menunjukkan kepedulian, dan jadikanlah single sebagai pilihan, bukan kegagalan, sama seperti menikah adalah pilihan.

“Too many women throw themselves into romance because they’re afraid of being single, then start making compromise and losing identity.” – Julie Delpy

 

Advertisements

Tagged: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: