Ketika “Aku Cinta Padamu” Tidak Lagi Cukup

relationship - experiencing life foundation

Banyak yang mengatakan membangun hubungan romantis jauh lebih mudah daripada mempertahankannya. Walaupun beberapa orang tetap beranggapan bahwa membangun hubungan merupakan hal sulit, harus diakui bahwa mempertahankan hubungan seringkali terasa jauh lebih sulit. Sekalipun angka perceraian masih lebih sedikit daripada angka pernikahan yang bertahan, beberapa hubungan pernikahan yang bertahan tidak selalu menggambarkan kepuasan pasangan atas hubungan itu. Banyak di antaranya yang terpaksa mempertahankan hubungan demi anak, demi penilaian masyarakat, demi ‘tidak berdosa’ melanggar ajaran agama, atau demi menjaga nama baik keluarga.

Mempertahankan sebuah hubungan memang bukan hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga seni (keterampilan) untuk melakukannya. Seringkali pasangan tahu apa yang benar, namun untuk melakukannya tidak pernah sesederhana mengetahuinya. Masalah mempertahankan hubungan bisa jadi merupakan masalah yang abadi sepanjang manusia hidup. Perselingkuhan bukan lagi hal yang baru. Hukum dari masa lalu pun sudah jelas mengatur tentang hal tersebut, mengindikasikan bahwa perselingkuhan dan kegagalan hubungan pernikahan merupakan masalah klasik yang tidak pudar oleh perkembangan waktu.

Emerson Eggerichs, penulis buku terkenal “Women Need Love and Man Need Respect” dengan tegas menyebutkan rahasia sederhana yang kompleks untuk mempertahankan sebuah hubungan: bahwa lelaki butuh dihormati dan perempuan butuh dicintai. Dalam riset sederhana yang dilakukan, disebutkan bahwa 74% laki-laki lebih memilih untuk merasa kesepian dan tidak dicintai daripada tidak dihormati. Sebaliknya, perempuan membutuhkan cinta dari pasangannya sama seperti manusia membutuhkan oksigen untuk bernafas.

Buku tersebut diterbitkan pertama kali pada tahun 2004. Namun tips yang sama sebetulnya sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu, tertuang di antaranya dalam kitab Efesus 5: 22-33. Secara detail kedua sumber itu sepakat bahwa: istri harus menghormati suami, tanpa syarat, dan suami harus mengasihi istri, juga tanpa syarat. Tanpa syarat berarti tanpa batas, hormat yang tiada batas sama seperti manusia  hormat kepada Tuhannya, dan kasih yang tanpa batas sama seperti Tuhan yang mengasihi manusia. Resep yang begitu sederhana, tetapi tidak pernah mudah melakukannya. Mengapa?

Beberapa pasangan perempuan akan berdalih: “bagaimana bisa saya menghormati suami saya yang pulang kerja larut malam?”,  sementara yang lelaki juga akan mengatakan: “tidak mungkin saya dapat mencintai pasangan yang tidak dapat mengendalikan mulut dan emosinya!”. Lalu di tengah pembelaan diri tiada habis ini, muncullah penengah yang mengatakan, hubungan hanya dapat dipertahankan jika keduanya memiliki komitmen. Sekilas, memang terdengar betul. Tapi, seperti yang dikatakan oleh Sternberg, cinta yang hanya dibangun dengan komitmen pada akhirnya akan terasa hampa.

Komitmen penting. Namun komitmen seharusnya lahir bukan dari usaha untuk mempertahankan cinta, tetapi dari kepercayaan (trust) yang penuh pada pasangan. Inilah yang seharusnya menjadi inti dari sebuah hubungan yang harmonis dapat dipertahankan. Seorang perempuan tidak akan pernah menghormati pasangannya yang pulang kerap larut malam kecuali ia percaya penuh bahwa apa yang dilakukan pasangannya adalah demi mencari nafkah bagi keluarganya. Seorang lelaki tidak akan pernah mencintai pasangannya yang cerewet, menuntut, dan banyak mengatur segala sesuatu kecuali ia percaya penuh bahwa segala hal yang dicerewetkan, dituntut, dan diatur adalah bagian dari usaha pasangannya itu untuk mewujudkan rumah tangga yang baik dan harmonis.

Kepercayaan adalah hal mutlak bagi terpeliharanya keharmonisan suatu hubungan, sama dengan iman mutlak bagi penganut agama. Oleh karena itu, bagi yang belum memasuki pernikahan, penting untuk menantang diri: sejauh mana Anda percaya bahwa pasangan Anda benar-benar memiliki satu visi dengan Anda dalam mewujudkan rumah tangga dan masa depan; bagi Anda yang sudah menikah: pasti ada visi yang sama yang membuat Anda menikah, kembalilah pada visi itu, nikmati kembali rasa ketika visi itu disatukan, dan buatlah komitmen bersama-sama untuk saling percaya bahwa keduanya berambisi menciptakan yang terbaik, sehingga tidak lagi sulit untuk menghormati maupun menyayangi pasangan.

“A perfect marriage is two imperfect people who refuses to give up on each other.”

– Anonymous.

Referensi acuan, klik di sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: