PSIKOLOGI, KRISTEN, DAN KECEMASAN

anxiety

Psikologi dengan Kristen seringkali dianggap sebagai bertentangan. Beberapa aliran menyebutkan bahwa psikologi akan kehilangan identitasnya ketika bersatu dengan Kristen, karena dengan demikian psikologi menjadi tidak netral. Psikologi yang diintegrasikan dengan Kristen dianggap sarat berbau Kristenisasi, sehingga segala ilmu dan prinsip dasar psikologi menjadi hilang dan digantikan dengan nilai-nilai teologis.

Salah satu contoh spesifik mengenai pertentangan antara psikologi dengan Kristen dalam realita kehidupan sehari-hari ialah dalam memandang kecemasan. Anggap saja ada seorang klien datang kepada psikolog, menceritakan pengalamannya tentang bagaimana hidupnya dahulu sangat ‘menyenangkan’ dan ‘sejahtera’. Dengan kemapanan secara ekonomi, ia menikmati berbagai perilaku seks yang tidak dapat diterima secara sosial, moral, dan agama: menjadi seorang biseksual. Namun pada saat itu, ia tidak terlalu memikirkan pandangan masyarakat karena merasa ia dapat mencukupi segala kebutuhannya sendiri. Ia pun dapat menikah dan memiliki seorang anak. Suatu malam, saat ia sedang menghabiskan waktunya di pusat hiburan sesama jenis, ia tertangkap polisi karena mengkonsumsi narkoba. Singkat kata, ketika di penjara dan ada program pendampingan rohani, ia merasa cemas karena telah berbuat dosa dan mendapati dirinya sangat menjijikkan. Ia lalu menceritakan kepada Anda segala masalahnya dan meminta pandangan Anda. Apa respon Anda?

Dalam pandangan humanistik, klien ini seharusnya diajarkan agar dapat menerima dirinya apa adanya, memilih apa yang menurutnya baik, dan melakukan yang dianggapnya baik tersebut. Walaupun mungkin Carl Rogers atau para ahli lainnya tidak secara langsung mengaitkan dengan homoseksualitas, tetapi saya cukup yakin bahwa mereka akan tetap mendorong agar klien tersebut tetap menerima diri apa adanya, sehingga membenarkan dan membiarkan mereka menjadi seorang homoseksual – apalagi setelah saat ini homoseksualitas tidak lagi dianggap sebagai suatu gejala patologis, serta berbagai negara bagian di Amerika Serikat mulau melegalkan homoseksualitas.

Momen ‘kairos’ saat klien tersebut diingatkan dan mengalami perjumpaan dengan Injil yang mengusik hatinya dianggap sebagai momen yang justru menimbulkan kecemasan dalam diri. Namun, terlepas dari integrasi psikologi dan Kristen, apakah benar bahwa kehadiran Injil justru malah membuat seseorang hidup dalam kecemasan? Paling tidak ada beberapa argumentasi penting yang muncul dalam hal ini:

  1. Cemas muncul bukan karena Injil, tetapi karena adanya perubahan. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Setiap orang pasti melakukan kesalahan. Cemas muncul ketika kita menyadari bahwa kita salah, kita berbeda dengan kebanyakan orang, kita menyalahi aturan yang berlaku. Bukankah seorang anak yang mendapat nilai jelek saat ujian juga akan merasa cemas saat mengulang ujian itu kembali? Apakah kita akan mengatakan “Nak, lebih baik kamu tidak perlu mengikuti ujian lagi. Carilah sekolah lain yang lebih mudah.” atau justru mendorong dan memotivasinya agar belajar lebih giat? Terkadang, justru hal yang membuat kita cemas membuat kita lebih baik ketika kita mampu bereaksi dengan tepat terhadap kecemasan tersebut.
  2. Cemas berbeda dengan gangguan cemas. Tidak semua cemas perlu dihindari, justru beberapa kecemasan sangat penting untuk mendorong dan meningkatkan kualitas hidup kita. Kecemasan dalam diri justru menunjukkan adanya kesadaran akan posisi diri kita saat ini serta nilai-nilai yang dianut. Saat seseorang akan mengikuti wawancara kerja, ia akan mengalami cemas; tetapi tentu bukan berarti solusinya adalah dengan membuatnya tidak bekerja. Jadi, yang lebih penting bukanlah kecemasan itu sendiri, melainkan cara kita menghadapi kecemasan.
  3. Kehadiran Injil bukan untuk membuat cemas, tetapi justru untuk membebaskan manusia dari kecemasan. Injil memang secara tegas menolak hubungan sesama jenis karena merupakan perbuatan dosa. Akan tetapi Injil menawarkan keselamatan yang sebenarnya amat dibutuhkan manusia untuk bebas dari kecemasannya. Dalam berbagai kisah kehidupan Yesus dan segala nilai-nilai yang tertulis di Alkitab, kita dapat melihat bahwa sekalipun Allah sangat membenci dosa, tetapi Ia tidak pernah menghilangkan identitas diri-Nya yang adalah Kasih. Oleh sebab itu, penekanan seharusnya ada pada bagaimana setiap manusia sudah berbuat dosa (tidak ada yang lebih suci daripada yang lainnya), bagaimana Allah menerima diri kita dalam segala keberdosaan kita, dan bagaimana Allah melalui Roh Kudus-Nya akan memampukan kita untuk membina dan mempertahankan hidup dalam kekudusan.
  4. Mengabaikan Injil dengan mengokohkan jati diri sebagai homoseksual justru sebenarnya memupuk rasa cemas yang lebih besar di kemudian hari. Seperti perumpamaan di atas, ketika anak dibebaskan dari ujian atau ketika seorang pelamar kerja menghindari wawancara kerja, mereka memang akan terbebas dari kecemasannya. Namun kebebasannya bersifat semu. Di depannya, sudah menanti berbagai potensi kecemasan lain: rasa minder karena tingkat pendidikan yang rendah dibanding teman-temannya, stres karena tekanan ekonomi dan tidak lagi dapat bergantung pada siapapun, atau rasa penyesalan karena telah ‘menolak untuk cemas sesaat’. Seorang homoseksual mungkin saja bisa berusaha menerima identitas dirinya, belajar mencintai dan menerima diri apa adanya, tetapi seumur hidupnya ia akan terus dikuasai oleh ketakutan akan stigma negatif dari masyarakat serta bayang-bayang kecemasan mengenai kehidupan (atau penderitaan) setelah kematian nanti.

Homoseksualitas hanya satu dari sekian banyak hal yang membuat seseorang cemas dan berusaha mengeliminasi nilai Kristen dalam psikologi. Cemas merupakan hal yang normal dan wajar, namun cara seseorang mengatasi kecemasannya justru yang membuatnya dianggap mengalami gangguan atau tidak. Jadi, ketika menghadapi kecemasan, langkah yang paling tepat bukan menghindari kecemasan itu, tetapi mengelola kecemasan dengan bijak agar melalui kecemasan, kita beroleh kualitas hidup yang lebih baik.

Advertisements

2 thoughts on “PSIKOLOGI, KRISTEN, DAN KECEMASAN

  1. hilmansyafei November 13, 2015 at 11:03 pm Reply

    Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai Psikologi. Perkembangan psikologi manusia sekarang ini harus sangat diperhatikan agar mereka tidak berkembang dengan mental yang salah. Saya memiliki beberapa tulisan sejenis mengenai psikologi yang dapat dilihat di Disini

    • admin November 13, 2015 at 11:07 pm Reply

      Terima kasih atas komentarnya @Hilmansyafei.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: