Tag Archives: resolusi awal tahun

Realisasi dan Resolusi Awal Tahun

Entah karena trend yang sudah berlalu, usia yang bertambah sehingga fokus berubah, atau memang benar adanya, sepertinya memasuki tahun 2017 kita tidak banyak mendapat exposure untuk menyusun New Year Resolution. Namun demikian, meski seringkali resolusi tahun baru hanya sebatas daftar di atas kertas, memiliki target dan komitmen yang hendak dicapai dalam hidup adalah hal yang penting untuk membuat hidup benar-benar hidup. Bayangkan jika hari-hari dihabiskan tanpa rencana yang matang, tidak ada tujuan yang jelas, tentu hidup akan terasa sangat membosankan.

Menyusun resolusi tahun baru membutuhkan refleksi akan apa yang terjadi di masa lalu dan proyeksi akan apa yang akan/kita ingin terjadi di masa depan. Kita diajak untuk berpikir dalam dua dimensi waktu (PASTFUTURE), yang sangat berguna untuk merumuskan langkah terbaik di masa kini (PRESENT).

Namun, sadarkah Anda bahwa kemampuan berpikir di masa lalu/masa depan saja tidak cukup untuk merealisasikan apa yang kita inginkan? Bahkan, orang-orang yang dibayang-bayangi oleh masa lalu dan masa depannya sangat rentan mengalami berbagai gejala dan gangguan kejiwaan. Depresi, misalnya, timbul karena penyesalan akan masa lalu atau dihantui akan kegagalan di masa depan. Gangguan kecemasan disebabkan karena kekhawatiran berlebih akan hal-hal yang ‘belum tentu terjadi’ di masa depan.

Tujuan akhir dari merealisasikan resolusi tahun baru tentunya mencapai kebahagiaan. Ironisnya, banyak orang yang setelah menuliskan resolusi itu justru malah semakin jauh dari kebahagiaan. Lalu, apa yang harus dilakukan supaya kita berhasil merealisasikan resolusi kita dengan tetap merasa bahagia?

John Teasdale, Mark Williams, dan Zindel Segal memperkenalkan konsep Mindfulness Based CBT yang terinspsirasi dari konsep Mindfulness Based Stress Reduction (MBSR) yang dikemukakan oleh Jon Kabat Zinn tahun 1979. Dalam konsep ini, ada tiga hal yang penting untuk diterapkan untuk memperoleh kebahagiaan seiring merealisasikan target yang ingin kita capai:

1. Awareness and Acceptance (kesadaran dan penerimaan diri)

Menetapkan target memang penting. Namun, yang sangat penting ialah memiliki gambaran yang objektif tentang diri kita, termasuk segala kekurangan yang kita miliki. Secara psikologis, kita terbiasa untuk menilai diri lebih positif, menutup mata terhadap beberapa kelemahan diri kita. Namun kegagalan untuk melihat keterbatasan kita dapat berdampak pada menetapkan standar yang kurang realistis. Cobalah untuk merefleksikan diri dan mengesampingkan perasaan, emosi, dan pikiran negatif yang seringkali muncul ketika kita berupaya untuk melihat kekurangan dan kegagalan dalam diri kita. Tidak ada cara lain selain menerima secara utuh kegagalan yang pernah kita buat, melepaskannya dari emosi negatif yang tersisa, dan menjadikannya sebagai pelajaran yang berharga.

2. Non-judgmental (tidak menghakimi)

Belajarlah untuk melihat peristiwa sebagai fakta sehingga kita tidak luput dari pelajaran yang hendak diberikan kepada kita melalui peristiwa itu. Penilaian negatif, merasa gagal, merasa bersalah sesekali dan dalam waktu singkat memang bermanfaat untuk memperbaiki diri. Namun yang seringkali terjadi ialah kita terus-menerus dihantui oleh perasaan demikian. Sepanjang kita sudah sadar akan pelajaran yang didapat dari pengalaman yang kurang menyenangkan itu, lepaskanlah emosi negatif yang menyertai, terimalah sebagai bagian yang utuh dalam hidup, dan tersenyumlah.

3. Live in the present (hidup di masa kini)

Penyebab utama kegagalan merealisasikan keinginan dan tujuan dalam hidup ialah karena kita tidak memiliki kontrol di masa kini. Ironisnya, kita berusaha untuk mengontrol apa yang terjadi di masa lalu atau di masa depan, dengan berkata “andai dulu …” atau “bagaimana jika nanti…”. Berhentilah berangan-angan! Kerjakan apa yang mampu dikerjakan sekarang dan jangan lagi izinkan penyesalan dan kekhawatiran mengontrol hidup kita. Apapun yang tidak bisa kita kontrol, serahkan kepada Siapapun yang kita yakini sanggup mengontrolnya, dan berserahlah.

Selamat memulai tahun yang baru di mana Anda adalah satu-satunya orang yang mengontrol langkah Anda sekarang dan saat ini!

 

“The only thing you sometimes have control over is perspective. You don’t have control over your situation. But you have a choice about how you view it.” – Christ Pine

Tahun baru, Masalah baru?

GAMBAR

Menyongsong tahun yang baru, setiap individu memiliki respon yang bervariasi. Ada yang bersemangat, sedih, takut, cemas, dan bahkan merasa bahwa semakin hari hidupnya menjadi semakin tidak bermakna. Hal ini tidak jarang dirasakan oleh mereka yang mengalami beban pergumulan yang berat, terutama jika masalahnya tidak kunjung selesai dari tahun ke tahun.

Pada dasarnya, setiap manusia, sepanjang ia masih bernapas tidak pernah lepas dari apa yang dinamakan dengan “masalah” dalam hidupnya. Ketika seseorang masih “diberikan” masalah, itu menjadi tanda bahwa ia masih “hidup”. Yang menjadi krusial dalam hidup manusia bukanlah jenis masalah apa yang dihadapi, seberapa banyak dan berat masalah yang dihadapi, namun lebih kepada bagaimana mengatasi masalah-masalah yang muncul dalam kehidupan. Suatu pepatah mengatakan, ”We’re not defined by our trials, but by how we face them.”

Cara kita menyikapi suatu masalah (dari masalah yang sangat sepele hingga masalah yang dikategorikan sangat berat) dalam hidup dapat menentukan tingkat kesehatan mental kita. Orang yang mudah melihat sisi positif dan menghadapi masalahnya dengan cara-cara efektif (fokus pada inti masalah bukan kepada emosi dan orang yang terlibat, terbuka, mau mendengarkan, berpikir ke depan, dsb) cenderung memiliki mental yang lebih sehat dibandingkan dengan orang yang sulit memandang hal positif, mudah menyalahkan diri sendiri atau orang lain, dan bahkan sulit mencari jalan keluar yang efektif karena senang berlarut-larut dalam emosi yang negatif. Seseorang yang sehat mentalnya memiliki kemampuan penyesuaian diri yang baik terhadap lingkungan maupun masalah yang terjadi dalam lingkungannya karena hampir bisa dipastikan tidak ada lingkungan yang sepenuhnya sama dan mampu memenuhi tuntutan masing-masing individu.

Oleh karenanya, dalam menghadapi tahun yang baru, hendaklah kita tidak lagi mengkhawatirkan masalah apa yang akan terjadi nantinya, tapi lebih perlu untuk mengkhawatirkan tentang diri kita sendiri; apakah kita sudah memiliki kesiapan diri serta cara penyelesaian yang efektif ketika diperhadapkan pada suatu masalah tertentu? Jika ya, kita pastinya akan menjadi orang yang memiliki mental lebih kuat dan sehat dari hari ke hari. Jika tidak, kita dapat menjadi individu dengan mental yang semakin lemah dan rapuh seiring berjalannya waktu. Kesehatan mental yang semakin buruk lama kelamaan dapat menggerogoti kesehatan fisik kita karena keduanya saling memberikan pengaruh satu sama lain, dan tentunya bukan itu yang kita harapkan di sepanjang sisa kehidupan kita saat ini.

“What we achieve inwardly, will change outer reality.”-Plutarch

 

New Year Resolution: Deja Vu?

New Year Resolution - ELF

Akhir tahun adalah momen yang ditunggu-tunggu oleh kebanyakan orang. Selain waktunya libur dari berbagai aktivitas, akhir tahun memiliki makna yang berbeda-beda pada masing-masing orang. Ada yang menjadikan akhir tahun sebagai waktunya melakukan refleksi atas berbagai peristiwa yang sudah terjadi di tahun itu, ada pula yang menjadikannya sebagai waktu berkumpul dengan keluarga dan kerabat dekat yang mungkin tidak bisa terjadi di waktu lain karena kesibukan masing-masing.

Momen pergantian tahun memang menjadi waktu yang tepat untuk ‘diperingati’. Terlepas  dari suasana meriah, kembang api yang indah, dan pesta sale di mana-mana, pergantian tahun menjadi waktu yang tepat bagi seseorang untuk mengevaluasi apa yang terjadi selama tahun yang sudah berjalan, sekaligus membuat suatu resolusi untuk melangkah di tahun yang baru.

Memasuki awal tahun, sebagian besar orang seolah memiliki harapan baru. Dengan antusiasme yang tinggi, mereka mulai menetapkan target yang ingin dicapai. Dikutip dari situs www.about.com, ada 10 resolusi awal tahun yang paling banyak orang harapkan:

  1. Menghabiskan waktu bersama teman dan keluarga
  2. Membentuk otot dan membugarkan tubuh
  3. Menurunkan berat badan
  4. Berhenti merokok
  5. Menikmati hidup lebih lagi
  6. Berhenti mabuk-mabukan
  7. Lepas dari hutang
  8. Mempelajari hal-hal baru
  9. Membantu orang lain
  10. Lebih teratur dalam hidup

Uniknya, resolusi awal tahun sebagian orang cenderung sama dari tahun ke tahun. Anda mungkin pernah memiliki satu atau lebih dari resolusi di atas sebagai resolusi awal tahun Anda – dan memiliki resolusi itu di tahun-tahun berikutnya. Akhirnya, resolusi awal tahun tidak lebih daripada sekedar fenomena deja vu. Jika ini terjadi berulang-ulang, bisa diprediksi, akan ada masanya dimana orang tersebut akan menjadi skeptis dan berhenti memikirkan resolusi untuk tahun yang baru – yang sebenarnya diperlukan bagi orang itu untuk tetap berkembang.

Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan hal-hal berikut ini dalam membuat resolusi awal tahun:

  • KONKRIT. Resolusi awal tahun akan lebih mudah direalisasikan jika resolusi itu konkrit, mudah dipahami, dan jelas maknanya. Contohnya, “mempelajari hal-hal baru” mungkin lebih sulit untuk direalisasikan daripada “mengikuti kursus X hingga tuntas”; atau daripada berkata “menurunkan berat badan”, lebih baik “menurunkan 10 kg berat badan”. 
  • TERJANGKAU. Ada yang bilang bahwa jika target yang ditetapkan mudah dijangkau, maka orang itu akan sulit berkembang lebih lagi. Pendapat ini ada benarnya, tetapi juga ada salahnya. Target yang terlampau tinggi justru malah membuat seseorang depresi, putus harapan, karena ia tidak pernah bisa mencapainya. Jadi, bagi seorang karyawan yang sudah berkeluarga, pasangan tidak bekerja, dan berpenghasilan 5 juta per bulan, resolusi “memiliki tabungan 15 juta di akhir tahun” akan lebih realistis daripada “memiliki tabungan 30 juta”.
  • TARGET YANG TEPAT. Target dari menetapkan target dan resolusi awal tahun perlu dibuat bukan untuk mengalahkan orang lain, tetapi untuk mengembangkan diri. Dengan demikian, komitmen yang dibangun untuk menyusun resolusi awal tahun didasari dengan suatu dorongan yang positif untuk mengembangkan diri, bukan dilakukan dalam atmosfir kompetitif.

Selain ketiga hal di atas, resolusi yang dibuat juga perlu diarahkan agar dapat semakin mendekatkan diri pada tujuan yang ingin dicapai dalam hidup. Dengan demikian, resolusi dapat menjadi ‘checkpoint’ dari perjalanan hidup hingga kepada titik akhir.

Selamat merenung dan menemukan resolusi yang tepat untuk tahun 2015 mendatang!

 

“Year’s end is neither an end nor a beginning but a going on, with all the wisdom that experience can instill in us.”

– Hal Borland