Tag Archives: psikologi gading serpong

Kapan Kawin? Menjawab Pertanyaan Kapan Waktu Terbaik untuk Menikah

 

Kapan kawin?

Sebagian besar dari kita, entah karena mandat budaya, diatur oleh jam biologis, atau panggilan spiritual, bermimpi untuk menikah dan membentuk keluarga baru. Manusia memang dibekali dengan identitas yang sudah ditentukan dari awal – di mana dirinya, orang tua, atau siapapun manusia di muka Bumi ini tidak dapat mengubah atau menentukannya –, yaitu identitas gender. Kehadiran manusia dengan identitas gender secara tidak langsung memberikan suatu pesan bahwa manusia memang diciptakan untuk berpasang-pasangan, yang diikat dalam sebuah pernikahan. Memang betul, beberapa orang sejak awal sudah berkomitmen untuk tidak menikah, dan itu sah-sah saja, tetapi toh masyarakat kita hingga kini masih berkeyakinan bahwa setiap orang selayaknya menikah. Menikah juga sering dianggap sebagai suatu fase sangat penting dalam hidup manusia sehingga ritual pernikahan menjadi begitu istimewa. Dalam sepanjang hidup manusia, mungkin hanya ada tiga peristiwa besar yang dikenang dan dirayakan bersama dengan tradisi berbeda-beda pada tiap-tiap budaya: kelahiran, pernikahan, dan kematian.

Berada di antara kelahiran dan kematian seolah melambangkan seberapa signifikannya momen pernikahan. Melalui pernikahan, seseorang dapat mengalami hidup yang sangat menyenangkan (seperti menyambut kelahiran seorang bayi yang dinantikan) atau menjalani hidup yang sangat berat dan menyiksa (seperti menyaksikan kematian orang yang sangat disayang). Parahnya lagi, pernikahan adalah sebuah jalan di dalam hidup seseorang yang tidak mengenal berbalik arah (tidak dapat di-undo) karena, meskipun seseorang tetap memiliki hak untuk bercerai, pernikahan menjadi sama sekali berbeda ketika dilakukan lebih dari sekali.

 

Lalu, kapan waktu terbaik seseorang menikah?

Teori perkembangan psikososial dari Erikson menegaskan bahwa usia terbaik pernikahan ialah ketika seseorang sudah memasuki masa dewasa muda (usia 20 hingga 40-45 tahun). Di usia ini, tugas perkembangan seseorang terfokus pada pencarian hubungan romantis yang intim dengan orang lain, untuk menumbuhkan dan mengalami cinta yang eksklusif; sedangkan di usia aqil balik, tugas perkembangan remaja masih sebatas pembentukan jati diri, belum berfokus pada pembinaan relasi romantis yang intim dengan orang lain.

Rentang usia dewasa muda tentu sangat luas untuk memberikan indikasi usia terbaik bagi seseorang untuk menikah. Oleh karenanya, secara lebih spesifik beberapa penelitian lanjutan (misal: DeMaris & Rao, 1992; Heaton, 2002; Rodrigues, Hall, & Fincham, 2007; Hanes, 2014) mengkonfirmasi bahwa idealnya seseorang menikah setelah berusia 23 tahun karena mereka yang menikah di bawah usia tersebut adalah yang paling rentan untuk mengalami perceraian. Lebih lanjut, juga ditekankan bahwa semakin muda seseorang menikah, semakin besar peluangnya untuk bercerai.

 

Menikahlah sebelum usia 32 tahun!

Penelitian terbaru ternyata menunjukkan hal yang lebih fenomenal. Pada tahun 2015, Nicholas Wolfinger, seorang profesor dalam bidang Sosiologi di University of Utah, melakukan analisa berdasarkan data survei dari National Survey of Family Growth (NSFG) pada tahun 2006 hingga 2010. Jika studi-studi sebelumnya mengatakan bahwa semakin tua usia seseorang, semakin kecil terjadinya peluang perceraian; dalam hasil analisanya Wolfinger menemukan bahwa usia terbaik seseorang untuk menikah ialah setelah melewati usia 25 tahun, tetapi sebelum usia 32 tahun. Temuan ini juga tetap berlaku sama setelah mengontrol variabel jenis kelamin, tingkat pendidikan, religiositas, latar belakang etnis, dan riwayat aktivitas seksual sebelum menikah. Dalam studinya, Wolfinger menyimpulkan bahwa waktu terbaik untuk menikah ialah di akhir usia 20 tahun, tidak peduli apapun tingkat pendidikan, kepercayaan agama, etnis, atau jenis kelamin orang itu.

Wolfinger menjelaskan beberapa alasan yang mendukung temuannya ini. Pertama, menurutnya, kebanyakan orang yang belum menikah hingga di usia 30 tahun cenderung merupakan orang-orang yang sulit membina hubungan interpersonal yang baik dengan orang lain. Oleh karenanya, ketika mereka menikah, besar peluang pernikahannya mengalami kegagalan. Wolfinger menyadari bahwa dinamika dan tekanan ekonomi di masa kini yang semakin besar membuat banyak orang menunda usia pernikahannya karena berusaha untuk mengejar karier yang menuntut waktu lebih lama untuk mendapat penghasilan yang cukup guna membangun keluarga jika dibandingkan dengan di masa lalu. Namun, menurut Wolfinger, orang-orang yang demikian adalah mereka yang menikah di akhir usia 20 tahunan, sehingga dianggap sebagai kelompok orang yang paling tidak rentan terhadap perceraian dalam pernikahannya. Di samping itu, sebagian orang yang menikah di usia 30 tahunan memiliki motivasi untuk menikah yang lebih dikendalikan oleh tekanan keluarga dan kerabat, sehingga pernikahannya lebih dilandasi oleh usaha pelarian agar tidak mendapat penilaian negatif dari keluarga maupun orang-orang terdekatnya. Itulah sebabnya mereka menjadi lebih rentan terhadap perceraian.

 

Mencermati Temuan Wolfinger

Secara statistik, dengan jumlah sampel yang melebihi 5.000 orang dan teknik sampling dan pengolahan statistik yang tepat, tentu fakta itu dapat diyakini kebenarannya. Pengolahan data hingga pada penarikan kesimpulan demikian sudah sesuai dengan logika statistika. Namun, psikologi, terutama pernikahan, pastinya lebih dari sekadar angka dan data. Di samping akurasi hasilnya yang mungkin terbatas karena hanya melibatkan responden di Amerika Serikat – yang mungkin berbeda dengan tipikal masyarakat di Indonesia –, fakta ini tetap berguna bagi kita untuk mempertimbangkan kapan waktu terbaik untuk menikah. Ada beberapa hal yang perlu menjadi pertimbangan.

Pertama, ukuran waktu terbaik untuk menikah ialah kedewasaan psikologis, bukan biologis. Kedewasaan secara psikologis sulit diukur dari usia karena bagi beberapa orang, kecakapan psikologis dalam membangun hubungan, membina komitmen, dan mengelola konflik mungkin bisa muncul lebih awal daripada sekelompok orang lainnya. Jadi, menjadi tidak bijaksana jika seseorang berharap untuk mendapat pernikahan bahagia dengan menunda pernikahannya hingga akhir usia 20 tahun dan sebelum 32 tahun tanpa melakukan pembenahan dan pengembangan diri.

Kedua, hendaknya kita tidak terjebak pada pengambilan kesimpulan yang keliru. Penarikan kesimpulan usia terbaik menikah yang dilakukan oleh Wolfinger dilakukan berdasarkan analisa terhadap data, baru setelah itu ditelusuri kemungkinan sebab-sebab munculnya pola data demikian. Oleh karenanya, kita tidak boleh keliru dalam memaknai fakta ini agar tidak terjebak pada pengambilan keputusan yang salah. Sederhananya, jika ada data yang mengatakan bahwa ada banyak kecelakaan mobil yang terjadi di suatu jalan di malam hari; maka data ini seharusnya bukan membuat kita berpikir untuk tidak melewati jalan itu di malam hari, tetapi justru lebih berhati-hati dengan memperhatikan analisa mengapa sering terjadi kecelakaan di jalan itu pada malam hari, atau bahkan berinisiatif membuat penerangan di jalan itu sehingga tidak lagi terjadi kecelakaan. Bagi yang sudah berusia di atas 30 tahun, tentu temuan ini bukan menjadi alasan untuk Anda tidak menikah karena kemungkinan bercerainya tinggi, melainkan menjadi informasi yang sangat bermanfaat untuk merefleksikan diri apa yang harus diantisipasi agar pernikahan Anda tetap berbahagia.

Terakhir, realita psikologi tidak cukup direpresentasikan melalui angka-angka. Realita psikologi bersifat sangat unik, khas, dinamis, dan subjektif. Data yang ada bicara mengenai pola dan probabilitas, bukan sesuatu yang pasti. Jadi, bukan berarti semua orang yang menikah sebelum akhir usia 20 tahun atau di atas usia 32 tahun pasti akan gagal pernikahannya; namun data itu memberikan informasi yang bermanfaat mengenai dinamika pernikahan pada sebagian besar orang dalam kurun waktu tertentu.

 

Jadi, kapan kawin?

Saya percaya waktu terbaik seseorang untuk menikah tidak dibatasi oleh usia biologisnya, tetapi kematangan dan kemantapan hatinya untuk siap memasuki pernikahan. Motivasi seseorang untuk menikah lebih menentukan kualitas pernikahannya daripada usia saat ia menikah. Pernikahan yang berhasil bukan terjadi hanya karena seseorang merasa kesepian, merasa tertekan oleh penilaian keluarga dan orang di sekitarnya, atau merasa tidak mampu berdiri sendiri (memiliki self-esteem yang rendah, membutuhkan pengakuan dan penerimaan dari orang lain). Justru pernikahan yang baik terjadi pada dua orang yang sebenarnya mampu berdiri sendiri, tetapi memutuskan untuk berkomitmen dan bersatu membentuk sebuah keluarga. Pada orang-orang yang menikah karena membutuhkan topangan, tentu akan menaruh ekspektasi tinggi yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan dirinya. Namun jika pernikahan dilakukan oleh orang-orang yang sebenarnya mampu berdiri sendiri, ia tidak lagi menaruh harapan yang egois dalam pernikahannya; sebaliknya, ia justru lebih berorientasi untuk membahagiakan pasangannya melalui pernikahan itu.

Jadi, menikahlah ketika Anda sanggup berdiri sendiri, berapa pun usia Anda saat itu.

 

Artikel dipublikasikan dalam buletin Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara, volume 2, no. 15. 

Acuan:
DeMaris, A., & Rao, K. V. (1992). Premarital cohabitation and subsquent marital stability in the United States: A reassessment. Journal of Marriage and the Family, 54, 178-190.
Hanes, S. (2014, Mar 10). Best predictor of divorce? age when couples cohabit, study says. The Christian Science Monitor Retrieved from http://search.proquest.com/docview/1505399866?accountid=25704
Heaton, T. B. (2002). Factors contirbuting to increasing stability in the United States. Journal of Family Issues, 23(3), 392-409.
Rodrigues, A. E., Hall, J. H., & Fincham, F. D. (2007). What predicts divorce and relationship dissolution. Dalam M. A. Fine & J. H. Harvey (Eds). Handbook of Divorce and Relationship Dissolution (hal 85-112). New York, NY: Taylor & Francis.
Wolfinger, N. H. (2015). Want to avoid divorce? Wait to get married, but not too long. Diunduh dari http://family-studies.org/want-to-avoid-divorce-wait-to-get-married-but-not-too-long/
Advertisements

Homoseksual: Salahkah?

Rainbow Flag

Rainbow Flag / Bendera Pelangi, Lambang dari LGBT yang dipercaya sebagai persamaan hak dan penerimaan keberbedaan sebagai hal yang memperindah

26 Juni 2015 menjadi hari yang paling bersejarah, terutama bagi orang-orang yang mengalami orientasi homoseksual, atau lebih dikenal dengan istilah LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender). Pada hari itu, US Supreme Court memutuskan kesamaan hak bagi kelompok LGBT untuk dapat menikah dan dilindungi secara legal.

Isu ini terus menjadi isu yang kontroversial, terlihat dari hanya selisih satu suara antara para hakim konstitusi yang membuat keputusan: 5 orang menyatakan setuju dan 4 orang lainnya menyatakan tidak setuju. Keputusan ini juga dapat dikatakan menjadi salah satu keputusan paling kontroversial yang dirasakan warga Amerika. Bukan hanya itu, implementasi dari keputusan itu juga dirasakan di berbagai negara lainnya, termasuk Indonesia, mengingat Amerika sering dianggap sebagai negara yang paling berpengaruh, termasuk dalam menentukan ‘peradaban’ manusia.

Pasca hari itu, lebih banyak orang yang dapat secara terbuka mengakui orientasi seksualnya, termasuk di Indonesia. Mulai banyak orang dari kelompok LGBT yang melakukan coming out (mendeklarasikan diri tentang status orientasi homoseksualnya) kepada orang lain. Beberapa orang menganggap ini sebagai hal wajar karena mereka perlu mendapat hak yang sama dengan orang-orang lainnya, sementara beberapa lainnya menganggap ini sebagai suatu indikasi degradasi moral, bahkan ada pula yang mengaitkannya dengan hal yang lebih spiritual: sebagai tanda-tanda zaman akhir.

Siapapun memang bebas menentukan pendapat dan posisinya. Namun penting bagi kita untuk mempertimbangkan beberapa data dan fakta sebelum mengekspresikan pendapat, sehingga apa yang dapat disampaikan, dapat dipertanggungjawabkan.

Berikut beberapa hal terkait LGBT yang perlu kita ketahui.

#1. Dalam dunia psikologi, LGBT tidak lagi dianggap sebagai gangguan psikologis.

Sejak diterapkannya DSM-III-R (Diagnosis and Statistical Manual for Mental Disorders), LGBT tidak lagi dianggap sebagai gangguan psikologis. Isu yang berkembang mengatakan bahwa banyak perumus DSM yang juga kelompok LGBT sehingga memperjuangkan agar LGBT tidak lagi dianggap sebagai psikopatologi. Walau demikian, orang-orang yang mengalami gangguan identitas terkait dengan orientasi seksual sebenarnya masih terklasifikasi dalam jenis gangguan tertentu (dalam DSM-V disebut body dysphoria; merasa berada di dalam tubuh yang salah, sehingga menyukai sesama jenis). Beberapa kalangan menyebutkan bahwa dasar penentuan gangguan psikologis menurut DSM ialah prevalensi statistik (seberapa banyak orang yang mengalami gangguan tersebut) dalam masyarakat, sehingga jika jumlahnya sudah semakin banyak, maka yang dianggap ‘tidak normal’ menjadi ‘normal’.  Tetapi sesungguhnya, bisa juga yang terjadi sebaliknya: karena dianggap tidak merupakan gangguan psikologis, maka banyak orang-orang yang bereksperimen dengan melakukan hubungan sesama jenis dan akhirnya menjadi homoseksual.

#2. LGBT tidak lebih buruk dari fobia atau depresi, namun perlakuan orang lain membuatnya seolah-olah menjadi lebih buruk.

Ini yang seringkali keliru dalam masyarakat. Kaum homoseksual seringkali mendapat stigma yang begitu negatif, sehingga seolah-olah mereka menjadi warga kelas dua, orang-orang terkutuk, dan mendapat perlakuan yang tidak manusiawi. Dalam dunia psikologi sosial, dikenal istilah ostracism (suatu bentuk diskriminasi dan pengabaian yang ekstrim kepada orang lain). Ostracism merupakan bentuk ‘sanksi sosial’ yang sangat kejam, karena efeknya sangat besar bagi kondisi psikologis korbannya (mulai dari depresi bahkan ada yang hingga melakukan upaya bunuh diri). Agaknya itulah yang dialami oleh kelompok LGBT. Tekanan dan penolakan sosial begitu kuat sehingga menimbulkan berbagai manifestasi gejala psikologis lain yang menyertai kelompok LGBT. Padahal, mereka jelas adalah orang normal yang sangat dapat berfungsi secara sosial, interpersonal, dan intelektual, hanya fungsi seksual dan persepsi hubungan romantisnya saja yang berbeda dengan kebanyakan orang pada umumnya. Mereka jelas tidak lebih parah dari orang yang depresi, fobia, atau gangguan psikologis lainnya, namun perlakuan masyarakat terhadapnya sangat berlebihan sehingga membuat mereka seakan-akan jauh lebih parah. Pertanyaan sederhana yang dapat membantu memetakan seberapa persepsi kita terhadap kaum LGBT: “mana yang lebih baik (harus pilih salah satu): memiliki saudara yang mengalami adiksi narkoba atau yang homoseksual?”

#3. Mayoritas orang dengan homoseksual adalah korban, bukan pelaku.

Persepsi seseorang tentang seksual dan kenikmatan seksual berkembang melalui pengalaman di masa perkembangannya. Menurut teori psikoanalisa, usia sebelum akil balik sangat menentukan sisa hidup orang tersebut, termasuk bagaimana orientasi seksualnya berkembang. Namun dalam kenyataannya, homoseksual juga dapat berkembang karena pengalaman traumatis yang terjadi di masa dewasa orang itu (walau perkembangan yang terjadi di masa dewasa cenderung lebih mudah dikembalikan orientasinya ke heteroseksual). Beberapa cerita dari kaum homoseksual mengekspresikan bagaimana hilangnya peran salah satu orangtua, kejadian pemerkosaan dengan sesama jenis di masa kecil, atau penolakan berlebihan di masa remaja menjadi sebab yang membuatnya mengembangkan orientasi homoseksual. Namun anehnya, dalam masyarakat, mereka yang sebenarnya korban seringkali dianggap sebagai pelaku sehingga ditimpali dengan sanksi sosial yang berlebihan.

Di sisi lain, bagi kelompok LGBT, persepsi sebagai korban seringkali dianggap sebagai dalih yang membenarkan perilakunya, sehingga membuatnya terus mengembangkan orientasi homoseksualnya. Tentu ini juga merupakan hal yang keliru, karena ‘seseorang bisa saja merasa masa kininya merupakan akibat dari masa lalunya, tetapi tidak boleh menyerahkan masa depannya sebagai akibat dari masa lalunya!’. Saya sangat percaya perjuangannya sangat besar dan seringkali merupakan perjuangan seumur hidup, tetapi bukan menjadi hal yang tidak mungkin jika disertai dengan kebulatan tekad dan komitmen untuk memeluk nilai-nilai hidup yang sesuai dengan filosofi spiritualnya.

#4. Homoseksual dapat dikontrol.

Ini yang terus menjadi pertanyaan bagi mereka yang menemukan dirinya mengalami homoseksual, namun tidak mau menerima dirinya demikian. Pertanyaan yang lantas muncul ialah: “dapatkah saya disembuhkan?”. Jawabannya, tidak. Homoseksual bukan penyakit layaknya influenza atau diare sehingga perlu disembuhkan. Mereka tidak pernah sakit, sehingga jelas tidak pernah disembuhkan. Namun mereka memiliki orientasi yang menyimpang, sehingga penting untuk diluruskan atau dikembalikan. Namun, kunci utamanya ialah kesadaran diri bahwa penyimpangan orientasi seksual itu bukan hal yang tepat.

Ini penting karena cukup banyak dari mereka yang menuntut persamaan hak dengan menganggap bahwa setiap orang memiliki hak untuk berekspresi, termasuk mengekspresikan kenikmatan seksual melalui orientasi homoseksualnya. Perdebatan ini biarlah menjadi pergumulan hati mereka, tidak perlu ditentang maupun dipaksakan karena toh pemaksaan tidak pernah berujung pada hal yang diharapkan. Namun penting sekali untuk diberitahu mengenai fakta yang sebenarnya terjadi: bahwa homoseksual bukan merupakan natur awal manusia, jarang sekali orang yang ditemukan dilahirkan dengan homoseksual, dan bahwa homoseksual dapat dikontrol.

Upaya intervensi psikologis untuk membantu orang yang mengalami homoseksual dan ingin mengubah orientasi seksualnya bermacam-macam, ada berbagai terapi yang dapat diterapkan dengan tingkat efektivitas yang beragam tergantung dari kliennya. Namun, sekali lagi, kunci utamanya ialah kesadaran diri akan kondisi saat ini, penerimaan akan peristiwa kurang menyenangkan yang mungkin pernah terjadi di masa lalu, serta kebulatan tekad untuk berubah. Orang-orang yang mengalami homoseksual di masa dewasa (setelah remaja) biasanya lebih mudah untuk diubah daripada mereka yang mulai mengembangkan homoseksual di masa remajanya. Wujud perubahan pasca terapi pun beragam, ada yang sampai mampu menjadi heteroseksual, ada pula yang menganggapnya sebagai perjuangan seumur hidup dengan melawan godaan homoseksual dan tidak mengembangkan orientasi heteroseksual. Tentu, di balik segala upaya terapi yang ada, upaya intervensi paling mudah ialah dengan meminta klien menerima kondisinya saat ini dan menumbuhkan kepercayaan diri sebagai orang dengan homoseksual. Namun, saya percaya ini bukan cara yang bijaksana, terutama apabila klien sebenarnya menemukan bahwa hal tersebut adalah hal yang salah bagi dirinya.

 

Apakah homoseksual salah? Seringkali saya ditanyakan pertanyaan ini. Bagi saya, lebih penting untuk menjawab bagaimana kita mempersepsikan mereka yang mengalami homoseksual, karena pertanyaan benar atau salah membutuhkan pedoman, dan mungkin beberapa orang memiliki pedoman yang berbeda dengan orang lain. Sebagai orang yang percaya dengan keberadaan Tuhan, tentu saya dapat mengatakan hal tersebut salah karena tidak berkenan di mata Tuhan. Namun, kesalahan dari homoseksual tidak pernah dapat menjadi alasan bagi kita untuk mendiskreditkan mereka, karena sejatinya mereka adalah korban dan kebanyakan dari mereka tidak menginginkan kondisi demikian. Begitu pula sebaliknya, bagi mereka yang mengalami homoseksual, posisi sebagai korban dan kesadaran bahwa hal tersebut adalah salah menurut kacamata agamanya tidak boleh menjadikan alasan untuk diri berpasrah dan ‘menikmati kesalahannya’.

Memperbaiki kondisi homoseksual memerlukan perjuangan dari dua belah pihak. Dari masyarakat, berhentilah menolak mereka karena mereka bukan orang yang begitu keji. Mulailah anggap mereka sebagai korban yang sebenarnya mungkin ingin berubah dan mungkin saja akan dapat berubah dengan penerimaan atas diri mereka. Anda boleh membenci perilakunya, tetapi justru Andalah yang menjadi salah ketika membenci pelakunya. Bagi mereka yang mengalami homoseksual, percayalah bahwa Anda selalu memiliki hak untuk memilih masa depan Anda melalui apa yang Anda lakukan hari ini.

“If you want to change attitude, try to start to change your behavior.”

– William Glasser