Tag Archives: konsultasi psikologi gading serpong

Benarkah Menikah Pilihan Hidup? Menilik Fenomena Lajang di Indonesia

“Potong bebek angsa, masak di kuali, jomblo udah lama, nyesek tiap hari. Galau ke sana, galau ke sini, lalalalala…”

Begitu potongan lirik yang sudah dipelintir oleh kalangan lajang di Indonesia. Masih banyak lagi gambar (yang sering disebut MEME ~ Bahasa Inggris dari semboyan berbasis budaya) yang menggambarkan lika-liku kehidupan para lajang, yang populernya disebut jomblo. Komunitas para lajang di Jakarta bersatu dalam sebuah grup di dunia maya, menamakan diri sebagai Dewan Kesepian Jakarta. Bahkan di Bandung, Kang Emil mendedikasikan sebuah taman untuk para lajang, yang diberi nama Taman Jomblo.

Menikah memang pilihan, sehingga yang tidak menikah tidak seharusnya mendapat sorotan negatif. Namun di Indonesia, harus diakui bahwa sebagian besar masyarakat masih menganggap pernikahan sebagai sebuah kesuksesan tertinggi, sehingga mereka yang gagal menikah di akhir usia 20 tahunan, apalagi sudah memasuki usia 30 tahunan, juga dianggap gagal dalam seluruh hidupnya. Augustina Situmorang melakukan penelitian kualitatif terhadap perempuan lajang di Yogyakarta pada tahun 2005. Hasilnya, perempuan lajang di usia 30 tahunan mengaku mendapat stigma negatif dari teman dan keluarga sehingga membuat mereka merasa didiskriminasi. Mereka sering dianggap ‘gila karier’, egois, dan terlalu selektif memilih pasangan. Menikah memang pilihan, tetapi bagi dewasa muda di usia 30 tahunan, menikah sepertinya merupakan satu-satunya pilihan.

Mengapa Jomblo?

Sama seperti menikah adalah pilihan, sebenarnya menjadi lajang seumur hidup pun bisa menjadi pilihan. Beberapa orang memilih melajang seumur hidup, walau ada beberapa lainnya yang sebenarnya sangat ingin, namun tidak dapat, menikah. Dibandingkan dengan mereka yang memutuskan melajang seumur hidup, tentu para lajang yang sebenarnya ingin menikah lebih sulit dalam menghadapi tekanan dari masyarakat. Supaya lebih mudah membahasnya, sebut saja ada dua kelompok lajang, lajang karena pilihan dan karena situasi.

Kemajuan teknologi dan pergeseran gaya hidup ditengarai menjadi alasan mengapa seseorang memilih menjadi lajang. Sejak tahun 1800-an, berkembang paham bahwa seks merupakan misi utama seseorang menikah dan pernikahan merupakan gerbang utama menikmati seks secara legal. Ketika seks dapat dengan mudah diperoleh melalui internet atau cohabitation (atau kumpul kebo), yang sekarang sudah semakin lumrah di masyarakat kita, maka pernikahan mulai ditinggalkan. Kesulitan mengurus anak dan sederetan masalah perkawinan yang berujung pada perceraian juga menjadi alasan mengapa sebagian lajang memilih untuk menghindari pernikahan.

Namun demikian, kalau melihat nuansa humor dari meme tentang jomblo yang berkembang dalam masyarakat, sepertinya lebih banyak orang yang menjadi lajang karena dipaksa oleh situasi.

Jumlah Jomblo Berbanding Lurus dengan Kemajuan Industri

Merangkum beberapa hasil survei dan penelitian yang sudah dilakukan, lajang karena situasi bisa disebabkan karena kemajuan industri di suatu negara. Dalam ulasannya, seorang profesor di bidang Sosiologi dari University of Pennsylvania, Frank Furstenberg, mengatakan bahwa negara yang sedang berkembang ditandai dengan kesetaraan gender dan meningkatnya kebutuhan sumber daya manusia untuk memutar roda-roda industri. Konsekuensinya, jumlah perempuan dengan tingkat pendidikan tinggi dan membangun karier menjadi semakin banyak. Uniknya, statistik menunjukkan bahwa jenjang karier rata-rata perempuan cenderung menunjukkan tren yang meningkat, sedangkan pada laki-laki cenderung stagnan. Akibatnya, lebih banyak perempuan yang menghabiskan masa mudanya meniti jenjang karier sehingga ketika waktunya ia untuk menikah, di samping ia kekurangan waktu untuk bersosialisasi dan membangun hubungan romantis, ekspektasinya pun meningkat untuk mencari teman hidupnya. Bayangkan, tentu akan menjadi sorotan bagi teman dan keluarga jika seorang perempuan dengan pendidikan master bekerja sebagai manager di sebuah perusahaan, menikah dengan seorang lelaki tamatan sarjana yang hanya menjadi staf saja. Akhirnya, situasi ini membuat semakin sedikit ‘stok’ yang tersedia bagi perempuan untuk mencari lelaki yang sepadan, membuatnya menjadi semakin berpeluang menjadi lajang karena situasi.

 

Lelaki Lajang Tetap Diuntungkan 

Meski kenaikan jumlah lajang terjadi pada lelaki dan perempuan, dalam masyarakat, lelaki tetap menjadi kaum yang diuntungkan. Buktinya, kerap kita dengar istilah ‘perawan tua’, tetapi istilah ‘perjaka tua’ rasanya kurang populer, bahkan hampir tidak pernah disebutkan. Mengapa demikian?

Teori psikologi evolusi memberikan jawaban. Di awal usia 20 tahun, seorang perempuan lajang boleh jadi lebih bahagia daripada lelaki lajang. Di masa itu, penampilan fisik yang masih menawan serta kepercayaan diri akan suburnya fungsi reproduksi membuat perempuan merasa memiliki masa depan yang cerah dengan banyak pilihan lelaki yang potensial menjadi pasangan hidupnya. Namun, di usia 30 tahunan, saat penampilan fisik mulai kurang menawan, lingkaran pergaulan sosial semakin sempit, dan fertilitas yang semakin menurun seiring bertambahnya usia, membuat perempuan kurang percaya diri. Akibatnya, perempuan yang masih lajang hingga usia 30 tahunan menjadi sangat rentan dianggap terlalu selektif memilih pasangan, terlalu memikirkan kesuksesan karier, bahkan gagal dalam pergaulan. Sebaliknya, pada lelaki, kemampuan untuk reproduksi akan cenderung sama sejak ia remaja hingga tua, sehingga seolah-olah status lajang tidak pernah menetap pada dirinya. Karena tidak ada batasan waktu, lelaki yang setelah lulus tidak langsung menikah, melainkan meniti karier hingga usia 30 tahunan, sering dikonotasikan positif oleh masyarakat sebagai lelaki yang mapan.

Salahkah Jomblo?

Di balik senyuman atas lelucon yang dibuat oleh para jomblo mengenai statusnya, air mata tetap membasahi pipi sebagian dari mereka, terutama yang menjadi lajang karena situasi. Hasil survei Badan Pusat Statistik tahun 2013 memang menunjukkan bahwa mereka yang tidak menikah lebih berbahagia daripada yang menikah. Namun sayangnya, Badan Pusat Statistik tidak membedakan mereka yang tidak menikah karena pilihan atau karena situasi. Di samping itu, senyum juga seringkali menjadi topeng favorit bagi para lajang karena situasi agar tidak dipersalahkan oleh karena statusnya. Dengan tampak seolah-olah bahagia, mereka berharap orang-orang sekitar berhenti memberikan penilaian negatif terhadapnya. Namun, pura-pura bahagia sebenarnya terasa lebih menyedihkan daripada kondisi tidak bahagia itu sendiri. Berbagai penelitian mengkonfirmasi bagaimana para lajang, terutama yang menjadi lajang karena situasi, lebih tidak berbahagia, lebih rentan terhadap depresi, serta kurang puas dengan hidupnya. Jika kita menelusuri laman mesin pencari Google, juga tidak sulit untuk menemukan kasus-kasus bunuh diri yang dilakukan oleh para lajang.

Oleh karenanya, sudah saatnya kita berhenti menilai kualitas seseorang hanya berdasarkan status perkawinannya, karena menikah tidak dapat terjadi berdasarkan keinginan satu orang saja, dan memaksakan diri untuk menikah hanya menciptakan kebahagiaan semu yang sangat sementara. Berhentilah bertanya ‘kapan kawin’, karena itu bukan lagi pertanyaan yang menunjukkan kepedulian. Di negara Barat, pertanyaan tentang pernikahan dan usia merupakan pertanyaan yang sangat tabu untuk ditanyakan. Saya pikir, dalam hal ini, penting bagi kita untuk menjaga privasi dan menghargai pilihan dan keadaan sesama, dengan tanpa meninggalkan unsur-unsur keramahtamahan dan kolektivitas sebagai cerminan budaya kita. Tempatkanlah menikah sebagai pilihan, dan bukan satu-satunya pilihan.

Advertisements

Karakter Bagian 2: Karakter & Berlian

Ada satu definisi menarik tentang karakter yang dikemukakan dalam characterfirst.com, seperti ini:

“Character is like a diamond; the ultimate goal is to develop the radiance of character that is so blended together that many qualities may sparkle in the light of a single deed.”

Dari berbagai pengertian yang ada mengenai karakter, sepertinya karakter yang dianalogikan dengan berlian ini benar-benar tepat menggambarkan karakter. Karakter tidak pernah bisa dilihat, tetapi manifestasinya dalam perilaku tampak bahkan hanya melalui satu tindakan kecil. Jadi, orang-orang yang berkarakter kuat akan menunjukkan kilauan karakternya bahkan melalui suatu tindakan sederhana yang dilakukan.

Berbicara mengenai berlian, ternyata sangat menarik untuk mencermati bagaimana sebuah berlian terbentuk serta relevansinya dengan pembentukan karakter. Kira-kira ada empat hal penting yang menggambarkan pembentukan sebuah berlian yang sepertinya serupa dengan pembentukan karakter seseorang.

#1. Berlian berasal dari karbon.

Tentu tidak ada orang yang mau membeli karbon dengan harga semahal berlian. Karbon seringkali dianggap jelek, hitam, kotor, dan seringkali dianggap sebagai benda beracun. Jadi, berlian tidak ada dengan sendirinya. Ia berasal dari sesuatu yang tidak berharga, tetapi melalui proses tertentu, ia dapat menjadi sesuatu yang sangat bernilai. Begitu pula dengan karakter. Seseorang yang berkarakter tidak dilahirkan dari sananya menjadi berkarakter. Ia harus melalui proses dan terpaan dalam kehidupan untuk membuat karakternya teruji. Menjadi pribadi yang berkarakter perlu usaha, dan seringkali usahanya lebih keras daripada apa yang kita pernah pikirkan!

#2. Berlian ditemukan di kedalaman 100-200 km dari permukaan Bumi.

Sebagai barang yang sangat berkilau dan berharga, berlian tidak berada di tempat yang mudah terlihat oleh orang lain; namun keberadaannya dicari dan dihargai oleh orang lain. Sama halnya dengan karakter, kita tidak dapat melihat karakter seseorang dengan mudah karena ia tidak tampak sebagaimana kita menilai cantik / tampannya seseorang. Karakter terletak di kedalaman pribadi seseorang, namun keberadaannya pasti diketahui, diperhitungkan, dan dihargai oleh orang lain.

#3. Untuk membentuk berlian, dibutuhkan jutaan tahun, dengan suhu melebihi 1.000°C, dan tekanan sekitar 50 kilobar.

Suhu yang panas dan tekanan yang besar tentu sesuatu yang menimbulkan ketidaknyamanan. Namun ketidaknyamanan itu berbuah sesuatu yang tanpanya kita tidak dapat menghasilkannya. Orang-orang yang menjadi panutan karena karakternya yang tajam dan terpuji ialah mereka yang sudah melalui masalah yang besar dan luar biasa di dalam hidupnya, dan ia memilih untuk bertahan dan menghadapinya. Banyak orang yang berpikir untuk menghindari masalah, play safe, dan mengkondisikan lingkungannya sebisa mungkin agar terbebas dari tantangan. Orang-orang seperti ini memang terlihat memiliki jalan yang lurus dalam hidupnya, tenang, dan selalu senang; namun sebenarnya ia sedang memilih untuk menyimpan karbon dalam hidupnya dan tidak pernah berniat untuk menjadikannya berlian.

#4. berlian keluar ke permukaan bumi saat letusan gunung berapi.

Panas yang begitu terakumulasi membuat berlian disemprotkan dari dalam Bumi. Sama halnya dengan berlian, karakter seseorang paling tampak ketika ia berhadapan dengan masalah yang sangat pelik, yang menuntut pengambilan keputusan yang kritis. Situasi ketika masalah itu ‘harus meledak’, di situlah karakter seseorang tampak. Tidak sulit menjadi orang baik dalam situasi yang menyenangkan, tetapi dalam situasi yang sangat menekan, sulit mencari orang yang tetap baik dan ‘berkilau’ kepribadiannya.

Menjadi pribadi yang berkarakter butuh usaha, butuh perjuangan, dan butuh ‘masalah’. Terkadang hal itu begitu berat hingga kita merasa ingin menghindarinya, memaksa orang lain berubah untuk kita, dan mengkondisikan lingkungan agar tidak menuntut kita begitu besarnya. Namun sejatinya, upaya-upaya demikian hanya merupakan upaya yang menghalangi kita untuk memurnikan karakter kita. Berbahagialah jika saat ini masih ada masalah yang kita hadapi, masih ada situasi yang seolah-olah terlalu menekan, dan hadapilah. Bertahan, dan jangan menyerah, hingga suatu saat orang melihat kilauan yang indah dalam diri kita.

Karakter Bagian 1: Beda Karakter, Kepribadian, Sifat, dan Temperamen

Kata “karakter” lebih populer dikenal dalam psikologi populer, sementara pembahasannya masih sangat jarang ditemukan dalam penelitian-penelitian ilmiah psikologi maupun buku-buku teks dalam bidang psikologi. Banyak orang yang menemukan bahwa kata ini ambigu dengan kata-kata lain yang serupa dengan itu, sebut saja: kepribadian, temperamen, atau sifat. Keempat istilah ini memang agak susah untuk dibedakan, namun sebetulnya memiliki penekanan yang berbeda-beda.

“Karakter” berasal dari Bahasa Yunani “Kharakter” yang berarti melekat erat pada sebuah batang pohon. Ketika kita mengukir sebuah simbol atau gambar tertentu pada batang pohon, maka gambar itu tidak mudah terhapus dan akan melekat sepanjang pohon itu tumbuh. Begitu pula dengan karakter, merupakan kombinasi sifat-sifat yang dimiliki seseorang, yang melekat di dalam dirinya dan tidak mudah dihapus atau diubahkan.

Untuk memahami perbedaan karakter dengan kepribadian (personality), menjadi menarik untuk menyimak sejarah penelitian masa lalu mengenai karakter. Pada tahun 1920an, sebuah studi dilakukan oleh Hersthon, May, dan kawan-kawan menemukan bahwa tidak ditemukan konsistensi antara perilaku manusia dalam situasi yang sama. Artinya, perilaku manusia yang sesungguhnya tidak ditentukan dari sifat atau karakter yang ada di dalam dirinya, karena dalam berbagai percobaan ditemukan bahwa manusia yang sama tidak menunjukkan karakter yang sama dalam berbagai percobaan. Itulah sebabnya, pada masa itu para ahli psikologi tidak lagi menggunakan kata karakter, melainkan menggunakan kata ‘kepribadian’ (personality) untuk mempelajari tentang moral, etika, maupun sifat-sifat lainnya. Eksperimen lebih lanjut yang dilakukan pada tahun 1940-an juga mengkonfirmasi temuan ini: bahwa perilaku manusia bukan ditentukan dari apa yang ada di dalam diri manusia, melainkan berdasarkan situasi yang dihadapkan pada manusia itu.

Namun demikian, penelitian yang dilakukan oleh Paul Bloom pada tahun 2000-an menunjukkan hasil yang berbeda. Hasil studinya menunjukkan bahwa bahkan pada bayi berusia 6 bulan sekalipun, seseorang sudah memiliki karakter dan pemahaman akan moral. Hasil penelitian ini seolah membuka kembali pintu yang telah lama tertutup mengenai karakter. Oleh karenanya, arus psikologi positif saat ini sudah mulai kembali banyak meneliti tentang karakter.

Dengan pemahaman ini, sesungguhnya karakter dan kepribadian merupakan dua istilah yang serupa. Namun, beberapa ahli berusaha untuk memberikan penekanan yang berbeda mengenai istilah ini. Hasil kesimpulan dari berbagai sumber mengenai perbedaan karakter, kepribadian, temperamen, dan sifat, ialah:

  • Karakter merupakan kombinasi sifat-sifat dalam diri seseorang yang menjadikannya unik, berdasarkan apa yang ia sudah miliki sejak lahir (genetik) maupun apa yang ia pelajari dalam hidupnya (lingkungan). Jadi, karakter dapat juga disebut sebagai learned behavior. 
  • Kepribadian merupakan kombinasi sifat-sifat dalam diri seseorang yang mengarahkannya untuk berpikir, berperasaan, dan bertingkah laku tertentu yang khas dalam berhubungan dengan lingkungannya. Kepribadian berasal dari kata Persona, yang berarti ‘topeng’. Namun bukan berarti bahwa kepribadian merupakan cara seseorang menutupi identitas dirinya. Kata persona dalam Bahasa Yunani lebih merujuk pada simbol yang merepresentasikan identitas seseorang; ‘alat’ yang digunakan oleh seseorang untuk memperkenalkan dirinya pada dunia. Lickerman mengatakan bahwa kepribadian lebih bersifat menetap dan dipengaruhi oleh faktor keturunan, sedangkan karakter lebih terbentuk karena pembelajaran terhadap nilai dan kepercayaan.
  • Temperamen ialah kumpulan sifat seseorang yang diperoleh sejak ia lahir. Aelius Galenus (Galen), seorang dokter pada tahun 120an, telah memperkenalkan empat macam cairan dalam tubuh yang dipercaya menentukan temperamen seseorang, yakni: Melankolis, Sanguinis, Koleris, dan Plegmatis. Teori ini kemudian dijabarkan dengan lebih komprehensif oleh Hippocrates.
  • Sifat adalah satu karakteristik spesifik dalam diri seseorang dan ketika dikombinasikan antara yang satu dengan lainnya, membuat seseorang menjadi pribadi yang unik dan membentuk identitas orang tersebut.

Berdasarkan perbedaan di atas, karakter sebenarnya lebih terkait dengan nilai-nilai serta kepercayaan seseorang. Itulah sebabnya hingga kini istilah karakter lebih populer dalam ilmu tentang pengembangan diri, terutama yang terkait dengan aspek spiritual seseorang, dibandingkan dengan dalam ilmu psikologi murni.

 

Tahun baru, Masalah baru?

GAMBAR

Menyongsong tahun yang baru, setiap individu memiliki respon yang bervariasi. Ada yang bersemangat, sedih, takut, cemas, dan bahkan merasa bahwa semakin hari hidupnya menjadi semakin tidak bermakna. Hal ini tidak jarang dirasakan oleh mereka yang mengalami beban pergumulan yang berat, terutama jika masalahnya tidak kunjung selesai dari tahun ke tahun.

Pada dasarnya, setiap manusia, sepanjang ia masih bernapas tidak pernah lepas dari apa yang dinamakan dengan “masalah” dalam hidupnya. Ketika seseorang masih “diberikan” masalah, itu menjadi tanda bahwa ia masih “hidup”. Yang menjadi krusial dalam hidup manusia bukanlah jenis masalah apa yang dihadapi, seberapa banyak dan berat masalah yang dihadapi, namun lebih kepada bagaimana mengatasi masalah-masalah yang muncul dalam kehidupan. Suatu pepatah mengatakan, ”We’re not defined by our trials, but by how we face them.”

Cara kita menyikapi suatu masalah (dari masalah yang sangat sepele hingga masalah yang dikategorikan sangat berat) dalam hidup dapat menentukan tingkat kesehatan mental kita. Orang yang mudah melihat sisi positif dan menghadapi masalahnya dengan cara-cara efektif (fokus pada inti masalah bukan kepada emosi dan orang yang terlibat, terbuka, mau mendengarkan, berpikir ke depan, dsb) cenderung memiliki mental yang lebih sehat dibandingkan dengan orang yang sulit memandang hal positif, mudah menyalahkan diri sendiri atau orang lain, dan bahkan sulit mencari jalan keluar yang efektif karena senang berlarut-larut dalam emosi yang negatif. Seseorang yang sehat mentalnya memiliki kemampuan penyesuaian diri yang baik terhadap lingkungan maupun masalah yang terjadi dalam lingkungannya karena hampir bisa dipastikan tidak ada lingkungan yang sepenuhnya sama dan mampu memenuhi tuntutan masing-masing individu.

Oleh karenanya, dalam menghadapi tahun yang baru, hendaklah kita tidak lagi mengkhawatirkan masalah apa yang akan terjadi nantinya, tapi lebih perlu untuk mengkhawatirkan tentang diri kita sendiri; apakah kita sudah memiliki kesiapan diri serta cara penyelesaian yang efektif ketika diperhadapkan pada suatu masalah tertentu? Jika ya, kita pastinya akan menjadi orang yang memiliki mental lebih kuat dan sehat dari hari ke hari. Jika tidak, kita dapat menjadi individu dengan mental yang semakin lemah dan rapuh seiring berjalannya waktu. Kesehatan mental yang semakin buruk lama kelamaan dapat menggerogoti kesehatan fisik kita karena keduanya saling memberikan pengaruh satu sama lain, dan tentunya bukan itu yang kita harapkan di sepanjang sisa kehidupan kita saat ini.

“What we achieve inwardly, will change outer reality.”-Plutarch

 

Homoseksual: Salahkah?

Rainbow Flag

Rainbow Flag / Bendera Pelangi, Lambang dari LGBT yang dipercaya sebagai persamaan hak dan penerimaan keberbedaan sebagai hal yang memperindah

26 Juni 2015 menjadi hari yang paling bersejarah, terutama bagi orang-orang yang mengalami orientasi homoseksual, atau lebih dikenal dengan istilah LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender). Pada hari itu, US Supreme Court memutuskan kesamaan hak bagi kelompok LGBT untuk dapat menikah dan dilindungi secara legal.

Isu ini terus menjadi isu yang kontroversial, terlihat dari hanya selisih satu suara antara para hakim konstitusi yang membuat keputusan: 5 orang menyatakan setuju dan 4 orang lainnya menyatakan tidak setuju. Keputusan ini juga dapat dikatakan menjadi salah satu keputusan paling kontroversial yang dirasakan warga Amerika. Bukan hanya itu, implementasi dari keputusan itu juga dirasakan di berbagai negara lainnya, termasuk Indonesia, mengingat Amerika sering dianggap sebagai negara yang paling berpengaruh, termasuk dalam menentukan ‘peradaban’ manusia.

Pasca hari itu, lebih banyak orang yang dapat secara terbuka mengakui orientasi seksualnya, termasuk di Indonesia. Mulai banyak orang dari kelompok LGBT yang melakukan coming out (mendeklarasikan diri tentang status orientasi homoseksualnya) kepada orang lain. Beberapa orang menganggap ini sebagai hal wajar karena mereka perlu mendapat hak yang sama dengan orang-orang lainnya, sementara beberapa lainnya menganggap ini sebagai suatu indikasi degradasi moral, bahkan ada pula yang mengaitkannya dengan hal yang lebih spiritual: sebagai tanda-tanda zaman akhir.

Siapapun memang bebas menentukan pendapat dan posisinya. Namun penting bagi kita untuk mempertimbangkan beberapa data dan fakta sebelum mengekspresikan pendapat, sehingga apa yang dapat disampaikan, dapat dipertanggungjawabkan.

Berikut beberapa hal terkait LGBT yang perlu kita ketahui.

#1. Dalam dunia psikologi, LGBT tidak lagi dianggap sebagai gangguan psikologis.

Sejak diterapkannya DSM-III-R (Diagnosis and Statistical Manual for Mental Disorders), LGBT tidak lagi dianggap sebagai gangguan psikologis. Isu yang berkembang mengatakan bahwa banyak perumus DSM yang juga kelompok LGBT sehingga memperjuangkan agar LGBT tidak lagi dianggap sebagai psikopatologi. Walau demikian, orang-orang yang mengalami gangguan identitas terkait dengan orientasi seksual sebenarnya masih terklasifikasi dalam jenis gangguan tertentu (dalam DSM-V disebut body dysphoria; merasa berada di dalam tubuh yang salah, sehingga menyukai sesama jenis). Beberapa kalangan menyebutkan bahwa dasar penentuan gangguan psikologis menurut DSM ialah prevalensi statistik (seberapa banyak orang yang mengalami gangguan tersebut) dalam masyarakat, sehingga jika jumlahnya sudah semakin banyak, maka yang dianggap ‘tidak normal’ menjadi ‘normal’.  Tetapi sesungguhnya, bisa juga yang terjadi sebaliknya: karena dianggap tidak merupakan gangguan psikologis, maka banyak orang-orang yang bereksperimen dengan melakukan hubungan sesama jenis dan akhirnya menjadi homoseksual.

#2. LGBT tidak lebih buruk dari fobia atau depresi, namun perlakuan orang lain membuatnya seolah-olah menjadi lebih buruk.

Ini yang seringkali keliru dalam masyarakat. Kaum homoseksual seringkali mendapat stigma yang begitu negatif, sehingga seolah-olah mereka menjadi warga kelas dua, orang-orang terkutuk, dan mendapat perlakuan yang tidak manusiawi. Dalam dunia psikologi sosial, dikenal istilah ostracism (suatu bentuk diskriminasi dan pengabaian yang ekstrim kepada orang lain). Ostracism merupakan bentuk ‘sanksi sosial’ yang sangat kejam, karena efeknya sangat besar bagi kondisi psikologis korbannya (mulai dari depresi bahkan ada yang hingga melakukan upaya bunuh diri). Agaknya itulah yang dialami oleh kelompok LGBT. Tekanan dan penolakan sosial begitu kuat sehingga menimbulkan berbagai manifestasi gejala psikologis lain yang menyertai kelompok LGBT. Padahal, mereka jelas adalah orang normal yang sangat dapat berfungsi secara sosial, interpersonal, dan intelektual, hanya fungsi seksual dan persepsi hubungan romantisnya saja yang berbeda dengan kebanyakan orang pada umumnya. Mereka jelas tidak lebih parah dari orang yang depresi, fobia, atau gangguan psikologis lainnya, namun perlakuan masyarakat terhadapnya sangat berlebihan sehingga membuat mereka seakan-akan jauh lebih parah. Pertanyaan sederhana yang dapat membantu memetakan seberapa persepsi kita terhadap kaum LGBT: “mana yang lebih baik (harus pilih salah satu): memiliki saudara yang mengalami adiksi narkoba atau yang homoseksual?”

#3. Mayoritas orang dengan homoseksual adalah korban, bukan pelaku.

Persepsi seseorang tentang seksual dan kenikmatan seksual berkembang melalui pengalaman di masa perkembangannya. Menurut teori psikoanalisa, usia sebelum akil balik sangat menentukan sisa hidup orang tersebut, termasuk bagaimana orientasi seksualnya berkembang. Namun dalam kenyataannya, homoseksual juga dapat berkembang karena pengalaman traumatis yang terjadi di masa dewasa orang itu (walau perkembangan yang terjadi di masa dewasa cenderung lebih mudah dikembalikan orientasinya ke heteroseksual). Beberapa cerita dari kaum homoseksual mengekspresikan bagaimana hilangnya peran salah satu orangtua, kejadian pemerkosaan dengan sesama jenis di masa kecil, atau penolakan berlebihan di masa remaja menjadi sebab yang membuatnya mengembangkan orientasi homoseksual. Namun anehnya, dalam masyarakat, mereka yang sebenarnya korban seringkali dianggap sebagai pelaku sehingga ditimpali dengan sanksi sosial yang berlebihan.

Di sisi lain, bagi kelompok LGBT, persepsi sebagai korban seringkali dianggap sebagai dalih yang membenarkan perilakunya, sehingga membuatnya terus mengembangkan orientasi homoseksualnya. Tentu ini juga merupakan hal yang keliru, karena ‘seseorang bisa saja merasa masa kininya merupakan akibat dari masa lalunya, tetapi tidak boleh menyerahkan masa depannya sebagai akibat dari masa lalunya!’. Saya sangat percaya perjuangannya sangat besar dan seringkali merupakan perjuangan seumur hidup, tetapi bukan menjadi hal yang tidak mungkin jika disertai dengan kebulatan tekad dan komitmen untuk memeluk nilai-nilai hidup yang sesuai dengan filosofi spiritualnya.

#4. Homoseksual dapat dikontrol.

Ini yang terus menjadi pertanyaan bagi mereka yang menemukan dirinya mengalami homoseksual, namun tidak mau menerima dirinya demikian. Pertanyaan yang lantas muncul ialah: “dapatkah saya disembuhkan?”. Jawabannya, tidak. Homoseksual bukan penyakit layaknya influenza atau diare sehingga perlu disembuhkan. Mereka tidak pernah sakit, sehingga jelas tidak pernah disembuhkan. Namun mereka memiliki orientasi yang menyimpang, sehingga penting untuk diluruskan atau dikembalikan. Namun, kunci utamanya ialah kesadaran diri bahwa penyimpangan orientasi seksual itu bukan hal yang tepat.

Ini penting karena cukup banyak dari mereka yang menuntut persamaan hak dengan menganggap bahwa setiap orang memiliki hak untuk berekspresi, termasuk mengekspresikan kenikmatan seksual melalui orientasi homoseksualnya. Perdebatan ini biarlah menjadi pergumulan hati mereka, tidak perlu ditentang maupun dipaksakan karena toh pemaksaan tidak pernah berujung pada hal yang diharapkan. Namun penting sekali untuk diberitahu mengenai fakta yang sebenarnya terjadi: bahwa homoseksual bukan merupakan natur awal manusia, jarang sekali orang yang ditemukan dilahirkan dengan homoseksual, dan bahwa homoseksual dapat dikontrol.

Upaya intervensi psikologis untuk membantu orang yang mengalami homoseksual dan ingin mengubah orientasi seksualnya bermacam-macam, ada berbagai terapi yang dapat diterapkan dengan tingkat efektivitas yang beragam tergantung dari kliennya. Namun, sekali lagi, kunci utamanya ialah kesadaran diri akan kondisi saat ini, penerimaan akan peristiwa kurang menyenangkan yang mungkin pernah terjadi di masa lalu, serta kebulatan tekad untuk berubah. Orang-orang yang mengalami homoseksual di masa dewasa (setelah remaja) biasanya lebih mudah untuk diubah daripada mereka yang mulai mengembangkan homoseksual di masa remajanya. Wujud perubahan pasca terapi pun beragam, ada yang sampai mampu menjadi heteroseksual, ada pula yang menganggapnya sebagai perjuangan seumur hidup dengan melawan godaan homoseksual dan tidak mengembangkan orientasi heteroseksual. Tentu, di balik segala upaya terapi yang ada, upaya intervensi paling mudah ialah dengan meminta klien menerima kondisinya saat ini dan menumbuhkan kepercayaan diri sebagai orang dengan homoseksual. Namun, saya percaya ini bukan cara yang bijaksana, terutama apabila klien sebenarnya menemukan bahwa hal tersebut adalah hal yang salah bagi dirinya.

 

Apakah homoseksual salah? Seringkali saya ditanyakan pertanyaan ini. Bagi saya, lebih penting untuk menjawab bagaimana kita mempersepsikan mereka yang mengalami homoseksual, karena pertanyaan benar atau salah membutuhkan pedoman, dan mungkin beberapa orang memiliki pedoman yang berbeda dengan orang lain. Sebagai orang yang percaya dengan keberadaan Tuhan, tentu saya dapat mengatakan hal tersebut salah karena tidak berkenan di mata Tuhan. Namun, kesalahan dari homoseksual tidak pernah dapat menjadi alasan bagi kita untuk mendiskreditkan mereka, karena sejatinya mereka adalah korban dan kebanyakan dari mereka tidak menginginkan kondisi demikian. Begitu pula sebaliknya, bagi mereka yang mengalami homoseksual, posisi sebagai korban dan kesadaran bahwa hal tersebut adalah salah menurut kacamata agamanya tidak boleh menjadikan alasan untuk diri berpasrah dan ‘menikmati kesalahannya’.

Memperbaiki kondisi homoseksual memerlukan perjuangan dari dua belah pihak. Dari masyarakat, berhentilah menolak mereka karena mereka bukan orang yang begitu keji. Mulailah anggap mereka sebagai korban yang sebenarnya mungkin ingin berubah dan mungkin saja akan dapat berubah dengan penerimaan atas diri mereka. Anda boleh membenci perilakunya, tetapi justru Andalah yang menjadi salah ketika membenci pelakunya. Bagi mereka yang mengalami homoseksual, percayalah bahwa Anda selalu memiliki hak untuk memilih masa depan Anda melalui apa yang Anda lakukan hari ini.

“If you want to change attitude, try to start to change your behavior.”

– William Glasser

PSIKOLOG, PSIKIATER, KONSELOR: Apa Bedanya?

Psychologist, Psychiatrist, Counselor - Experiencing Life Foundation

Sekalipun ketiga profesi ini sedang sangat berkembang di masyarakat Indonesia akhir-akhir ini, belum banyak orang yang tahu bagaimana ketiganya berbeda. Sebagian besar masyarakat bahkan menganggap sama antara psikolog, psikiater, dan konselor. Padahal, ketiganya memiliki cara kerja, perspektif, dan pendekatan yang berbeda dalam kerja profesionalnya.

Ketiganya sering dianggap sama karena berhubungan dengan penanganan masalah kejiwaan manusia. Benar, baik psikolog, psikiater, maupun konselor, ketiganya berfokus untuk membantu seseorang dalam mengatasi permasalahan yang dialami dalam hidupnya. Akan tetapi, cara kerja serta pendekatannya dalam mengatasi permasalahan manusia berbeda-beda. Sebelum menjawab kepada siapa seharusnya kita datang ketika mengalami masalah tertentu, mari kita pahami lebih lanjut pendekatan dan cara kerja masing-masing profesi tersebut.

PSIKOLOG – bergelar M.Psi / Psi. (psikolog). Mereka yang disebut psikolog ialah yang telah menempuh program Master dalam bidang tertentu dari psikologi profesi(klinis, pendidikan, industri-organisasi) – kecuali untuk para lulusan psikologi S1 yang lulus masih dengan gelar “dra. / drs.” (karena dalam program S1, mereka sudah mendapat bekal yang setara dengan program S2 masa kini). Selama studinya, para psikolog dibekali dengan berbagai teori tentang manusia, dinamika perkembangan manusia, serta kemampuan untuk menganalisis dan melakukan psikoterapi dalam membantu seseorang menyelesaikan masalahnya. Asumsi dasar yang menjadi landasan kerja psikolog adalah bahwa setiap manusia memiliki kapasitas untuk berpikir dan menentukan apa yang terbaik bagi dirinya, sehingga peran psikolog adalah merefleksikan, memberikan pandangan, membuka wawasan, bahkan dalam beberapa kasus sampai mengarahkan klien untuk dapat menyelesaikan masalahnya. Tidak ada obat-obatan yang dipakai selain kata-kata. Jadi, psikolog memandang manusia sebagai individu dalam konteksnya dengan lingkungan atau masyarakat. Di samping itu, psikolog juga berkompeten untuk melakukan dan menginterpretasikan berbagai macam tes psikologi, seperti tes IQ, tes minat bakat, tes kepribadian untuk membuat profil klinis, serta berbagai macam tes lainnya. Tes tersebut bisa dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk memberikan gambaran psikologis tentang klien atau sekedar sebagai referensi untuk pihak ketiga (misal: syarat mengikuti Ujian Nasional, syarat masuk ke sekolah atau perguruan tinggi, syarat mendaftar jadi Caleg, dsb.).

PSIKIATER – bergelar dr. dan Sp.KJ (Spesialis Kesehatan Jiwa). Psikiater adalah seorang dokter yang melanjutkan studi S2 dalam bidang Psikiatri, sehingga mendapat gelar Spesialis dalam bidang Kesehatan Jiwa. Berbeda dengan psikolog, psikiater lebih berfokus pada perubahan-perubahan biologis atau fisiologis yang terjadi dalam diri individu, yang menyebabkan atau disebabkan oleh masalah yang dihadapi individu tersebut. Sebagai contoh, seseorang yang sedang depresi perlu diberikan obat-obatan anti depresan untuk mengimbangi kadar neurotransmiter Serotonin yang menjadi tidak seimbang, sebagai reaksi tubuh akibat kondisi depresi tersebut. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa asumsi dasar yang menjadi landasan kerja seorang psikiater ialah bahwa masalah kejiwaan manusia disebabkan karena atau menyebabkan ketidakseimbangan fungsi-fungsi fisiologis (neurotransmiter, hormon, dsb.). Oleh karenanya, seorang psikiater dapat menggunakan obat-obatan untuk membantu seseorang mengatasi masalah kejiwaannya – walaupun tidak harus selalu menggunakan obat-obatan. Beberapa psikiater juga berkompeten untuk memberikan tes-tes psikologi tertentu, seperti MMPI dan berbagai tes neuropsikologi untuk melihat keberfungsian syaraf serta anomali atau adaptabilitas seseorang dalam masyarakatnya.

KONSELOR – bergelar M.K. / M.A. in counseling / Kons. Gelar konselor bisa diperoleh dari program Pendidikan (S.Pd. / M.Pd. yang melanjutkan spesialisasi dalam bidang Konselor), atau dari program Teologi. Program Konselor di bawah Fakultas Psikologi di Indonesia memang belum ada. Di luar negeri, Konselor atau Counseling Psychology merupakan program yang ada di bawah Program Studi Psikologi. Itulah sebabnya ada beberapa konselor yang bergelar M.A. (Master of Arts). Pendekatan seorang konselor mirip dengan psikologi. Hanya saja, fokus kerja seorang konselor ialah kepada individu yang normal bermasalah. Normal bermasalah berarti mereka yang sebenarnya memiliki masalah dan tantangan dalam hidup, namun tidak sampai menyebabkannya mengalami gangguan jiwa yang serius, seperti: skizofrenia, depresi dengan gejala psikotik, atau gangguan-gangguan ekstrim lainnya. Oleh sebab itu, pendekatan seorang konselor ialah bahwa setiap manusia memiliki kapasitas penuh untuk menentukan hidupnya ke arah yang positif dan konstruktif, sehingga peran konselor ialah untuk menjadi seorang teman, mentor, dan pendengar yang baik bagi individu tersebut. Bedanya dengan psikologi, seorang konselor tidak dibekali kompetensi yang mendalam untuk menangani seseorang dengan gangguan kejiwaan yang serius. Di Indonesia, program konselor seolah-olah disisipkan dalam bidang psikologi, sehingga seorang psikolog juga dapat berperan sebagai seorang konselor ketika menangani manusia yang normal bermasalah. Walau demikian, sebetulnya pasti akan ada perbedaan cara penangangan antara psikolog dan konselor mengingat penekanan dalam proses belajarnya pun berbeda.  Ada beberapa tes psikologi (namun tidak semua tes psikologi) yang juga dapat dilakukan oleh seorang Konselor yang sudah mendapatkan pelatihan di bidang itu.

PSIKOLOG, PSIKIATER, dan KONSELOR sebenarnya sangat perlu bekerja sama dalam menangani klien agar dapat membantu menyelesaikan masalahnya secara utuh dan holistik. Ketika seseorang mengalami gangguan tidur, misalnya, perlu datang ke siapakah? Jawabannya, jika gangguan tidur itu sangat serius sehingga ia menjadi sulit berkonsentrasi dan berbicara, maka terapi obat-obatan sangat diperlukan terlebih dahulu sehingga ia perlu berkonsultasi dengan psikiater. Setelah terapi obat efektif, maka tubuh dan pikirannya sudah siap untuk ‘diajak berbicara dan berpikir’ soal masalah yang dialaminya. Dalam hal ini, ia dapat berkonsultasi baik kepada psikolog maupun konselor. Jadi, secara umum dapat dikatakan bahwa mereka yang mengalami gejala psikologis sangat serius sehingga tidak dapat berkonsentrasi dan berpikir jernih, lebih memerlukan bantuan psikiater untuk mendapatkan obat-obatan sebagai langkah pertamanya. Baru setelahnya, mereka perlu berkonsultasi untuk menyelesaikan dan menghadapi masalahnya dengan seorang konselor (jika gangguannya masih dalam batas normal) atau psikolog (baik jika gangguannya dalam batas normal maupun sudah dalam batas tidak normal). Seorang praktisi yang profesional tentu akan merujuk pasien atau kliennya yang datang ketika dirasa bahwa kebutuhan utamanya ialah kepada seorang psikolog, psikiater, atau konselor. Yang jelas, tidak ada yang lebih hebat atau lebih pintar daripada yang lain; segalanya hanya tergantung pada kompetensi apa yang lebih diperlukan dalam menangani masalah kejiwaan tersebut.