Tag Archives: konsultan psikologi tangerang

3 Alasan Pentingnya Psikotes Pada Karyawan

Baik pekerja maupun pemberi kerja pasti setuju bahwa pekerja ideal ialah ketika ia merupakan the right man on the right place. Bagi sebagian orang, bekerja dengan menghitung angka-angka dan mencocokkan data dari satu dokumen ke dokumen lainnya merupakan pekerjaan yang sangat mereka senangi, sementara bagi sebagian lainnya, ketika diminta bekerja demikian, mereka akan sangat frustrasi dan tidak puas dengan pekerjaannya. Akibatnya, tentu hasil kerjanya menjadi tidak optimal, banyak kesalahan, dan bahkan menambah pekerjaan bagi orang lain.

Keunikan pada diri setiap orang rupanya menjadi modal penting bagi roda industri untuk tetap berputar. Dengan variasi peran yang dijalankna, mereka akan dapat saling mengisi kekosongan satu sama lain, sehingga produktivitas kerja dapat tercapai. Masalahnya, jarang sekali perusahaan yang  memiliki orang yang tepat pada posisi yang tepat itu. Ada orang-orang yang sebenarnya sangat potensial jika bekerja di bidang keuangan, namun karena ia bekerja di bidang pemasaran, maka potensinya menjadi tidak berkembang, walau ada pula orang-orang yang memang potensi dan motivasi kerjanya sangat terbatas sehingga tidak akan sesuai untuk mengisi pekerjaan apapun.

Untuk membantu memetakan potensi dan kemampuan seseorang agar dapat mengisi posisi yang tepat dalam sebuah perusahaan, pemeriksaan psikologis penting untuk dilakukan. Namun masalahnya, banyak perusahaan yang memilih untuk tidak melakukan pemeriksaan psikologis pada karyawannya karena berpikir bahwa mereka harus mengeluarkan uang. Padahal, menempatkan orang di posisi yang salah justru malah membuat mereka berpeluang besar untuk mengeluarkan uang yang lebih besar daripada untuk melakukan pemeriksaan psikologis (misal: biaya training yang sia-sia, produktivitas kerja yang kurang optimal, dan angka turnover yang meningkat).

Pemeriksaan psikologi biasanya dilakukan oleh pihak ketiga dengan tujuan untuk menjamin netralitas hasil penilaian terhadap karyawan. Tujuan pemeriksaan bisa untuk dalam rangka seleksi penerimaan karyawan, pemetaan karyawan, atau mengevaluasi performa dan kesiapan karyawan yang nantinya akan berguna untuk pertimbangan melakukan promosi pada karyawan. Pemeriksaan psikologi merupakan rangkaian proses yang terdiri dari: psikotes (penggunaan materi tes psikologi baik dalam bentuk paper-and-pencil maupun computerized), observasi (bisa dalam bentuk simulation, focus group discussion, leaderless group discussion), dan wawancara.

Sekurang-kurangnya ada 3 alasan yang membuat psikotes/pemeriksaan psikologi pada karyawan penting untuk dilakukan perusahaan:

#1. Psikotes/pemeriksaan psikologis memungkinkan kita untuk memprediksi performa pekerja sebelum mereka bekerja. Berbeda dengan tes akademis yang biasa dilakukan, psikotes dapat memberikan informasi bukan hanya tentang kemampuan pekerja, tetapi juga potensi dari pekerja tersebut. Potensi berarti sesuatu yang belum terlihat. Dengan demikian, ketika ada karyawan yang kurang menunjukkan performa yang baik, melalui psikotes/pemeriksaan psikologis kita dapat mengetahui apakah kinerja yang kurang baik tersebut disebabkan oleh: a) ia tidak memiliki kemampuan dan kemauan untuk bekerja dengan baik, b) ia sebenarnya memiliki kemauan untuk bekerja, namun tidak mampu, c) ia sebenarnya mau dan mampu bekerja, namun kurang termotivasi karena beberapa faktor. Dengan menilik pada hal ini, tentu mudah untuk dapat memprediksi siapa yang akan berhasil, siapa yang akan berhasil jika dilakukan penyesuaian (baik pada sistem reward, posisi/jabatan, dan lain-lain), dan siapa yang kemungkinannya sangat kecil untuk berhasil.

#2. Psikotes/pemeriksaan psikologis memberikan informasi yang sulit didapat jika hanya mengandalkan pengamatan atau penilaian secara umum dan bukan oleh profesional di bidangnya. Setiap orang, apalagi orang yang sedang melamar kerja, tentu berusaha untuk menciptakan kesan pertama yang positif. Kesadaran bahwa dirinya sedang dinilai pasti membuatnya untuk menunjukkan dirinya yang terbaik. Jika yang ditunjukkan bukanlah kondisi yang sebenarnya, maka tentu saat ia bekerja, hasil kerjanya tidak akan sesuai dengan yang diharapkan. Rangkaian pemeriksaan psikologis/psikotes dapat mendeteksi hal tersebut, sehingga dapat membedakan orang-orang yang terlihat baik karena mereka memang benar-benar baik dan orang-orang yang terlihat baik karena mereka sedang menyembunyikan hal-hal yang buruk.

#3. Psikotes/pemeriksaan psikologis membantu memetakan karyawan untuk mengisi posisi yang sesuai dengan dirinya. Rangkaian pemeriksaan psikologis dilakukan bukan hanya untuk menguntungkan perusahaan karena dapat memiliki orang-orang terbaik untuk mengisi posisi yang ada, tetapi juga menguntungkan karyawan yang bekerja di dalamnya karena akan membuatnya bekerja sesuai dengan minat dan kemampuannya. Setiap orang pasti memiliki potensi, dan sepanjang didukung dengan motivasi dan semangat kerja yang positif, tentu ia akan sesuai dengan salah satu dari sekian banyak lowongan pekerjaan yang ada. Memiliki karyawan yang bekerja sesuai dengan keahliannya akan membuat produktivitas kerja meningkat berkali-kali lipat karena pekerjaan tidak lagi dianggap sebagai beban bagi mereka, tetapi sebagai pengalaman positif yang membantu mengaktualisasi diri mereka.

 

Oleh karena itu, psikotes merupakan hal yang penting untuk dipertimbangkan dalam menunjang produktivitas suatu industri. Namun, perlu tetap diingat bahwa hasil psikotes bukanlah alat untuk menjadikan label bagi orang-orang yang dites. People change. Jadi, apabila ada orang-orang yang saat dites mendapat hasil kurang memuaskan, rekomendasi psikologis (yang biasanya juga diberikan di dalam laporan hasil psikotes) tetap perlu diperhatikan untuk meningkatkan potensi / kapabilitas karyawan tersebut. Beberapa informasi hasil psikotes juga memiliki masa validitas yang terbatas pada beberapa bulan atau tahun karena manusia adalah mahkluk yang dinamis dan pembelajar.

Advertisements

PSIKOLOG, PSIKIATER, KONSELOR: Apa Bedanya?

Psychologist, Psychiatrist, Counselor - Experiencing Life Foundation

Sekalipun ketiga profesi ini sedang sangat berkembang di masyarakat Indonesia akhir-akhir ini, belum banyak orang yang tahu bagaimana ketiganya berbeda. Sebagian besar masyarakat bahkan menganggap sama antara psikolog, psikiater, dan konselor. Padahal, ketiganya memiliki cara kerja, perspektif, dan pendekatan yang berbeda dalam kerja profesionalnya.

Ketiganya sering dianggap sama karena berhubungan dengan penanganan masalah kejiwaan manusia. Benar, baik psikolog, psikiater, maupun konselor, ketiganya berfokus untuk membantu seseorang dalam mengatasi permasalahan yang dialami dalam hidupnya. Akan tetapi, cara kerja serta pendekatannya dalam mengatasi permasalahan manusia berbeda-beda. Sebelum menjawab kepada siapa seharusnya kita datang ketika mengalami masalah tertentu, mari kita pahami lebih lanjut pendekatan dan cara kerja masing-masing profesi tersebut.

PSIKOLOG – bergelar M.Psi / Psi. (psikolog). Mereka yang disebut psikolog ialah yang telah menempuh program Master dalam bidang tertentu dari psikologi profesi(klinis, pendidikan, industri-organisasi) – kecuali untuk para lulusan psikologi S1 yang lulus masih dengan gelar “dra. / drs.” (karena dalam program S1, mereka sudah mendapat bekal yang setara dengan program S2 masa kini). Selama studinya, para psikolog dibekali dengan berbagai teori tentang manusia, dinamika perkembangan manusia, serta kemampuan untuk menganalisis dan melakukan psikoterapi dalam membantu seseorang menyelesaikan masalahnya. Asumsi dasar yang menjadi landasan kerja psikolog adalah bahwa setiap manusia memiliki kapasitas untuk berpikir dan menentukan apa yang terbaik bagi dirinya, sehingga peran psikolog adalah merefleksikan, memberikan pandangan, membuka wawasan, bahkan dalam beberapa kasus sampai mengarahkan klien untuk dapat menyelesaikan masalahnya. Tidak ada obat-obatan yang dipakai selain kata-kata. Jadi, psikolog memandang manusia sebagai individu dalam konteksnya dengan lingkungan atau masyarakat. Di samping itu, psikolog juga berkompeten untuk melakukan dan menginterpretasikan berbagai macam tes psikologi, seperti tes IQ, tes minat bakat, tes kepribadian untuk membuat profil klinis, serta berbagai macam tes lainnya. Tes tersebut bisa dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk memberikan gambaran psikologis tentang klien atau sekedar sebagai referensi untuk pihak ketiga (misal: syarat mengikuti Ujian Nasional, syarat masuk ke sekolah atau perguruan tinggi, syarat mendaftar jadi Caleg, dsb.).

PSIKIATER – bergelar dr. dan Sp.KJ (Spesialis Kesehatan Jiwa). Psikiater adalah seorang dokter yang melanjutkan studi S2 dalam bidang Psikiatri, sehingga mendapat gelar Spesialis dalam bidang Kesehatan Jiwa. Berbeda dengan psikolog, psikiater lebih berfokus pada perubahan-perubahan biologis atau fisiologis yang terjadi dalam diri individu, yang menyebabkan atau disebabkan oleh masalah yang dihadapi individu tersebut. Sebagai contoh, seseorang yang sedang depresi perlu diberikan obat-obatan anti depresan untuk mengimbangi kadar neurotransmiter Serotonin yang menjadi tidak seimbang, sebagai reaksi tubuh akibat kondisi depresi tersebut. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa asumsi dasar yang menjadi landasan kerja seorang psikiater ialah bahwa masalah kejiwaan manusia disebabkan karena atau menyebabkan ketidakseimbangan fungsi-fungsi fisiologis (neurotransmiter, hormon, dsb.). Oleh karenanya, seorang psikiater dapat menggunakan obat-obatan untuk membantu seseorang mengatasi masalah kejiwaannya – walaupun tidak harus selalu menggunakan obat-obatan. Beberapa psikiater juga berkompeten untuk memberikan tes-tes psikologi tertentu, seperti MMPI dan berbagai tes neuropsikologi untuk melihat keberfungsian syaraf serta anomali atau adaptabilitas seseorang dalam masyarakatnya.

KONSELOR – bergelar M.K. / M.A. in counseling / Kons. Gelar konselor bisa diperoleh dari program Pendidikan (S.Pd. / M.Pd. yang melanjutkan spesialisasi dalam bidang Konselor), atau dari program Teologi. Program Konselor di bawah Fakultas Psikologi di Indonesia memang belum ada. Di luar negeri, Konselor atau Counseling Psychology merupakan program yang ada di bawah Program Studi Psikologi. Itulah sebabnya ada beberapa konselor yang bergelar M.A. (Master of Arts). Pendekatan seorang konselor mirip dengan psikologi. Hanya saja, fokus kerja seorang konselor ialah kepada individu yang normal bermasalah. Normal bermasalah berarti mereka yang sebenarnya memiliki masalah dan tantangan dalam hidup, namun tidak sampai menyebabkannya mengalami gangguan jiwa yang serius, seperti: skizofrenia, depresi dengan gejala psikotik, atau gangguan-gangguan ekstrim lainnya. Oleh sebab itu, pendekatan seorang konselor ialah bahwa setiap manusia memiliki kapasitas penuh untuk menentukan hidupnya ke arah yang positif dan konstruktif, sehingga peran konselor ialah untuk menjadi seorang teman, mentor, dan pendengar yang baik bagi individu tersebut. Bedanya dengan psikologi, seorang konselor tidak dibekali kompetensi yang mendalam untuk menangani seseorang dengan gangguan kejiwaan yang serius. Di Indonesia, program konselor seolah-olah disisipkan dalam bidang psikologi, sehingga seorang psikolog juga dapat berperan sebagai seorang konselor ketika menangani manusia yang normal bermasalah. Walau demikian, sebetulnya pasti akan ada perbedaan cara penangangan antara psikolog dan konselor mengingat penekanan dalam proses belajarnya pun berbeda.  Ada beberapa tes psikologi (namun tidak semua tes psikologi) yang juga dapat dilakukan oleh seorang Konselor yang sudah mendapatkan pelatihan di bidang itu.

PSIKOLOG, PSIKIATER, dan KONSELOR sebenarnya sangat perlu bekerja sama dalam menangani klien agar dapat membantu menyelesaikan masalahnya secara utuh dan holistik. Ketika seseorang mengalami gangguan tidur, misalnya, perlu datang ke siapakah? Jawabannya, jika gangguan tidur itu sangat serius sehingga ia menjadi sulit berkonsentrasi dan berbicara, maka terapi obat-obatan sangat diperlukan terlebih dahulu sehingga ia perlu berkonsultasi dengan psikiater. Setelah terapi obat efektif, maka tubuh dan pikirannya sudah siap untuk ‘diajak berbicara dan berpikir’ soal masalah yang dialaminya. Dalam hal ini, ia dapat berkonsultasi baik kepada psikolog maupun konselor. Jadi, secara umum dapat dikatakan bahwa mereka yang mengalami gejala psikologis sangat serius sehingga tidak dapat berkonsentrasi dan berpikir jernih, lebih memerlukan bantuan psikiater untuk mendapatkan obat-obatan sebagai langkah pertamanya. Baru setelahnya, mereka perlu berkonsultasi untuk menyelesaikan dan menghadapi masalahnya dengan seorang konselor (jika gangguannya masih dalam batas normal) atau psikolog (baik jika gangguannya dalam batas normal maupun sudah dalam batas tidak normal). Seorang praktisi yang profesional tentu akan merujuk pasien atau kliennya yang datang ketika dirasa bahwa kebutuhan utamanya ialah kepada seorang psikolog, psikiater, atau konselor. Yang jelas, tidak ada yang lebih hebat atau lebih pintar daripada yang lain; segalanya hanya tergantung pada kompetensi apa yang lebih diperlukan dalam menangani masalah kejiwaan tersebut.