Tag Archives: konseling pernikahan

Benarkah Menikah Pilihan Hidup? Menilik Fenomena Lajang di Indonesia

“Potong bebek angsa, masak di kuali, jomblo udah lama, nyesek tiap hari. Galau ke sana, galau ke sini, lalalalala…”

Begitu potongan lirik yang sudah dipelintir oleh kalangan lajang di Indonesia. Masih banyak lagi gambar (yang sering disebut MEME ~ Bahasa Inggris dari semboyan berbasis budaya) yang menggambarkan lika-liku kehidupan para lajang, yang populernya disebut jomblo. Komunitas para lajang di Jakarta bersatu dalam sebuah grup di dunia maya, menamakan diri sebagai Dewan Kesepian Jakarta. Bahkan di Bandung, Kang Emil mendedikasikan sebuah taman untuk para lajang, yang diberi nama Taman Jomblo.

Menikah memang pilihan, sehingga yang tidak menikah tidak seharusnya mendapat sorotan negatif. Namun di Indonesia, harus diakui bahwa sebagian besar masyarakat masih menganggap pernikahan sebagai sebuah kesuksesan tertinggi, sehingga mereka yang gagal menikah di akhir usia 20 tahunan, apalagi sudah memasuki usia 30 tahunan, juga dianggap gagal dalam seluruh hidupnya. Augustina Situmorang melakukan penelitian kualitatif terhadap perempuan lajang di Yogyakarta pada tahun 2005. Hasilnya, perempuan lajang di usia 30 tahunan mengaku mendapat stigma negatif dari teman dan keluarga sehingga membuat mereka merasa didiskriminasi. Mereka sering dianggap ‘gila karier’, egois, dan terlalu selektif memilih pasangan. Menikah memang pilihan, tetapi bagi dewasa muda di usia 30 tahunan, menikah sepertinya merupakan satu-satunya pilihan.

Mengapa Jomblo?

Sama seperti menikah adalah pilihan, sebenarnya menjadi lajang seumur hidup pun bisa menjadi pilihan. Beberapa orang memilih melajang seumur hidup, walau ada beberapa lainnya yang sebenarnya sangat ingin, namun tidak dapat, menikah. Dibandingkan dengan mereka yang memutuskan melajang seumur hidup, tentu para lajang yang sebenarnya ingin menikah lebih sulit dalam menghadapi tekanan dari masyarakat. Supaya lebih mudah membahasnya, sebut saja ada dua kelompok lajang, lajang karena pilihan dan karena situasi.

Kemajuan teknologi dan pergeseran gaya hidup ditengarai menjadi alasan mengapa seseorang memilih menjadi lajang. Sejak tahun 1800-an, berkembang paham bahwa seks merupakan misi utama seseorang menikah dan pernikahan merupakan gerbang utama menikmati seks secara legal. Ketika seks dapat dengan mudah diperoleh melalui internet atau cohabitation (atau kumpul kebo), yang sekarang sudah semakin lumrah di masyarakat kita, maka pernikahan mulai ditinggalkan. Kesulitan mengurus anak dan sederetan masalah perkawinan yang berujung pada perceraian juga menjadi alasan mengapa sebagian lajang memilih untuk menghindari pernikahan.

Namun demikian, kalau melihat nuansa humor dari meme tentang jomblo yang berkembang dalam masyarakat, sepertinya lebih banyak orang yang menjadi lajang karena dipaksa oleh situasi.

Jumlah Jomblo Berbanding Lurus dengan Kemajuan Industri

Merangkum beberapa hasil survei dan penelitian yang sudah dilakukan, lajang karena situasi bisa disebabkan karena kemajuan industri di suatu negara. Dalam ulasannya, seorang profesor di bidang Sosiologi dari University of Pennsylvania, Frank Furstenberg, mengatakan bahwa negara yang sedang berkembang ditandai dengan kesetaraan gender dan meningkatnya kebutuhan sumber daya manusia untuk memutar roda-roda industri. Konsekuensinya, jumlah perempuan dengan tingkat pendidikan tinggi dan membangun karier menjadi semakin banyak. Uniknya, statistik menunjukkan bahwa jenjang karier rata-rata perempuan cenderung menunjukkan tren yang meningkat, sedangkan pada laki-laki cenderung stagnan. Akibatnya, lebih banyak perempuan yang menghabiskan masa mudanya meniti jenjang karier sehingga ketika waktunya ia untuk menikah, di samping ia kekurangan waktu untuk bersosialisasi dan membangun hubungan romantis, ekspektasinya pun meningkat untuk mencari teman hidupnya. Bayangkan, tentu akan menjadi sorotan bagi teman dan keluarga jika seorang perempuan dengan pendidikan master bekerja sebagai manager di sebuah perusahaan, menikah dengan seorang lelaki tamatan sarjana yang hanya menjadi staf saja. Akhirnya, situasi ini membuat semakin sedikit ‘stok’ yang tersedia bagi perempuan untuk mencari lelaki yang sepadan, membuatnya menjadi semakin berpeluang menjadi lajang karena situasi.

 

Lelaki Lajang Tetap Diuntungkan 

Meski kenaikan jumlah lajang terjadi pada lelaki dan perempuan, dalam masyarakat, lelaki tetap menjadi kaum yang diuntungkan. Buktinya, kerap kita dengar istilah ‘perawan tua’, tetapi istilah ‘perjaka tua’ rasanya kurang populer, bahkan hampir tidak pernah disebutkan. Mengapa demikian?

Teori psikologi evolusi memberikan jawaban. Di awal usia 20 tahun, seorang perempuan lajang boleh jadi lebih bahagia daripada lelaki lajang. Di masa itu, penampilan fisik yang masih menawan serta kepercayaan diri akan suburnya fungsi reproduksi membuat perempuan merasa memiliki masa depan yang cerah dengan banyak pilihan lelaki yang potensial menjadi pasangan hidupnya. Namun, di usia 30 tahunan, saat penampilan fisik mulai kurang menawan, lingkaran pergaulan sosial semakin sempit, dan fertilitas yang semakin menurun seiring bertambahnya usia, membuat perempuan kurang percaya diri. Akibatnya, perempuan yang masih lajang hingga usia 30 tahunan menjadi sangat rentan dianggap terlalu selektif memilih pasangan, terlalu memikirkan kesuksesan karier, bahkan gagal dalam pergaulan. Sebaliknya, pada lelaki, kemampuan untuk reproduksi akan cenderung sama sejak ia remaja hingga tua, sehingga seolah-olah status lajang tidak pernah menetap pada dirinya. Karena tidak ada batasan waktu, lelaki yang setelah lulus tidak langsung menikah, melainkan meniti karier hingga usia 30 tahunan, sering dikonotasikan positif oleh masyarakat sebagai lelaki yang mapan.

Salahkah Jomblo?

Di balik senyuman atas lelucon yang dibuat oleh para jomblo mengenai statusnya, air mata tetap membasahi pipi sebagian dari mereka, terutama yang menjadi lajang karena situasi. Hasil survei Badan Pusat Statistik tahun 2013 memang menunjukkan bahwa mereka yang tidak menikah lebih berbahagia daripada yang menikah. Namun sayangnya, Badan Pusat Statistik tidak membedakan mereka yang tidak menikah karena pilihan atau karena situasi. Di samping itu, senyum juga seringkali menjadi topeng favorit bagi para lajang karena situasi agar tidak dipersalahkan oleh karena statusnya. Dengan tampak seolah-olah bahagia, mereka berharap orang-orang sekitar berhenti memberikan penilaian negatif terhadapnya. Namun, pura-pura bahagia sebenarnya terasa lebih menyedihkan daripada kondisi tidak bahagia itu sendiri. Berbagai penelitian mengkonfirmasi bagaimana para lajang, terutama yang menjadi lajang karena situasi, lebih tidak berbahagia, lebih rentan terhadap depresi, serta kurang puas dengan hidupnya. Jika kita menelusuri laman mesin pencari Google, juga tidak sulit untuk menemukan kasus-kasus bunuh diri yang dilakukan oleh para lajang.

Oleh karenanya, sudah saatnya kita berhenti menilai kualitas seseorang hanya berdasarkan status perkawinannya, karena menikah tidak dapat terjadi berdasarkan keinginan satu orang saja, dan memaksakan diri untuk menikah hanya menciptakan kebahagiaan semu yang sangat sementara. Berhentilah bertanya ‘kapan kawin’, karena itu bukan lagi pertanyaan yang menunjukkan kepedulian. Di negara Barat, pertanyaan tentang pernikahan dan usia merupakan pertanyaan yang sangat tabu untuk ditanyakan. Saya pikir, dalam hal ini, penting bagi kita untuk menjaga privasi dan menghargai pilihan dan keadaan sesama, dengan tanpa meninggalkan unsur-unsur keramahtamahan dan kolektivitas sebagai cerminan budaya kita. Tempatkanlah menikah sebagai pilihan, dan bukan satu-satunya pilihan.

Kapan Kawin? Menjawab Pertanyaan Kapan Waktu Terbaik untuk Menikah

 

Kapan kawin?

Sebagian besar dari kita, entah karena mandat budaya, diatur oleh jam biologis, atau panggilan spiritual, bermimpi untuk menikah dan membentuk keluarga baru. Manusia memang dibekali dengan identitas yang sudah ditentukan dari awal – di mana dirinya, orang tua, atau siapapun manusia di muka Bumi ini tidak dapat mengubah atau menentukannya –, yaitu identitas gender. Kehadiran manusia dengan identitas gender secara tidak langsung memberikan suatu pesan bahwa manusia memang diciptakan untuk berpasang-pasangan, yang diikat dalam sebuah pernikahan. Memang betul, beberapa orang sejak awal sudah berkomitmen untuk tidak menikah, dan itu sah-sah saja, tetapi toh masyarakat kita hingga kini masih berkeyakinan bahwa setiap orang selayaknya menikah. Menikah juga sering dianggap sebagai suatu fase sangat penting dalam hidup manusia sehingga ritual pernikahan menjadi begitu istimewa. Dalam sepanjang hidup manusia, mungkin hanya ada tiga peristiwa besar yang dikenang dan dirayakan bersama dengan tradisi berbeda-beda pada tiap-tiap budaya: kelahiran, pernikahan, dan kematian.

Berada di antara kelahiran dan kematian seolah melambangkan seberapa signifikannya momen pernikahan. Melalui pernikahan, seseorang dapat mengalami hidup yang sangat menyenangkan (seperti menyambut kelahiran seorang bayi yang dinantikan) atau menjalani hidup yang sangat berat dan menyiksa (seperti menyaksikan kematian orang yang sangat disayang). Parahnya lagi, pernikahan adalah sebuah jalan di dalam hidup seseorang yang tidak mengenal berbalik arah (tidak dapat di-undo) karena, meskipun seseorang tetap memiliki hak untuk bercerai, pernikahan menjadi sama sekali berbeda ketika dilakukan lebih dari sekali.

 

Lalu, kapan waktu terbaik seseorang menikah?

Teori perkembangan psikososial dari Erikson menegaskan bahwa usia terbaik pernikahan ialah ketika seseorang sudah memasuki masa dewasa muda (usia 20 hingga 40-45 tahun). Di usia ini, tugas perkembangan seseorang terfokus pada pencarian hubungan romantis yang intim dengan orang lain, untuk menumbuhkan dan mengalami cinta yang eksklusif; sedangkan di usia aqil balik, tugas perkembangan remaja masih sebatas pembentukan jati diri, belum berfokus pada pembinaan relasi romantis yang intim dengan orang lain.

Rentang usia dewasa muda tentu sangat luas untuk memberikan indikasi usia terbaik bagi seseorang untuk menikah. Oleh karenanya, secara lebih spesifik beberapa penelitian lanjutan (misal: DeMaris & Rao, 1992; Heaton, 2002; Rodrigues, Hall, & Fincham, 2007; Hanes, 2014) mengkonfirmasi bahwa idealnya seseorang menikah setelah berusia 23 tahun karena mereka yang menikah di bawah usia tersebut adalah yang paling rentan untuk mengalami perceraian. Lebih lanjut, juga ditekankan bahwa semakin muda seseorang menikah, semakin besar peluangnya untuk bercerai.

 

Menikahlah sebelum usia 32 tahun!

Penelitian terbaru ternyata menunjukkan hal yang lebih fenomenal. Pada tahun 2015, Nicholas Wolfinger, seorang profesor dalam bidang Sosiologi di University of Utah, melakukan analisa berdasarkan data survei dari National Survey of Family Growth (NSFG) pada tahun 2006 hingga 2010. Jika studi-studi sebelumnya mengatakan bahwa semakin tua usia seseorang, semakin kecil terjadinya peluang perceraian; dalam hasil analisanya Wolfinger menemukan bahwa usia terbaik seseorang untuk menikah ialah setelah melewati usia 25 tahun, tetapi sebelum usia 32 tahun. Temuan ini juga tetap berlaku sama setelah mengontrol variabel jenis kelamin, tingkat pendidikan, religiositas, latar belakang etnis, dan riwayat aktivitas seksual sebelum menikah. Dalam studinya, Wolfinger menyimpulkan bahwa waktu terbaik untuk menikah ialah di akhir usia 20 tahun, tidak peduli apapun tingkat pendidikan, kepercayaan agama, etnis, atau jenis kelamin orang itu.

Wolfinger menjelaskan beberapa alasan yang mendukung temuannya ini. Pertama, menurutnya, kebanyakan orang yang belum menikah hingga di usia 30 tahun cenderung merupakan orang-orang yang sulit membina hubungan interpersonal yang baik dengan orang lain. Oleh karenanya, ketika mereka menikah, besar peluang pernikahannya mengalami kegagalan. Wolfinger menyadari bahwa dinamika dan tekanan ekonomi di masa kini yang semakin besar membuat banyak orang menunda usia pernikahannya karena berusaha untuk mengejar karier yang menuntut waktu lebih lama untuk mendapat penghasilan yang cukup guna membangun keluarga jika dibandingkan dengan di masa lalu. Namun, menurut Wolfinger, orang-orang yang demikian adalah mereka yang menikah di akhir usia 20 tahunan, sehingga dianggap sebagai kelompok orang yang paling tidak rentan terhadap perceraian dalam pernikahannya. Di samping itu, sebagian orang yang menikah di usia 30 tahunan memiliki motivasi untuk menikah yang lebih dikendalikan oleh tekanan keluarga dan kerabat, sehingga pernikahannya lebih dilandasi oleh usaha pelarian agar tidak mendapat penilaian negatif dari keluarga maupun orang-orang terdekatnya. Itulah sebabnya mereka menjadi lebih rentan terhadap perceraian.

 

Mencermati Temuan Wolfinger

Secara statistik, dengan jumlah sampel yang melebihi 5.000 orang dan teknik sampling dan pengolahan statistik yang tepat, tentu fakta itu dapat diyakini kebenarannya. Pengolahan data hingga pada penarikan kesimpulan demikian sudah sesuai dengan logika statistika. Namun, psikologi, terutama pernikahan, pastinya lebih dari sekadar angka dan data. Di samping akurasi hasilnya yang mungkin terbatas karena hanya melibatkan responden di Amerika Serikat – yang mungkin berbeda dengan tipikal masyarakat di Indonesia –, fakta ini tetap berguna bagi kita untuk mempertimbangkan kapan waktu terbaik untuk menikah. Ada beberapa hal yang perlu menjadi pertimbangan.

Pertama, ukuran waktu terbaik untuk menikah ialah kedewasaan psikologis, bukan biologis. Kedewasaan secara psikologis sulit diukur dari usia karena bagi beberapa orang, kecakapan psikologis dalam membangun hubungan, membina komitmen, dan mengelola konflik mungkin bisa muncul lebih awal daripada sekelompok orang lainnya. Jadi, menjadi tidak bijaksana jika seseorang berharap untuk mendapat pernikahan bahagia dengan menunda pernikahannya hingga akhir usia 20 tahun dan sebelum 32 tahun tanpa melakukan pembenahan dan pengembangan diri.

Kedua, hendaknya kita tidak terjebak pada pengambilan kesimpulan yang keliru. Penarikan kesimpulan usia terbaik menikah yang dilakukan oleh Wolfinger dilakukan berdasarkan analisa terhadap data, baru setelah itu ditelusuri kemungkinan sebab-sebab munculnya pola data demikian. Oleh karenanya, kita tidak boleh keliru dalam memaknai fakta ini agar tidak terjebak pada pengambilan keputusan yang salah. Sederhananya, jika ada data yang mengatakan bahwa ada banyak kecelakaan mobil yang terjadi di suatu jalan di malam hari; maka data ini seharusnya bukan membuat kita berpikir untuk tidak melewati jalan itu di malam hari, tetapi justru lebih berhati-hati dengan memperhatikan analisa mengapa sering terjadi kecelakaan di jalan itu pada malam hari, atau bahkan berinisiatif membuat penerangan di jalan itu sehingga tidak lagi terjadi kecelakaan. Bagi yang sudah berusia di atas 30 tahun, tentu temuan ini bukan menjadi alasan untuk Anda tidak menikah karena kemungkinan bercerainya tinggi, melainkan menjadi informasi yang sangat bermanfaat untuk merefleksikan diri apa yang harus diantisipasi agar pernikahan Anda tetap berbahagia.

Terakhir, realita psikologi tidak cukup direpresentasikan melalui angka-angka. Realita psikologi bersifat sangat unik, khas, dinamis, dan subjektif. Data yang ada bicara mengenai pola dan probabilitas, bukan sesuatu yang pasti. Jadi, bukan berarti semua orang yang menikah sebelum akhir usia 20 tahun atau di atas usia 32 tahun pasti akan gagal pernikahannya; namun data itu memberikan informasi yang bermanfaat mengenai dinamika pernikahan pada sebagian besar orang dalam kurun waktu tertentu.

 

Jadi, kapan kawin?

Saya percaya waktu terbaik seseorang untuk menikah tidak dibatasi oleh usia biologisnya, tetapi kematangan dan kemantapan hatinya untuk siap memasuki pernikahan. Motivasi seseorang untuk menikah lebih menentukan kualitas pernikahannya daripada usia saat ia menikah. Pernikahan yang berhasil bukan terjadi hanya karena seseorang merasa kesepian, merasa tertekan oleh penilaian keluarga dan orang di sekitarnya, atau merasa tidak mampu berdiri sendiri (memiliki self-esteem yang rendah, membutuhkan pengakuan dan penerimaan dari orang lain). Justru pernikahan yang baik terjadi pada dua orang yang sebenarnya mampu berdiri sendiri, tetapi memutuskan untuk berkomitmen dan bersatu membentuk sebuah keluarga. Pada orang-orang yang menikah karena membutuhkan topangan, tentu akan menaruh ekspektasi tinggi yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan dirinya. Namun jika pernikahan dilakukan oleh orang-orang yang sebenarnya mampu berdiri sendiri, ia tidak lagi menaruh harapan yang egois dalam pernikahannya; sebaliknya, ia justru lebih berorientasi untuk membahagiakan pasangannya melalui pernikahan itu.

Jadi, menikahlah ketika Anda sanggup berdiri sendiri, berapa pun usia Anda saat itu.

 

Artikel dipublikasikan dalam buletin Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara, volume 2, no. 15. 

Acuan:
DeMaris, A., & Rao, K. V. (1992). Premarital cohabitation and subsquent marital stability in the United States: A reassessment. Journal of Marriage and the Family, 54, 178-190.
Hanes, S. (2014, Mar 10). Best predictor of divorce? age when couples cohabit, study says. The Christian Science Monitor Retrieved from http://search.proquest.com/docview/1505399866?accountid=25704
Heaton, T. B. (2002). Factors contirbuting to increasing stability in the United States. Journal of Family Issues, 23(3), 392-409.
Rodrigues, A. E., Hall, J. H., & Fincham, F. D. (2007). What predicts divorce and relationship dissolution. Dalam M. A. Fine & J. H. Harvey (Eds). Handbook of Divorce and Relationship Dissolution (hal 85-112). New York, NY: Taylor & Francis.
Wolfinger, N. H. (2015). Want to avoid divorce? Wait to get married, but not too long. Diunduh dari http://family-studies.org/want-to-avoid-divorce-wait-to-get-married-but-not-too-long/