Tag Archives: jasa psikologi gading serpong

Karakter Bagian 2: Karakter & Berlian

Ada satu definisi menarik tentang karakter yang dikemukakan dalam characterfirst.com, seperti ini:

“Character is like a diamond; the ultimate goal is to develop the radiance of character that is so blended together that many qualities may sparkle in the light of a single deed.”

Dari berbagai pengertian yang ada mengenai karakter, sepertinya karakter yang dianalogikan dengan berlian ini benar-benar tepat menggambarkan karakter. Karakter tidak pernah bisa dilihat, tetapi manifestasinya dalam perilaku tampak bahkan hanya melalui satu tindakan kecil. Jadi, orang-orang yang berkarakter kuat akan menunjukkan kilauan karakternya bahkan melalui suatu tindakan sederhana yang dilakukan.

Berbicara mengenai berlian, ternyata sangat menarik untuk mencermati bagaimana sebuah berlian terbentuk serta relevansinya dengan pembentukan karakter. Kira-kira ada empat hal penting yang menggambarkan pembentukan sebuah berlian yang sepertinya serupa dengan pembentukan karakter seseorang.

#1. Berlian berasal dari karbon.

Tentu tidak ada orang yang mau membeli karbon dengan harga semahal berlian. Karbon seringkali dianggap jelek, hitam, kotor, dan seringkali dianggap sebagai benda beracun. Jadi, berlian tidak ada dengan sendirinya. Ia berasal dari sesuatu yang tidak berharga, tetapi melalui proses tertentu, ia dapat menjadi sesuatu yang sangat bernilai. Begitu pula dengan karakter. Seseorang yang berkarakter tidak dilahirkan dari sananya menjadi berkarakter. Ia harus melalui proses dan terpaan dalam kehidupan untuk membuat karakternya teruji. Menjadi pribadi yang berkarakter perlu usaha, dan seringkali usahanya lebih keras daripada apa yang kita pernah pikirkan!

#2. Berlian ditemukan di kedalaman 100-200 km dari permukaan Bumi.

Sebagai barang yang sangat berkilau dan berharga, berlian tidak berada di tempat yang mudah terlihat oleh orang lain; namun keberadaannya dicari dan dihargai oleh orang lain. Sama halnya dengan karakter, kita tidak dapat melihat karakter seseorang dengan mudah karena ia tidak tampak sebagaimana kita menilai cantik / tampannya seseorang. Karakter terletak di kedalaman pribadi seseorang, namun keberadaannya pasti diketahui, diperhitungkan, dan dihargai oleh orang lain.

#3. Untuk membentuk berlian, dibutuhkan jutaan tahun, dengan suhu melebihi 1.000°C, dan tekanan sekitar 50 kilobar.

Suhu yang panas dan tekanan yang besar tentu sesuatu yang menimbulkan ketidaknyamanan. Namun ketidaknyamanan itu berbuah sesuatu yang tanpanya kita tidak dapat menghasilkannya. Orang-orang yang menjadi panutan karena karakternya yang tajam dan terpuji ialah mereka yang sudah melalui masalah yang besar dan luar biasa di dalam hidupnya, dan ia memilih untuk bertahan dan menghadapinya. Banyak orang yang berpikir untuk menghindari masalah, play safe, dan mengkondisikan lingkungannya sebisa mungkin agar terbebas dari tantangan. Orang-orang seperti ini memang terlihat memiliki jalan yang lurus dalam hidupnya, tenang, dan selalu senang; namun sebenarnya ia sedang memilih untuk menyimpan karbon dalam hidupnya dan tidak pernah berniat untuk menjadikannya berlian.

#4. berlian keluar ke permukaan bumi saat letusan gunung berapi.

Panas yang begitu terakumulasi membuat berlian disemprotkan dari dalam Bumi. Sama halnya dengan berlian, karakter seseorang paling tampak ketika ia berhadapan dengan masalah yang sangat pelik, yang menuntut pengambilan keputusan yang kritis. Situasi ketika masalah itu ‘harus meledak’, di situlah karakter seseorang tampak. Tidak sulit menjadi orang baik dalam situasi yang menyenangkan, tetapi dalam situasi yang sangat menekan, sulit mencari orang yang tetap baik dan ‘berkilau’ kepribadiannya.

Menjadi pribadi yang berkarakter butuh usaha, butuh perjuangan, dan butuh ‘masalah’. Terkadang hal itu begitu berat hingga kita merasa ingin menghindarinya, memaksa orang lain berubah untuk kita, dan mengkondisikan lingkungan agar tidak menuntut kita begitu besarnya. Namun sejatinya, upaya-upaya demikian hanya merupakan upaya yang menghalangi kita untuk memurnikan karakter kita. Berbahagialah jika saat ini masih ada masalah yang kita hadapi, masih ada situasi yang seolah-olah terlalu menekan, dan hadapilah. Bertahan, dan jangan menyerah, hingga suatu saat orang melihat kilauan yang indah dalam diri kita.

Advertisements

Karakter Bagian 1: Beda Karakter, Kepribadian, Sifat, dan Temperamen

Kata “karakter” lebih populer dikenal dalam psikologi populer, sementara pembahasannya masih sangat jarang ditemukan dalam penelitian-penelitian ilmiah psikologi maupun buku-buku teks dalam bidang psikologi. Banyak orang yang menemukan bahwa kata ini ambigu dengan kata-kata lain yang serupa dengan itu, sebut saja: kepribadian, temperamen, atau sifat. Keempat istilah ini memang agak susah untuk dibedakan, namun sebetulnya memiliki penekanan yang berbeda-beda.

“Karakter” berasal dari Bahasa Yunani “Kharakter” yang berarti melekat erat pada sebuah batang pohon. Ketika kita mengukir sebuah simbol atau gambar tertentu pada batang pohon, maka gambar itu tidak mudah terhapus dan akan melekat sepanjang pohon itu tumbuh. Begitu pula dengan karakter, merupakan kombinasi sifat-sifat yang dimiliki seseorang, yang melekat di dalam dirinya dan tidak mudah dihapus atau diubahkan.

Untuk memahami perbedaan karakter dengan kepribadian (personality), menjadi menarik untuk menyimak sejarah penelitian masa lalu mengenai karakter. Pada tahun 1920an, sebuah studi dilakukan oleh Hersthon, May, dan kawan-kawan menemukan bahwa tidak ditemukan konsistensi antara perilaku manusia dalam situasi yang sama. Artinya, perilaku manusia yang sesungguhnya tidak ditentukan dari sifat atau karakter yang ada di dalam dirinya, karena dalam berbagai percobaan ditemukan bahwa manusia yang sama tidak menunjukkan karakter yang sama dalam berbagai percobaan. Itulah sebabnya, pada masa itu para ahli psikologi tidak lagi menggunakan kata karakter, melainkan menggunakan kata ‘kepribadian’ (personality) untuk mempelajari tentang moral, etika, maupun sifat-sifat lainnya. Eksperimen lebih lanjut yang dilakukan pada tahun 1940-an juga mengkonfirmasi temuan ini: bahwa perilaku manusia bukan ditentukan dari apa yang ada di dalam diri manusia, melainkan berdasarkan situasi yang dihadapkan pada manusia itu.

Namun demikian, penelitian yang dilakukan oleh Paul Bloom pada tahun 2000-an menunjukkan hasil yang berbeda. Hasil studinya menunjukkan bahwa bahkan pada bayi berusia 6 bulan sekalipun, seseorang sudah memiliki karakter dan pemahaman akan moral. Hasil penelitian ini seolah membuka kembali pintu yang telah lama tertutup mengenai karakter. Oleh karenanya, arus psikologi positif saat ini sudah mulai kembali banyak meneliti tentang karakter.

Dengan pemahaman ini, sesungguhnya karakter dan kepribadian merupakan dua istilah yang serupa. Namun, beberapa ahli berusaha untuk memberikan penekanan yang berbeda mengenai istilah ini. Hasil kesimpulan dari berbagai sumber mengenai perbedaan karakter, kepribadian, temperamen, dan sifat, ialah:

  • Karakter merupakan kombinasi sifat-sifat dalam diri seseorang yang menjadikannya unik, berdasarkan apa yang ia sudah miliki sejak lahir (genetik) maupun apa yang ia pelajari dalam hidupnya (lingkungan). Jadi, karakter dapat juga disebut sebagai learned behavior. 
  • Kepribadian merupakan kombinasi sifat-sifat dalam diri seseorang yang mengarahkannya untuk berpikir, berperasaan, dan bertingkah laku tertentu yang khas dalam berhubungan dengan lingkungannya. Kepribadian berasal dari kata Persona, yang berarti ‘topeng’. Namun bukan berarti bahwa kepribadian merupakan cara seseorang menutupi identitas dirinya. Kata persona dalam Bahasa Yunani lebih merujuk pada simbol yang merepresentasikan identitas seseorang; ‘alat’ yang digunakan oleh seseorang untuk memperkenalkan dirinya pada dunia. Lickerman mengatakan bahwa kepribadian lebih bersifat menetap dan dipengaruhi oleh faktor keturunan, sedangkan karakter lebih terbentuk karena pembelajaran terhadap nilai dan kepercayaan.
  • Temperamen ialah kumpulan sifat seseorang yang diperoleh sejak ia lahir. Aelius Galenus (Galen), seorang dokter pada tahun 120an, telah memperkenalkan empat macam cairan dalam tubuh yang dipercaya menentukan temperamen seseorang, yakni: Melankolis, Sanguinis, Koleris, dan Plegmatis. Teori ini kemudian dijabarkan dengan lebih komprehensif oleh Hippocrates.
  • Sifat adalah satu karakteristik spesifik dalam diri seseorang dan ketika dikombinasikan antara yang satu dengan lainnya, membuat seseorang menjadi pribadi yang unik dan membentuk identitas orang tersebut.

Berdasarkan perbedaan di atas, karakter sebenarnya lebih terkait dengan nilai-nilai serta kepercayaan seseorang. Itulah sebabnya hingga kini istilah karakter lebih populer dalam ilmu tentang pengembangan diri, terutama yang terkait dengan aspek spiritual seseorang, dibandingkan dengan dalam ilmu psikologi murni.

 

Tahun baru, Masalah baru?

GAMBAR

Menyongsong tahun yang baru, setiap individu memiliki respon yang bervariasi. Ada yang bersemangat, sedih, takut, cemas, dan bahkan merasa bahwa semakin hari hidupnya menjadi semakin tidak bermakna. Hal ini tidak jarang dirasakan oleh mereka yang mengalami beban pergumulan yang berat, terutama jika masalahnya tidak kunjung selesai dari tahun ke tahun.

Pada dasarnya, setiap manusia, sepanjang ia masih bernapas tidak pernah lepas dari apa yang dinamakan dengan “masalah” dalam hidupnya. Ketika seseorang masih “diberikan” masalah, itu menjadi tanda bahwa ia masih “hidup”. Yang menjadi krusial dalam hidup manusia bukanlah jenis masalah apa yang dihadapi, seberapa banyak dan berat masalah yang dihadapi, namun lebih kepada bagaimana mengatasi masalah-masalah yang muncul dalam kehidupan. Suatu pepatah mengatakan, ”We’re not defined by our trials, but by how we face them.”

Cara kita menyikapi suatu masalah (dari masalah yang sangat sepele hingga masalah yang dikategorikan sangat berat) dalam hidup dapat menentukan tingkat kesehatan mental kita. Orang yang mudah melihat sisi positif dan menghadapi masalahnya dengan cara-cara efektif (fokus pada inti masalah bukan kepada emosi dan orang yang terlibat, terbuka, mau mendengarkan, berpikir ke depan, dsb) cenderung memiliki mental yang lebih sehat dibandingkan dengan orang yang sulit memandang hal positif, mudah menyalahkan diri sendiri atau orang lain, dan bahkan sulit mencari jalan keluar yang efektif karena senang berlarut-larut dalam emosi yang negatif. Seseorang yang sehat mentalnya memiliki kemampuan penyesuaian diri yang baik terhadap lingkungan maupun masalah yang terjadi dalam lingkungannya karena hampir bisa dipastikan tidak ada lingkungan yang sepenuhnya sama dan mampu memenuhi tuntutan masing-masing individu.

Oleh karenanya, dalam menghadapi tahun yang baru, hendaklah kita tidak lagi mengkhawatirkan masalah apa yang akan terjadi nantinya, tapi lebih perlu untuk mengkhawatirkan tentang diri kita sendiri; apakah kita sudah memiliki kesiapan diri serta cara penyelesaian yang efektif ketika diperhadapkan pada suatu masalah tertentu? Jika ya, kita pastinya akan menjadi orang yang memiliki mental lebih kuat dan sehat dari hari ke hari. Jika tidak, kita dapat menjadi individu dengan mental yang semakin lemah dan rapuh seiring berjalannya waktu. Kesehatan mental yang semakin buruk lama kelamaan dapat menggerogoti kesehatan fisik kita karena keduanya saling memberikan pengaruh satu sama lain, dan tentunya bukan itu yang kita harapkan di sepanjang sisa kehidupan kita saat ini.

“What we achieve inwardly, will change outer reality.”-Plutarch

 

Homoseksual: Salahkah?

Rainbow Flag

Rainbow Flag / Bendera Pelangi, Lambang dari LGBT yang dipercaya sebagai persamaan hak dan penerimaan keberbedaan sebagai hal yang memperindah

26 Juni 2015 menjadi hari yang paling bersejarah, terutama bagi orang-orang yang mengalami orientasi homoseksual, atau lebih dikenal dengan istilah LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender). Pada hari itu, US Supreme Court memutuskan kesamaan hak bagi kelompok LGBT untuk dapat menikah dan dilindungi secara legal.

Isu ini terus menjadi isu yang kontroversial, terlihat dari hanya selisih satu suara antara para hakim konstitusi yang membuat keputusan: 5 orang menyatakan setuju dan 4 orang lainnya menyatakan tidak setuju. Keputusan ini juga dapat dikatakan menjadi salah satu keputusan paling kontroversial yang dirasakan warga Amerika. Bukan hanya itu, implementasi dari keputusan itu juga dirasakan di berbagai negara lainnya, termasuk Indonesia, mengingat Amerika sering dianggap sebagai negara yang paling berpengaruh, termasuk dalam menentukan ‘peradaban’ manusia.

Pasca hari itu, lebih banyak orang yang dapat secara terbuka mengakui orientasi seksualnya, termasuk di Indonesia. Mulai banyak orang dari kelompok LGBT yang melakukan coming out (mendeklarasikan diri tentang status orientasi homoseksualnya) kepada orang lain. Beberapa orang menganggap ini sebagai hal wajar karena mereka perlu mendapat hak yang sama dengan orang-orang lainnya, sementara beberapa lainnya menganggap ini sebagai suatu indikasi degradasi moral, bahkan ada pula yang mengaitkannya dengan hal yang lebih spiritual: sebagai tanda-tanda zaman akhir.

Siapapun memang bebas menentukan pendapat dan posisinya. Namun penting bagi kita untuk mempertimbangkan beberapa data dan fakta sebelum mengekspresikan pendapat, sehingga apa yang dapat disampaikan, dapat dipertanggungjawabkan.

Berikut beberapa hal terkait LGBT yang perlu kita ketahui.

#1. Dalam dunia psikologi, LGBT tidak lagi dianggap sebagai gangguan psikologis.

Sejak diterapkannya DSM-III-R (Diagnosis and Statistical Manual for Mental Disorders), LGBT tidak lagi dianggap sebagai gangguan psikologis. Isu yang berkembang mengatakan bahwa banyak perumus DSM yang juga kelompok LGBT sehingga memperjuangkan agar LGBT tidak lagi dianggap sebagai psikopatologi. Walau demikian, orang-orang yang mengalami gangguan identitas terkait dengan orientasi seksual sebenarnya masih terklasifikasi dalam jenis gangguan tertentu (dalam DSM-V disebut body dysphoria; merasa berada di dalam tubuh yang salah, sehingga menyukai sesama jenis). Beberapa kalangan menyebutkan bahwa dasar penentuan gangguan psikologis menurut DSM ialah prevalensi statistik (seberapa banyak orang yang mengalami gangguan tersebut) dalam masyarakat, sehingga jika jumlahnya sudah semakin banyak, maka yang dianggap ‘tidak normal’ menjadi ‘normal’.  Tetapi sesungguhnya, bisa juga yang terjadi sebaliknya: karena dianggap tidak merupakan gangguan psikologis, maka banyak orang-orang yang bereksperimen dengan melakukan hubungan sesama jenis dan akhirnya menjadi homoseksual.

#2. LGBT tidak lebih buruk dari fobia atau depresi, namun perlakuan orang lain membuatnya seolah-olah menjadi lebih buruk.

Ini yang seringkali keliru dalam masyarakat. Kaum homoseksual seringkali mendapat stigma yang begitu negatif, sehingga seolah-olah mereka menjadi warga kelas dua, orang-orang terkutuk, dan mendapat perlakuan yang tidak manusiawi. Dalam dunia psikologi sosial, dikenal istilah ostracism (suatu bentuk diskriminasi dan pengabaian yang ekstrim kepada orang lain). Ostracism merupakan bentuk ‘sanksi sosial’ yang sangat kejam, karena efeknya sangat besar bagi kondisi psikologis korbannya (mulai dari depresi bahkan ada yang hingga melakukan upaya bunuh diri). Agaknya itulah yang dialami oleh kelompok LGBT. Tekanan dan penolakan sosial begitu kuat sehingga menimbulkan berbagai manifestasi gejala psikologis lain yang menyertai kelompok LGBT. Padahal, mereka jelas adalah orang normal yang sangat dapat berfungsi secara sosial, interpersonal, dan intelektual, hanya fungsi seksual dan persepsi hubungan romantisnya saja yang berbeda dengan kebanyakan orang pada umumnya. Mereka jelas tidak lebih parah dari orang yang depresi, fobia, atau gangguan psikologis lainnya, namun perlakuan masyarakat terhadapnya sangat berlebihan sehingga membuat mereka seakan-akan jauh lebih parah. Pertanyaan sederhana yang dapat membantu memetakan seberapa persepsi kita terhadap kaum LGBT: “mana yang lebih baik (harus pilih salah satu): memiliki saudara yang mengalami adiksi narkoba atau yang homoseksual?”

#3. Mayoritas orang dengan homoseksual adalah korban, bukan pelaku.

Persepsi seseorang tentang seksual dan kenikmatan seksual berkembang melalui pengalaman di masa perkembangannya. Menurut teori psikoanalisa, usia sebelum akil balik sangat menentukan sisa hidup orang tersebut, termasuk bagaimana orientasi seksualnya berkembang. Namun dalam kenyataannya, homoseksual juga dapat berkembang karena pengalaman traumatis yang terjadi di masa dewasa orang itu (walau perkembangan yang terjadi di masa dewasa cenderung lebih mudah dikembalikan orientasinya ke heteroseksual). Beberapa cerita dari kaum homoseksual mengekspresikan bagaimana hilangnya peran salah satu orangtua, kejadian pemerkosaan dengan sesama jenis di masa kecil, atau penolakan berlebihan di masa remaja menjadi sebab yang membuatnya mengembangkan orientasi homoseksual. Namun anehnya, dalam masyarakat, mereka yang sebenarnya korban seringkali dianggap sebagai pelaku sehingga ditimpali dengan sanksi sosial yang berlebihan.

Di sisi lain, bagi kelompok LGBT, persepsi sebagai korban seringkali dianggap sebagai dalih yang membenarkan perilakunya, sehingga membuatnya terus mengembangkan orientasi homoseksualnya. Tentu ini juga merupakan hal yang keliru, karena ‘seseorang bisa saja merasa masa kininya merupakan akibat dari masa lalunya, tetapi tidak boleh menyerahkan masa depannya sebagai akibat dari masa lalunya!’. Saya sangat percaya perjuangannya sangat besar dan seringkali merupakan perjuangan seumur hidup, tetapi bukan menjadi hal yang tidak mungkin jika disertai dengan kebulatan tekad dan komitmen untuk memeluk nilai-nilai hidup yang sesuai dengan filosofi spiritualnya.

#4. Homoseksual dapat dikontrol.

Ini yang terus menjadi pertanyaan bagi mereka yang menemukan dirinya mengalami homoseksual, namun tidak mau menerima dirinya demikian. Pertanyaan yang lantas muncul ialah: “dapatkah saya disembuhkan?”. Jawabannya, tidak. Homoseksual bukan penyakit layaknya influenza atau diare sehingga perlu disembuhkan. Mereka tidak pernah sakit, sehingga jelas tidak pernah disembuhkan. Namun mereka memiliki orientasi yang menyimpang, sehingga penting untuk diluruskan atau dikembalikan. Namun, kunci utamanya ialah kesadaran diri bahwa penyimpangan orientasi seksual itu bukan hal yang tepat.

Ini penting karena cukup banyak dari mereka yang menuntut persamaan hak dengan menganggap bahwa setiap orang memiliki hak untuk berekspresi, termasuk mengekspresikan kenikmatan seksual melalui orientasi homoseksualnya. Perdebatan ini biarlah menjadi pergumulan hati mereka, tidak perlu ditentang maupun dipaksakan karena toh pemaksaan tidak pernah berujung pada hal yang diharapkan. Namun penting sekali untuk diberitahu mengenai fakta yang sebenarnya terjadi: bahwa homoseksual bukan merupakan natur awal manusia, jarang sekali orang yang ditemukan dilahirkan dengan homoseksual, dan bahwa homoseksual dapat dikontrol.

Upaya intervensi psikologis untuk membantu orang yang mengalami homoseksual dan ingin mengubah orientasi seksualnya bermacam-macam, ada berbagai terapi yang dapat diterapkan dengan tingkat efektivitas yang beragam tergantung dari kliennya. Namun, sekali lagi, kunci utamanya ialah kesadaran diri akan kondisi saat ini, penerimaan akan peristiwa kurang menyenangkan yang mungkin pernah terjadi di masa lalu, serta kebulatan tekad untuk berubah. Orang-orang yang mengalami homoseksual di masa dewasa (setelah remaja) biasanya lebih mudah untuk diubah daripada mereka yang mulai mengembangkan homoseksual di masa remajanya. Wujud perubahan pasca terapi pun beragam, ada yang sampai mampu menjadi heteroseksual, ada pula yang menganggapnya sebagai perjuangan seumur hidup dengan melawan godaan homoseksual dan tidak mengembangkan orientasi heteroseksual. Tentu, di balik segala upaya terapi yang ada, upaya intervensi paling mudah ialah dengan meminta klien menerima kondisinya saat ini dan menumbuhkan kepercayaan diri sebagai orang dengan homoseksual. Namun, saya percaya ini bukan cara yang bijaksana, terutama apabila klien sebenarnya menemukan bahwa hal tersebut adalah hal yang salah bagi dirinya.

 

Apakah homoseksual salah? Seringkali saya ditanyakan pertanyaan ini. Bagi saya, lebih penting untuk menjawab bagaimana kita mempersepsikan mereka yang mengalami homoseksual, karena pertanyaan benar atau salah membutuhkan pedoman, dan mungkin beberapa orang memiliki pedoman yang berbeda dengan orang lain. Sebagai orang yang percaya dengan keberadaan Tuhan, tentu saya dapat mengatakan hal tersebut salah karena tidak berkenan di mata Tuhan. Namun, kesalahan dari homoseksual tidak pernah dapat menjadi alasan bagi kita untuk mendiskreditkan mereka, karena sejatinya mereka adalah korban dan kebanyakan dari mereka tidak menginginkan kondisi demikian. Begitu pula sebaliknya, bagi mereka yang mengalami homoseksual, posisi sebagai korban dan kesadaran bahwa hal tersebut adalah salah menurut kacamata agamanya tidak boleh menjadikan alasan untuk diri berpasrah dan ‘menikmati kesalahannya’.

Memperbaiki kondisi homoseksual memerlukan perjuangan dari dua belah pihak. Dari masyarakat, berhentilah menolak mereka karena mereka bukan orang yang begitu keji. Mulailah anggap mereka sebagai korban yang sebenarnya mungkin ingin berubah dan mungkin saja akan dapat berubah dengan penerimaan atas diri mereka. Anda boleh membenci perilakunya, tetapi justru Andalah yang menjadi salah ketika membenci pelakunya. Bagi mereka yang mengalami homoseksual, percayalah bahwa Anda selalu memiliki hak untuk memilih masa depan Anda melalui apa yang Anda lakukan hari ini.

“If you want to change attitude, try to start to change your behavior.”

– William Glasser

Mental Penunda

source: voiceofyouth.org

Ada pepatah tua yang mengatakan, “Harus bangun pagi, jika tidak rezekimu bisa dipatok ayam.” Jika dimaknai secara harfiah, memang hal tersebut terdengar seperti omong kosong, apalagi pada kehidupan perkotaan saat ini, suara ayam berkokok saja sudah jarang terdengar. Namun, pepatah itu menunjukkan adanya kebiasaan yang sudah bertahan lama pada manusia dari masa ke masa, kebiasaan untuk hidup bermalas-malasan, menunda mengerjakan sesuatu yang menjadi tugasnya, dan memilih untuk ‘bersenang-senang dahulu, berakit-rakit kemudian‘.

Procrastinator, atau kebiasaan menunda pekerjaan, merupakan wabah yang dapat dikatakan sudah menjadi epidemi, terutama pada masyarakat kita sekarang ini. Kebiasaan ini umumnya tidak terbentuk dengan cepat, melainkan sudah terjadi sejak kecil, dipertahankan hingga seseorang bekerja, bahkan hingga tua, menyisakan beberapa tugas dan peluang yang sebenarnya bisa memberikan dampak positif, namun seringkali terlewati karena ditunda. Oleh sebab itu, tidak heran jika negara kita selalu selangkah lebih belakang daripada negara-negara lain yang serupa dengan kita, bahkan beberapa negara bisa mengungguli negara kita seiring dengan waktu.

Salah satu sebab yang mempertahankan sifat procrastinator dalam masyarakat kita saat ini ialah karena kebanyakan rakyat kita masih termotivasi untuk mencapai garis keseimbangan (keadaan stabil, harmonis, damai), bukan mencapai garis terdepan. Budaya masyarakat yang mengedepankan nilai-nilai kolektif, menjunjung tinggi kesabaran (‘alon-alon asal kelakon’), mengalah demi terciptanya keharmonisan, menghindari pertentangan dan perdebatan (termasuk perdebatan yang sesungguhnya diperlukan untuk menguji kebenaran suatu argumen dan kebijakan), pada akhirnya hanya mengarahkan kita untuk ‘tidak berlari agar tidak terjatuh’, bahkan menganggap jongkok adalah cara yang paling baik agar tidak terluka karena jatuh, dan membuat kita stagnan, tetap jongkok di tempat. Melakukan kesalahan dianggap gagal dan menakutkan, sehingga menganggap lebih baik diam, menunda, menunggu sampai ada pertolongan. Sebetulnya tidak ada yang salah dengan nilai-nilai budaya kita, justru nilai-nilai itu sangat membangun kultur masyarakat yang unik. Namun seringkali nilai-nilai itu digeneralisasikan begitu rupa sehingga kita gagal untuk memaknainya secara tepat. Lihatlah sekeliling kita saat ini, di mana kita dapat jumpai iklim perdebatan dan adu argumen yang produktif? Bahkan di universitas, yang notabene tempatnya orang berpendidikan, perdebatan seringkali dikalahkan oleh kultur senioritas, di mana yang muda memilih mengalah hanya karena tidak lahir lebih dulu daripada yang tua. Dalam masyarakat pun demikian, sering muncul pernyataan ‘sing waras ngalah’ yang dalam beberapa hal hanya merupakan ekspresi penghindaran diri dari konflik, atau semata-mata karena tidak terlatih kemampuannya untuk beradu argumen yang logis dan beretika. Sebaliknya, perdebatan yang terpaksa terjadi sering diakhiri dengan adu jotos, yang sebenarnya merupakan cara paling primitif yang dianggap dapat mengembalikan diri ke garis keseimbangan dengan instan (padahal faktanya kekerasan fisik adalah cara sengaja menjatuhkan diri untuk menghindari rasa sakit karena  jatuh yang tidak diprediksi). Nilai-nilai yang salah dihayati ini akhirnya membentuk pola pikir masyarakat yang kurang mau bersaing, lebih memilih pasif dan diam, menganggap berbeda berarti melawan, sampai menggiring kita pada suatu pandangan bahwa diam lebih baik daripada bergerak, karena bergerak berisiko; lebih baik diam dan ditunda hingga selesai dengan sendirinya, daripada segera bertindak, karena bertindak berpeluang salah. Apa buktinya? Nilai tukar rupiah terus menurun, ketergantungan terhadap ekspor bahan-bahan pokok belum bisa dilepaskan, berbagai kesenian yang merupakan identitas bangsa sering ‘kalah cepat’ untuk didaftarkan sehingga dicuri oleh negara-negara lain. Banyak sekali pekerjaan rumah yang harus dikerjakan, terutama menjelang AFTA ini, yang sedikit banyak disebabkan karena kebiasaan menunda.

Sebab lainnya yang membuat sifat procrastinator bertahan dalam masyarakat kita ialah karena kita masih terbiasa menunda hal-hal yang kurang menyenangkan, dan sulit menunda sesuatu yang memuaskan kita. Jika dihayati lebih mendalam, sebetulnya kebiasaan menunda pekerjaan sama dengan kebiasaan tidak bisa menunda mendapatkan pemuasan diri, cepat berpuas diri. Penelitian marshmallow yang dilakukan oleh Walter Mischel dari Stanford University tahun 1960-an menunjukkan orang-orang yang mampu menunda mendapatkan sesuatu yang menyenangkan (delayed gratification) adalah orang-orang yang terbukti lebih sukses dalam akademik maupun hidup, mampu meregulasi emosi dengan lebih baik, dan lebih siap menghadapi tantangan. Banyak dari kita yang lebih memilih untuk menunda berlari karena puas hanya dengan tidak terjatuh, padahal dengan berlari, kita berpeluang untuk menjadi sehat dan bugar – lebih daripada sekedar tidak sakit karena jatuh. Dalam studi, misalnya, ketika mendapat nilai B, kita memilih berpuas diri dan mengatakan bersyukur tidak mendapat C, daripada berupaya keras agar kelak mendapat A. Inilah kondisi dilematis dari bersyukur, yang membuat kita terlena dan enggan untuk mengambil risiko menuju jalan yang jauh lebih baik. Lihat saja bagaimana masyarakat mulai beramai-ramai menyuarakan kegagalan pemerintahan karena harga rupiah yang terus melemah. Padahal pelemahan ekonomi bukan hanya di Indonesia dan beberapa ahli menyebut pelemahan rupiah terjadi salah satunya sebagai konsekuensi atas pembangunan infrastruktur, yang nantinya akan mensejahterakan rakyat. Berbagai kebijakan terlalu dini dievaluasi karena ketidaksiapan kita untuk merasa sakit sementara demi mencapai kesenangan yang lebih besar.

Oleh karenanya, mungkin dapat menjadi langkah yang tepat bagi pemerintah untuk mendasari realisasi segala agenda pembangunan dengan melakukan revolusi mental. Mental-mental procrastinator perlu ditransformasi menjadi mental yang siap membangun dan berkarya, siap menanggung sakit dan kehilangan popularitas demi kesenangan yang lebih luhur dan bertahan di masa depan. Kita berharap semoga agenda revolusi mental dapat segera diterjemahkan dalam bentuk-bentuk kebijakan yang nyata dan terimplementasi dengan efektif pada masyarakat. Tantangannya pasti sangat besar, apalagi setelah ditunda 70 tahun lamanya.

Pertanyaannya sekarang, sudah sampai mana revolusi mental? Semoga saja tidak tertunda, apalagi ditunda.

Ayo kerja! Ayo kerja! Ayo kerja!

PSIKOLOG, PSIKIATER, KONSELOR: Apa Bedanya?

Psychologist, Psychiatrist, Counselor - Experiencing Life Foundation

Sekalipun ketiga profesi ini sedang sangat berkembang di masyarakat Indonesia akhir-akhir ini, belum banyak orang yang tahu bagaimana ketiganya berbeda. Sebagian besar masyarakat bahkan menganggap sama antara psikolog, psikiater, dan konselor. Padahal, ketiganya memiliki cara kerja, perspektif, dan pendekatan yang berbeda dalam kerja profesionalnya.

Ketiganya sering dianggap sama karena berhubungan dengan penanganan masalah kejiwaan manusia. Benar, baik psikolog, psikiater, maupun konselor, ketiganya berfokus untuk membantu seseorang dalam mengatasi permasalahan yang dialami dalam hidupnya. Akan tetapi, cara kerja serta pendekatannya dalam mengatasi permasalahan manusia berbeda-beda. Sebelum menjawab kepada siapa seharusnya kita datang ketika mengalami masalah tertentu, mari kita pahami lebih lanjut pendekatan dan cara kerja masing-masing profesi tersebut.

PSIKOLOG – bergelar M.Psi / Psi. (psikolog). Mereka yang disebut psikolog ialah yang telah menempuh program Master dalam bidang tertentu dari psikologi profesi(klinis, pendidikan, industri-organisasi) – kecuali untuk para lulusan psikologi S1 yang lulus masih dengan gelar “dra. / drs.” (karena dalam program S1, mereka sudah mendapat bekal yang setara dengan program S2 masa kini). Selama studinya, para psikolog dibekali dengan berbagai teori tentang manusia, dinamika perkembangan manusia, serta kemampuan untuk menganalisis dan melakukan psikoterapi dalam membantu seseorang menyelesaikan masalahnya. Asumsi dasar yang menjadi landasan kerja psikolog adalah bahwa setiap manusia memiliki kapasitas untuk berpikir dan menentukan apa yang terbaik bagi dirinya, sehingga peran psikolog adalah merefleksikan, memberikan pandangan, membuka wawasan, bahkan dalam beberapa kasus sampai mengarahkan klien untuk dapat menyelesaikan masalahnya. Tidak ada obat-obatan yang dipakai selain kata-kata. Jadi, psikolog memandang manusia sebagai individu dalam konteksnya dengan lingkungan atau masyarakat. Di samping itu, psikolog juga berkompeten untuk melakukan dan menginterpretasikan berbagai macam tes psikologi, seperti tes IQ, tes minat bakat, tes kepribadian untuk membuat profil klinis, serta berbagai macam tes lainnya. Tes tersebut bisa dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk memberikan gambaran psikologis tentang klien atau sekedar sebagai referensi untuk pihak ketiga (misal: syarat mengikuti Ujian Nasional, syarat masuk ke sekolah atau perguruan tinggi, syarat mendaftar jadi Caleg, dsb.).

PSIKIATER – bergelar dr. dan Sp.KJ (Spesialis Kesehatan Jiwa). Psikiater adalah seorang dokter yang melanjutkan studi S2 dalam bidang Psikiatri, sehingga mendapat gelar Spesialis dalam bidang Kesehatan Jiwa. Berbeda dengan psikolog, psikiater lebih berfokus pada perubahan-perubahan biologis atau fisiologis yang terjadi dalam diri individu, yang menyebabkan atau disebabkan oleh masalah yang dihadapi individu tersebut. Sebagai contoh, seseorang yang sedang depresi perlu diberikan obat-obatan anti depresan untuk mengimbangi kadar neurotransmiter Serotonin yang menjadi tidak seimbang, sebagai reaksi tubuh akibat kondisi depresi tersebut. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa asumsi dasar yang menjadi landasan kerja seorang psikiater ialah bahwa masalah kejiwaan manusia disebabkan karena atau menyebabkan ketidakseimbangan fungsi-fungsi fisiologis (neurotransmiter, hormon, dsb.). Oleh karenanya, seorang psikiater dapat menggunakan obat-obatan untuk membantu seseorang mengatasi masalah kejiwaannya – walaupun tidak harus selalu menggunakan obat-obatan. Beberapa psikiater juga berkompeten untuk memberikan tes-tes psikologi tertentu, seperti MMPI dan berbagai tes neuropsikologi untuk melihat keberfungsian syaraf serta anomali atau adaptabilitas seseorang dalam masyarakatnya.

KONSELOR – bergelar M.K. / M.A. in counseling / Kons. Gelar konselor bisa diperoleh dari program Pendidikan (S.Pd. / M.Pd. yang melanjutkan spesialisasi dalam bidang Konselor), atau dari program Teologi. Program Konselor di bawah Fakultas Psikologi di Indonesia memang belum ada. Di luar negeri, Konselor atau Counseling Psychology merupakan program yang ada di bawah Program Studi Psikologi. Itulah sebabnya ada beberapa konselor yang bergelar M.A. (Master of Arts). Pendekatan seorang konselor mirip dengan psikologi. Hanya saja, fokus kerja seorang konselor ialah kepada individu yang normal bermasalah. Normal bermasalah berarti mereka yang sebenarnya memiliki masalah dan tantangan dalam hidup, namun tidak sampai menyebabkannya mengalami gangguan jiwa yang serius, seperti: skizofrenia, depresi dengan gejala psikotik, atau gangguan-gangguan ekstrim lainnya. Oleh sebab itu, pendekatan seorang konselor ialah bahwa setiap manusia memiliki kapasitas penuh untuk menentukan hidupnya ke arah yang positif dan konstruktif, sehingga peran konselor ialah untuk menjadi seorang teman, mentor, dan pendengar yang baik bagi individu tersebut. Bedanya dengan psikologi, seorang konselor tidak dibekali kompetensi yang mendalam untuk menangani seseorang dengan gangguan kejiwaan yang serius. Di Indonesia, program konselor seolah-olah disisipkan dalam bidang psikologi, sehingga seorang psikolog juga dapat berperan sebagai seorang konselor ketika menangani manusia yang normal bermasalah. Walau demikian, sebetulnya pasti akan ada perbedaan cara penangangan antara psikolog dan konselor mengingat penekanan dalam proses belajarnya pun berbeda.  Ada beberapa tes psikologi (namun tidak semua tes psikologi) yang juga dapat dilakukan oleh seorang Konselor yang sudah mendapatkan pelatihan di bidang itu.

PSIKOLOG, PSIKIATER, dan KONSELOR sebenarnya sangat perlu bekerja sama dalam menangani klien agar dapat membantu menyelesaikan masalahnya secara utuh dan holistik. Ketika seseorang mengalami gangguan tidur, misalnya, perlu datang ke siapakah? Jawabannya, jika gangguan tidur itu sangat serius sehingga ia menjadi sulit berkonsentrasi dan berbicara, maka terapi obat-obatan sangat diperlukan terlebih dahulu sehingga ia perlu berkonsultasi dengan psikiater. Setelah terapi obat efektif, maka tubuh dan pikirannya sudah siap untuk ‘diajak berbicara dan berpikir’ soal masalah yang dialaminya. Dalam hal ini, ia dapat berkonsultasi baik kepada psikolog maupun konselor. Jadi, secara umum dapat dikatakan bahwa mereka yang mengalami gejala psikologis sangat serius sehingga tidak dapat berkonsentrasi dan berpikir jernih, lebih memerlukan bantuan psikiater untuk mendapatkan obat-obatan sebagai langkah pertamanya. Baru setelahnya, mereka perlu berkonsultasi untuk menyelesaikan dan menghadapi masalahnya dengan seorang konselor (jika gangguannya masih dalam batas normal) atau psikolog (baik jika gangguannya dalam batas normal maupun sudah dalam batas tidak normal). Seorang praktisi yang profesional tentu akan merujuk pasien atau kliennya yang datang ketika dirasa bahwa kebutuhan utamanya ialah kepada seorang psikolog, psikiater, atau konselor. Yang jelas, tidak ada yang lebih hebat atau lebih pintar daripada yang lain; segalanya hanya tergantung pada kompetensi apa yang lebih diperlukan dalam menangani masalah kejiwaan tersebut.

TES IQ

Apa itu tes IQ?

Dari namanya saja tentu kita tahu bahwa tes IQ ialah tes yang berfungsi untuk mengukur tingkat kecerdasan seseorang, yang tampak dalam kemampuannya memecahkan persoalan, beradaptasi dengan lingkungan, dan memproses, mengolah, serta memanfaatkan informasi baru untuk menghadapi permasalahan yang ditemui sehari-hari.

Aspek apa saja yang diukur dalam tes IQ?

Ada berbagai macam aspek yang diukur, tergantung dari jenis tes yang digunakan, diantaranya: kemampuan berpikir logis, sistematika berpikir, kemampuan diferensial (menemukan hal-hal yang penting atau menemukan inti permasalahan), kemampuan analisis-sintesis, kemampuan matematis, wawasan lingkungan, daya bayang ruang, fleksibilitas berpikir, dan sebagainya. Dari seluruh aspek tersebut, jika dilihat dari sejarah perkembangan tes IQ, hal penting yang menjadi determinan dari skor IQ yang tinggi atau rendah ialah dalam hal kecepatan memproses informasi, mencakup: kecepatan dalam proses sensori, mengolah informasi, dan menggunakan informasi untuk menyelesaikan persoalan yang ada – dalam bahasa psikologi disebut sebagai reaction time. Itulah sebabnya semua tes IQ selalu berupa speed test, menggunakan batas waktu dalam setiap subtesnya. Dan itulah pula sebabnya, orang yang cerdas biasanya tangkas, cepat dalam berpikir dan bereaksi; sementara orang yang lambat sering diasosiasikan kurang cerdas (walau tidak selamanya demikian).

Apa manfaat atau tujuan dari tes IQ?

Tes IQ bermanfaat untuk mengetahui tingkat kecerdasan seseorang serta apakah kapasitas kecerdasannya sudah digunakan secara maksimal atau belum dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, tes IQ juga biasanya digunakan sebagai salah satu syarat atau pedoman dalam penerimaan siswa, mahasiswa, atau bahkan karyawan di suatu institusi pendidikan atau perusahaan.

 Apakah IQ seseorang bersifat menetap atau bisa berubah-ubah?

Secara teori, IQ bersifat menetap, sehingga dapat juga dikatakan dipengaruhi oleh faktor keturunan. Namun beberapa aspek kecerdasan dapat dipelajari karena sarat muatan budaya. Hal inilah yang sering membuat IQ berubah-ubah, sekalipun biasanya perubahannya masih dalam batas atau kategori yang sama. Seorang anak dengan jurusan IPA, misalnya, mungkin akan lebih baik skornya dalam bidang matematis, dibandingkan dengan anak dengan jurusan IPS, karena efek latihan dan seringnya menghadapi soal-soal tentang angka dalam kehidupan sehari-harinya. Selain itu, faktor lain yang sangat berpotensi membuat skor IQ berubah-ubah ialah frekuensi dan interval dilakukan tes IQ, terutama dengan alat tes yang sama. Dalam hal ini, efek belajar tentu sangat menentukan dan jika dilakukan berulang-ulang, maka skor IQ yang berikutnya itu menjadi kurang relevan dalam mewakili tingkat kecerdasan orang tersebut. Jadi, skor IQ seseorang mungkin bisa berubah-ubah, tetapi tingkat kecerdasannya biasanya bersifat relatif menetap, berada dalam kategori kecerdasan yang sama.

Apa makna skor IQ?

Secara umum, skor Intelligence Quotient (IQ) merepresentasikan perbandingan usia mental dan kronologis seseorang, sesuai dengan rumus berikut:

IQ formula - Experiencing Life FoundationDari rumus tersebut, maka jika seseorang berusia 12 tahun dan memiliki skor IQ 120, dapat dikatakan memiliki usia mental setara dengan remaja berusia 14 tahun 4 bulan. Jadi kemampuannya dalam memecahkan masalah, memproses informasi, atau berpikir abstrak serta beradaptasi dengan lingkungannya setara dengan remaja berusia 14 tahun 4 bulan. Akan tetapi, rumus ini tentu tidak berlaku jika diterapkan pada individu berusia 65 tahun, misalnya, karena di usia yang lebih tua, tingkat kemampuan kognitif seseorang akan cenderung mengalami penurunan. Biasanya rumus ini sesuai untuk diterapkan sampai pada batas usia 40 tahun mengingat usia tersebut merupakan usia puncak dari kemampuan seseorang dalam berpikir kritis.

Namun demikian, di balik analogi tersebut, tentu akan lebih relevan untuk memaknai skor IQ sesuai dengan kategorinya. Jika seseorang dikatakan memiliki IQ 120 artinya memiliki 20 poin lebih tinggi daripada rata-rata individu seusianya, karena angka 100 merupakan angka yang menjadi titik kecerdasan rata-rata individu seseorang dengan usia tersebut.

Apakah skor IQ seseorang bisa dibandingkan dengan orang lain?

Bisa ya, bisa tidak. Ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum mengatakan bahwa A lebih cerdas dari B:

    1. Skala tes yang digunakan. Ada berbagai macam tes IQ, yang paling sering digunakan khususnya di Indonesia, misalnya: IST, WAIS, WB, WISC, dan CFIT. Jika A memiliki skor IQ 110 dengan skala IST dibandingkan dengan B dengan skor 106 dengan skala WAIS, tentu hal ini tidak pasti menunjukkan bahwa A lebih cerdas daripada B. Oleh sebab itu, membandingkan skor IQ harus memperhatikan skala tes yang digunakan. Sekalipun masing-masing tes IQ biasanya memiliki informasi reliabilitas dan validitas yang baik, sehingga mengindikasikan bahwa jika seseorang di tes dengan semua tes maka hasilnya relatif sama, tetapi tetap sangat mungkin terjadi peluang kesalahan karena faktor ideosinkratik (keunikan individual) maupun faktor-faktor lain dari lingkungan.
    2. Waktu, lokasi, dan cara tes dilakukan (diadministrasikan). Tentu perbedaan skor akan menjadi lebih bermakna jika perbandingan skornya dilakukan terhadap seseorang yang dites pada waktu yang sama, di tempat yang sama, dengan instruktur dan alat tes yang sama, serta dengan kondisi fisik yang sama-sama sehat.

Manakah tes IQ yang paling baik?

Memang ada banyak sekali jenis tes IQ. Secara garis besar, dapat dibedakan menjadi tes-tes yang mengukur kemampuan yang tidak dipengaruhi oleh budaya (fluid intelligence / culture fair) dan kemampuan yang dipengaruhi oleh budaya atau dapat dipelajari (crystallized intelligence / culture related). Mengenai tes IQ yang paling baik, dapat dikatakan bahwa tes IQ yang paling baik ialah yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kondisi orang yang akan di tes. Seorang yang tinggal di daerah pedalaman, tentu akan paling baik di tes dengan tes yang tidak banyak pertanyaan tentang pengetahuan umum (misalnya: siapa menteri luar negeri RI?) karena mereka tidak memiliki akses informasi yang memadai. Ia akan lebih cocok mendapatkan tes yang lebih mengandalkan logika berpikir, tanpa huruf dan angka. Yang jelas, setiap tes memiliki kelebihan dan keterbatasan, sehingga pemilihan tes yang baik sangat tergantung dari kepekaan tester (dalam hal ini psikolog) dalam menentukan tes apa yang sesuai dengan kebutuhan klien, tujuan pengetesan klien, dan kondisi klien saat itu.

Jika saya ingin mengetahui IQ saya atau membutuhkan informasi lebih lanjut tentang tes IQ, saya harus menghubungi siapa?

Jika Anda membutuhkan informasi lebih lanjut atau membutuhkan jasa tes IQ, silakan hubungi kami di 021 – 40 626 001 atau email ke: [email protected]