Tag Archives: depresi

Bersahabat dengan Kesulitan

Momofuku_Ando

Momofuku Ando (1910-2017).        Sumber: Wikipedia

Berapa banyak di antara kita yang belum pernah makan mie instan? Dengan waktu masak yang kurang dari 10 menit, kita dapat menikmati semangkok mie hanya dengan merebus air panas dan menuang mie serta bumbunya. Sepertinya di antara kita hampir tidak ada yang belum pernah makan mie instan, bahkan mungkin banyak dari kita yang ketagihan memakannya.

Ide menciptakan mie instan ternyata muncul dari sebuah tekanan dan kesulitan. Sejarah mencatat nama Momofuku Ando, pria berdarah Taiwan-Jepang, yang pertama kali menciptakan mie instan, juga dikenal sebagai pendiri Nissin Food, salah satu perusahaan mie instan yang dikenal oleh dunia.

 

Pasca Perang Dunia II, ketika Jepang kalah dari Taiwan, terjadi krisis pangan yang memaksa warga Jepang untuk hanya memakan roti dengan bahan dasar tepung gandum yang dikirim oleh Amerika Serikat. Di masa sulit seperti itu, Ando justru tidak menyerah dengan situasi yang dialaminya. Ia justru berpikir tentu akan lebih baik jika tepung itu dibuat menjadi mie daripada roti, karena mie adalah makanan yang lebih familiar bagi orang Jepang. Namun, kendala berikutnya ialah mie tidak tahan lama. Oleh karenanya, di usianya yang ke-48 pada masa itu, ia melakukan serangkaian eksperimen untuk mengeringkan mi

 

e sehingga dapat disimpan dalam waktu lama, dan berhasil menciptakan mie instan. Bukan hanya itu, ia juga dikenal sebagai penemu mie dalam gelas (cup o’noodle) karena ia melihat banyak orang yang kesulitan untuk mencari wadah yang memadai untuk membuat mie instan.

Apa yang dilakuka

 

n Ando adalah ‘bersahabat’ dengan kesulitan. Coba bayangkan jika ia menghindarinya, mengurung diri, atau berusaha lari dari kesulitan. Dengan bersahabat dengan kesulitan, muncul ide dan peluang yang akhirnya justru menjadi suatu daya lenting untuk membuat dirinya menjadi lebih baik lagi, bahkan berdampak bagi banyak orang di seluruh dunia hingga hari ini.

Orang-orang yang sukses dalam hidupnya bukan mereka yang tidak pernah menemukan kesulitan. Justru melalui kesulitan seseorang dapat mencapai kesuksesan. Kegagalan atau kesuksesan tidak dilihat dari seberapa besar kesulitan yang dihadapi, melainkan bagaimana reaksi kita menghadapinya. Ketika menghadapi tekanan, cobalah berpikir untuk menaklukkan tantangan itu, melihat peluang di balik tantangan, daripada menyerah dan pasrah dengan situasi yang ada.

 “Sometimes we are tested not to show our weaknesses, but to discover our strength.” – anonymous.

Realisasi dan Resolusi Awal Tahun

Entah karena trend yang sudah berlalu, usia yang bertambah sehingga fokus berubah, atau memang benar adanya, sepertinya memasuki tahun 2017 kita tidak banyak mendapat exposure untuk menyusun New Year Resolution. Namun demikian, meski seringkali resolusi tahun baru hanya sebatas daftar di atas kertas, memiliki target dan komitmen yang hendak dicapai dalam hidup adalah hal yang penting untuk membuat hidup benar-benar hidup. Bayangkan jika hari-hari dihabiskan tanpa rencana yang matang, tidak ada tujuan yang jelas, tentu hidup akan terasa sangat membosankan.

Menyusun resolusi tahun baru membutuhkan refleksi akan apa yang terjadi di masa lalu dan proyeksi akan apa yang akan/kita ingin terjadi di masa depan. Kita diajak untuk berpikir dalam dua dimensi waktu (PASTFUTURE), yang sangat berguna untuk merumuskan langkah terbaik di masa kini (PRESENT).

Namun, sadarkah Anda bahwa kemampuan berpikir di masa lalu/masa depan saja tidak cukup untuk merealisasikan apa yang kita inginkan? Bahkan, orang-orang yang dibayang-bayangi oleh masa lalu dan masa depannya sangat rentan mengalami berbagai gejala dan gangguan kejiwaan. Depresi, misalnya, timbul karena penyesalan akan masa lalu atau dihantui akan kegagalan di masa depan. Gangguan kecemasan disebabkan karena kekhawatiran berlebih akan hal-hal yang ‘belum tentu terjadi’ di masa depan.

Tujuan akhir dari merealisasikan resolusi tahun baru tentunya mencapai kebahagiaan. Ironisnya, banyak orang yang setelah menuliskan resolusi itu justru malah semakin jauh dari kebahagiaan. Lalu, apa yang harus dilakukan supaya kita berhasil merealisasikan resolusi kita dengan tetap merasa bahagia?

John Teasdale, Mark Williams, dan Zindel Segal memperkenalkan konsep Mindfulness Based CBT yang terinspsirasi dari konsep Mindfulness Based Stress Reduction (MBSR) yang dikemukakan oleh Jon Kabat Zinn tahun 1979. Dalam konsep ini, ada tiga hal yang penting untuk diterapkan untuk memperoleh kebahagiaan seiring merealisasikan target yang ingin kita capai:

1. Awareness and Acceptance (kesadaran dan penerimaan diri)

Menetapkan target memang penting. Namun, yang sangat penting ialah memiliki gambaran yang objektif tentang diri kita, termasuk segala kekurangan yang kita miliki. Secara psikologis, kita terbiasa untuk menilai diri lebih positif, menutup mata terhadap beberapa kelemahan diri kita. Namun kegagalan untuk melihat keterbatasan kita dapat berdampak pada menetapkan standar yang kurang realistis. Cobalah untuk merefleksikan diri dan mengesampingkan perasaan, emosi, dan pikiran negatif yang seringkali muncul ketika kita berupaya untuk melihat kekurangan dan kegagalan dalam diri kita. Tidak ada cara lain selain menerima secara utuh kegagalan yang pernah kita buat, melepaskannya dari emosi negatif yang tersisa, dan menjadikannya sebagai pelajaran yang berharga.

2. Non-judgmental (tidak menghakimi)

Belajarlah untuk melihat peristiwa sebagai fakta sehingga kita tidak luput dari pelajaran yang hendak diberikan kepada kita melalui peristiwa itu. Penilaian negatif, merasa gagal, merasa bersalah sesekali dan dalam waktu singkat memang bermanfaat untuk memperbaiki diri. Namun yang seringkali terjadi ialah kita terus-menerus dihantui oleh perasaan demikian. Sepanjang kita sudah sadar akan pelajaran yang didapat dari pengalaman yang kurang menyenangkan itu, lepaskanlah emosi negatif yang menyertai, terimalah sebagai bagian yang utuh dalam hidup, dan tersenyumlah.

3. Live in the present (hidup di masa kini)

Penyebab utama kegagalan merealisasikan keinginan dan tujuan dalam hidup ialah karena kita tidak memiliki kontrol di masa kini. Ironisnya, kita berusaha untuk mengontrol apa yang terjadi di masa lalu atau di masa depan, dengan berkata “andai dulu …” atau “bagaimana jika nanti…”. Berhentilah berangan-angan! Kerjakan apa yang mampu dikerjakan sekarang dan jangan lagi izinkan penyesalan dan kekhawatiran mengontrol hidup kita. Apapun yang tidak bisa kita kontrol, serahkan kepada Siapapun yang kita yakini sanggup mengontrolnya, dan berserahlah.

Selamat memulai tahun yang baru di mana Anda adalah satu-satunya orang yang mengontrol langkah Anda sekarang dan saat ini!

 

“The only thing you sometimes have control over is perspective. You don’t have control over your situation. But you have a choice about how you view it.” – Christ Pine

Tahun baru, Masalah baru?

GAMBAR

Menyongsong tahun yang baru, setiap individu memiliki respon yang bervariasi. Ada yang bersemangat, sedih, takut, cemas, dan bahkan merasa bahwa semakin hari hidupnya menjadi semakin tidak bermakna. Hal ini tidak jarang dirasakan oleh mereka yang mengalami beban pergumulan yang berat, terutama jika masalahnya tidak kunjung selesai dari tahun ke tahun.

Pada dasarnya, setiap manusia, sepanjang ia masih bernapas tidak pernah lepas dari apa yang dinamakan dengan “masalah” dalam hidupnya. Ketika seseorang masih “diberikan” masalah, itu menjadi tanda bahwa ia masih “hidup”. Yang menjadi krusial dalam hidup manusia bukanlah jenis masalah apa yang dihadapi, seberapa banyak dan berat masalah yang dihadapi, namun lebih kepada bagaimana mengatasi masalah-masalah yang muncul dalam kehidupan. Suatu pepatah mengatakan, ”We’re not defined by our trials, but by how we face them.”

Cara kita menyikapi suatu masalah (dari masalah yang sangat sepele hingga masalah yang dikategorikan sangat berat) dalam hidup dapat menentukan tingkat kesehatan mental kita. Orang yang mudah melihat sisi positif dan menghadapi masalahnya dengan cara-cara efektif (fokus pada inti masalah bukan kepada emosi dan orang yang terlibat, terbuka, mau mendengarkan, berpikir ke depan, dsb) cenderung memiliki mental yang lebih sehat dibandingkan dengan orang yang sulit memandang hal positif, mudah menyalahkan diri sendiri atau orang lain, dan bahkan sulit mencari jalan keluar yang efektif karena senang berlarut-larut dalam emosi yang negatif. Seseorang yang sehat mentalnya memiliki kemampuan penyesuaian diri yang baik terhadap lingkungan maupun masalah yang terjadi dalam lingkungannya karena hampir bisa dipastikan tidak ada lingkungan yang sepenuhnya sama dan mampu memenuhi tuntutan masing-masing individu.

Oleh karenanya, dalam menghadapi tahun yang baru, hendaklah kita tidak lagi mengkhawatirkan masalah apa yang akan terjadi nantinya, tapi lebih perlu untuk mengkhawatirkan tentang diri kita sendiri; apakah kita sudah memiliki kesiapan diri serta cara penyelesaian yang efektif ketika diperhadapkan pada suatu masalah tertentu? Jika ya, kita pastinya akan menjadi orang yang memiliki mental lebih kuat dan sehat dari hari ke hari. Jika tidak, kita dapat menjadi individu dengan mental yang semakin lemah dan rapuh seiring berjalannya waktu. Kesehatan mental yang semakin buruk lama kelamaan dapat menggerogoti kesehatan fisik kita karena keduanya saling memberikan pengaruh satu sama lain, dan tentunya bukan itu yang kita harapkan di sepanjang sisa kehidupan kita saat ini.

“What we achieve inwardly, will change outer reality.”-Plutarch

 

Jangan Anggap Remeh Gejala Depresi!

Depresi merupakan gangguan psikologi dengan prevalensi terbesar (sumber: klik di sini). Faktor penyebabnya bisa jadi karena predisposisi genetik, stres, serta peristiwa traumatis dalam hidup. Ironisnya, di Indonesia, depresi seringkali tidak mendapatkan perhatian khusus karena tabunya pandangan masyarakat tentang gangguan ini, sehingga lebih dianggap sebagai sesuatu yang normal dialami setiap manusia, dianggap sebagai pola kepribadian (memang orangnya begitu), atau bahkan dianggap tabu dan terlalu ‘cengeng‘ untuk mendapatkan pertolongan psikologis karena masalah serta gejalanya dianggap sepele.

Salah satu hal yang menunjukkan bahwa gangguan depresi belum terlalu dianggap serius ialah minimalnya pengetahuan masyarakat tentang apa itu depresi. Gejala depresi seringkali disamakan dengan gejala cemas. Padahal, depresi dan cemas merupakan dua gangguan yang sama sekali berbeda. Untuk lebih memahami hal ini, ilustrasi dari Dr. Hans Selye berikut mungkin dapat membantu (sumber klik di sini).

 

stress_response - Experiencing Life Foundation

Diagram di atas memperlihatkan respon seseorang ketika menghadapi stres. Reaksi pertama ketika menghadapi stres ialah memformulasikan masalah/stresor, menyusun perhitungan, serta mempertimbangkan sumber daya di dalam diri untuk mengatasi stres tersebut. Ini semua terjadi pada fase alarm. Selanjutnya, tubuh maupun psikis akan mulai membentuk mekanisme pertahanan diri untuk melawan stres tersebut (tahap resistance). Setelah sumber daya dan mekanisme pertahanan diri dilakukan, akan ada masanya kondisi fisik dan psikis seseorang akan mengalami kelelahan (tahap exhaustion).

Dari diagram di atas, gejala cemas seharusnya muncul di akhir fase 1 hingga titik puncak fase 2, sedangkan gejala depresi mulai timbul sejak akhir gejala cemas hingga masalah terselesaikan (bahkan seringkali masalah sudah selesai pun tetap meninggalkan gejala depresi). Walau demikian, tidak selalu gejala cemas mendahului gejala depresi.

Gejala umum yang ditemui pada orang-orang yang mengalami depresi ialah:

  • tidak semangat dalam menjalani hidup sehari-hari (merasa sedih, hampa, dan tidak berpengharapan), juga sering tampak sensitif (mudah marah dan tersinggung),
  • menurunnya minat untuk melakukan kegiatan sehari-hari (tidak semangat bekerja atau beraktivitas, banyak menghabiskan waktu dengan merenung saja),
  • penurunan atau peningkatan berat badan secara drastis,
  • tidak bisa tidur atau tidak bisa tidak tidur,
  • tubuh tidak bergairah, cepat lelah,
  • perasaan bersalah dan tidak berdaya yang sangat berlebihan,
  • tidak mampu berpikir jernih, sulit berkonsentrasi, sulit membuat keputusan,
  • pemikiran berulang untuk bunuh diri.

Gejala ini mungkin dialami oleh orang-orang yang baru ditinggalkan orang yang dikasihi, kehilangan pekerjaan, atau hal-hal signifikan lainnya. Namun demikian, ketika gejala ini terasa begitu kronis, menetap, dan sulit diatasi setelah beberapa lama peristiwa traumatis tersebut, sangat penting untuk segera berkonsultasi kepada psikolog atau psikiater.

Oleh psikiater, terapi akan difokuskan pada pengembalian hormon, cairan tubuh, serta neurotransmiter ke kondisi normal (homeostatis), walau biasanya juga tetap dibekali dengan pemberian saran praktis. Oleh psikolog, terapi akan difokuskan pada penanganan masalah secara langsung, mendengar serta berdiskusi tentang keluhan dan masalah yang dialami klien, serta cara-cara untuk mengatasinya, termasuk jika masalah timbul kembali di keesokan harinya. Dalam kondisi tertentu yang dianggap ringan, terapi psikologi saja dapat efektif untuk mengatasi masalah depresi pada klien. Namun, untuk kondisi yang cukup serius, terapi psikologi yang dibarengi dengan terapi obat (oleh psikiater) dapat meningkatkan efektivitas pemulihannya.

Jika depresi dibiarkan berlarut-larut, gejalanya menjadi semakin sulit disembuhkan, di samping membuka peluang komorbid (muncul bersamaan) dengan gejala lain, seperti: gangguan psikotik (halusinasi, delusi, pikiran kacau), gangguan cemas (jantung berdebar, gangguan pencernaan, dsb.), dan gangguan lainnya. Jadi, semakin cepat terdeteksi, semakin cepat mendapatkan penangangan yang sesuai, maka semakin besar peluang untuk bisa segera dipulihkan kembali. Yang terpenting perlu diketahui adalah bahwa depresi adalah salah satu gangguan dengan prevalensi prognosis positif yang besar, artinya sangat mungkin untuk dipulihkan.

 

“There are wounds that never show on the body that are deeper and more hurtful than anything that bleeds.” 

– Laurell K. Hamilton