Category Archives: Pernikahan

Benarkah Menikah Pilihan Hidup? Menilik Fenomena Lajang di Indonesia

“Potong bebek angsa, masak di kuali, jomblo udah lama, nyesek tiap hari. Galau ke sana, galau ke sini, lalalalala…”

Begitu potongan lirik yang sudah dipelintir oleh kalangan lajang di Indonesia. Masih banyak lagi gambar (yang sering disebut MEME ~ Bahasa Inggris dari semboyan berbasis budaya) yang menggambarkan lika-liku kehidupan para lajang, yang populernya disebut jomblo. Komunitas para lajang di Jakarta bersatu dalam sebuah grup di dunia maya, menamakan diri sebagai Dewan Kesepian Jakarta. Bahkan di Bandung, Kang Emil mendedikasikan sebuah taman untuk para lajang, yang diberi nama Taman Jomblo.

Menikah memang pilihan, sehingga yang tidak menikah tidak seharusnya mendapat sorotan negatif. Namun di Indonesia, harus diakui bahwa sebagian besar masyarakat masih menganggap pernikahan sebagai sebuah kesuksesan tertinggi, sehingga mereka yang gagal menikah di akhir usia 20 tahunan, apalagi sudah memasuki usia 30 tahunan, juga dianggap gagal dalam seluruh hidupnya. Augustina Situmorang melakukan penelitian kualitatif terhadap perempuan lajang di Yogyakarta pada tahun 2005. Hasilnya, perempuan lajang di usia 30 tahunan mengaku mendapat stigma negatif dari teman dan keluarga sehingga membuat mereka merasa didiskriminasi. Mereka sering dianggap ‘gila karier’, egois, dan terlalu selektif memilih pasangan. Menikah memang pilihan, tetapi bagi dewasa muda di usia 30 tahunan, menikah sepertinya merupakan satu-satunya pilihan.

Mengapa Jomblo?

Sama seperti menikah adalah pilihan, sebenarnya menjadi lajang seumur hidup pun bisa menjadi pilihan. Beberapa orang memilih melajang seumur hidup, walau ada beberapa lainnya yang sebenarnya sangat ingin, namun tidak dapat, menikah. Dibandingkan dengan mereka yang memutuskan melajang seumur hidup, tentu para lajang yang sebenarnya ingin menikah lebih sulit dalam menghadapi tekanan dari masyarakat. Supaya lebih mudah membahasnya, sebut saja ada dua kelompok lajang, lajang karena pilihan dan karena situasi.

Kemajuan teknologi dan pergeseran gaya hidup ditengarai menjadi alasan mengapa seseorang memilih menjadi lajang. Sejak tahun 1800-an, berkembang paham bahwa seks merupakan misi utama seseorang menikah dan pernikahan merupakan gerbang utama menikmati seks secara legal. Ketika seks dapat dengan mudah diperoleh melalui internet atau cohabitation (atau kumpul kebo), yang sekarang sudah semakin lumrah di masyarakat kita, maka pernikahan mulai ditinggalkan. Kesulitan mengurus anak dan sederetan masalah perkawinan yang berujung pada perceraian juga menjadi alasan mengapa sebagian lajang memilih untuk menghindari pernikahan.

Namun demikian, kalau melihat nuansa humor dari meme tentang jomblo yang berkembang dalam masyarakat, sepertinya lebih banyak orang yang menjadi lajang karena dipaksa oleh situasi.

Jumlah Jomblo Berbanding Lurus dengan Kemajuan Industri

Merangkum beberapa hasil survei dan penelitian yang sudah dilakukan, lajang karena situasi bisa disebabkan karena kemajuan industri di suatu negara. Dalam ulasannya, seorang profesor di bidang Sosiologi dari University of Pennsylvania, Frank Furstenberg, mengatakan bahwa negara yang sedang berkembang ditandai dengan kesetaraan gender dan meningkatnya kebutuhan sumber daya manusia untuk memutar roda-roda industri. Konsekuensinya, jumlah perempuan dengan tingkat pendidikan tinggi dan membangun karier menjadi semakin banyak. Uniknya, statistik menunjukkan bahwa jenjang karier rata-rata perempuan cenderung menunjukkan tren yang meningkat, sedangkan pada laki-laki cenderung stagnan. Akibatnya, lebih banyak perempuan yang menghabiskan masa mudanya meniti jenjang karier sehingga ketika waktunya ia untuk menikah, di samping ia kekurangan waktu untuk bersosialisasi dan membangun hubungan romantis, ekspektasinya pun meningkat untuk mencari teman hidupnya. Bayangkan, tentu akan menjadi sorotan bagi teman dan keluarga jika seorang perempuan dengan pendidikan master bekerja sebagai manager di sebuah perusahaan, menikah dengan seorang lelaki tamatan sarjana yang hanya menjadi staf saja. Akhirnya, situasi ini membuat semakin sedikit ‘stok’ yang tersedia bagi perempuan untuk mencari lelaki yang sepadan, membuatnya menjadi semakin berpeluang menjadi lajang karena situasi.

 

Lelaki Lajang Tetap Diuntungkan 

Meski kenaikan jumlah lajang terjadi pada lelaki dan perempuan, dalam masyarakat, lelaki tetap menjadi kaum yang diuntungkan. Buktinya, kerap kita dengar istilah ‘perawan tua’, tetapi istilah ‘perjaka tua’ rasanya kurang populer, bahkan hampir tidak pernah disebutkan. Mengapa demikian?

Teori psikologi evolusi memberikan jawaban. Di awal usia 20 tahun, seorang perempuan lajang boleh jadi lebih bahagia daripada lelaki lajang. Di masa itu, penampilan fisik yang masih menawan serta kepercayaan diri akan suburnya fungsi reproduksi membuat perempuan merasa memiliki masa depan yang cerah dengan banyak pilihan lelaki yang potensial menjadi pasangan hidupnya. Namun, di usia 30 tahunan, saat penampilan fisik mulai kurang menawan, lingkaran pergaulan sosial semakin sempit, dan fertilitas yang semakin menurun seiring bertambahnya usia, membuat perempuan kurang percaya diri. Akibatnya, perempuan yang masih lajang hingga usia 30 tahunan menjadi sangat rentan dianggap terlalu selektif memilih pasangan, terlalu memikirkan kesuksesan karier, bahkan gagal dalam pergaulan. Sebaliknya, pada lelaki, kemampuan untuk reproduksi akan cenderung sama sejak ia remaja hingga tua, sehingga seolah-olah status lajang tidak pernah menetap pada dirinya. Karena tidak ada batasan waktu, lelaki yang setelah lulus tidak langsung menikah, melainkan meniti karier hingga usia 30 tahunan, sering dikonotasikan positif oleh masyarakat sebagai lelaki yang mapan.

Salahkah Jomblo?

Di balik senyuman atas lelucon yang dibuat oleh para jomblo mengenai statusnya, air mata tetap membasahi pipi sebagian dari mereka, terutama yang menjadi lajang karena situasi. Hasil survei Badan Pusat Statistik tahun 2013 memang menunjukkan bahwa mereka yang tidak menikah lebih berbahagia daripada yang menikah. Namun sayangnya, Badan Pusat Statistik tidak membedakan mereka yang tidak menikah karena pilihan atau karena situasi. Di samping itu, senyum juga seringkali menjadi topeng favorit bagi para lajang karena situasi agar tidak dipersalahkan oleh karena statusnya. Dengan tampak seolah-olah bahagia, mereka berharap orang-orang sekitar berhenti memberikan penilaian negatif terhadapnya. Namun, pura-pura bahagia sebenarnya terasa lebih menyedihkan daripada kondisi tidak bahagia itu sendiri. Berbagai penelitian mengkonfirmasi bagaimana para lajang, terutama yang menjadi lajang karena situasi, lebih tidak berbahagia, lebih rentan terhadap depresi, serta kurang puas dengan hidupnya. Jika kita menelusuri laman mesin pencari Google, juga tidak sulit untuk menemukan kasus-kasus bunuh diri yang dilakukan oleh para lajang.

Oleh karenanya, sudah saatnya kita berhenti menilai kualitas seseorang hanya berdasarkan status perkawinannya, karena menikah tidak dapat terjadi berdasarkan keinginan satu orang saja, dan memaksakan diri untuk menikah hanya menciptakan kebahagiaan semu yang sangat sementara. Berhentilah bertanya ‘kapan kawin’, karena itu bukan lagi pertanyaan yang menunjukkan kepedulian. Di negara Barat, pertanyaan tentang pernikahan dan usia merupakan pertanyaan yang sangat tabu untuk ditanyakan. Saya pikir, dalam hal ini, penting bagi kita untuk menjaga privasi dan menghargai pilihan dan keadaan sesama, dengan tanpa meninggalkan unsur-unsur keramahtamahan dan kolektivitas sebagai cerminan budaya kita. Tempatkanlah menikah sebagai pilihan, dan bukan satu-satunya pilihan.

Menikah. Jomblo. Bahagia.

Dunia hari ini dihadapkan pada suatu fenomena yang menarik. Jumlah orang yang memutuskan untuk tidak menikah saat ini meningkat hampir di seluruh negara, terutama di negara Barat, dan tidak terkecuali di Indonesia. Walau data dari Asia Research Institute menunjukkan bahwa dibandingkan negara lain, jumlah orang yang tidak menikah di Indonesia masih relatif kecil, namun jika dilihat peningkatannya dari tahun ke tahun, terdapat jumlah yang berarti terutama dari tahun 1970 hingga tahun 2005, yang mengalami peningkatan hingga 3 kali lipat.

Menariknya lagi, hasil survei Badan Pust Statistik tahun 2014 menunjukkan bahwa indeks kebahagiaan pada orang-orang yang tidak menikah lebih tinggi daripada yang menikah. Bahasa lainnya, para jomblo di Indonesia ditemukan lebih berbahagia daripada mereka yang menikah. Padahal, di sisi lain, budaya di Indonesia masih sangat menjunjung tinggi pernikahan, sehingga mereka yang tidak menikah, apalagi perempuan, dianggap gagal dalam hidupnya.

Benarkah menikah membuat seseorang bahagia?

Menanggapi data-data tersebut, pertanyaan yang muncul berikutnya ialah: apakah benar menikah bisa membuat seseorang lebih berbahagia? Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa status pernikahan berkaitan dengan kurangnya risiko penyakit jantung, depresi, dan meningkatnya kepuasan hidup seseorang. Namun,  penelitian lain menemukan bahwa bukan pernikahan yang membuat seseorang bahagia, tetapi orang yang bahagia yang cenderung memutuskan untuk menikah.

Bella DePaulo, profesor psikologi dari University of Carolina, St. Barbara, menemukan bahwa sebagian besar penelitian tentang pernikahan berlandaskan pada ideologi bahwa pernikahan adalah hal yang positif (sehingga tidak menikah dianggap negatif), sehingga terjebak pada metodologi serta pengambilan keputusan yang keliru. Ia menunjukkan salah satu contoh penelitian yang dilakukan oleh Richard Lucas dan koleganya pada tahun 2003, yang menunjukkan bahwa kebahagiaan seringkali bersifat dinamis dan mengikuti adaptation model, di mana ketika seseorang mengalami kejadian menyenangkan, maka kebahagiaannya akan meningkat, tetapi akan berangsur-angsur kembali menurun hingga pada titik stabil kebahagiaannya. Dengan demikian, penelitian-penelitian yang mengaitkan kebahagiaan dengan pernikahan selayaknya tidak diukur dalam satu waktu (cross-sectional design), karena bisa saja orang yang baru menikah saat itu masih merasa bahagia. Cara terbaik untuk menelitinya ialah dengan menggunakan desain longitudinal, di mana pengukuran terhadap kebahagiaan dilihat dari waktu ke waktu dan diamati perbandingannya antara yang menikah dan tidak menikah. Lucas dan koleganya melakukan penelitian dengan cara ini dan menemukan bahwa pada beberapa orang, pernikahan memang bisa meningkatkan kebahagiaan secara permanen, tetapi tidak pada semua orang.

Jadi, siapa yang berbahagia dan yang tidak?

Menjalani hidup sebagai single, DePaulo mengaku dirinya sangat puas dan berbahagia dalam hidupnya. Ia mengklaim bahwa statusnya ialah ‘single at heart’. Tentu ia tidak sendiri. Beberapa orang juga dapat ditemui puas dengan hidupnya walau tidak menikah. Namun seringkali yang membuat seseorang berbahagia atau tidak bukan status pernikahannya, bahkan bukan kehidupan pernikahannya, tetapi stigma dan prasangka yang diberikan oleh lingkungan terkait dengan status pernikahannya itu. Terutama di Indonesia, ketika seorang perempuan di usia 30 tahunan dan tidak menikah, bukan hanya ia yang seringkali dianggap gagal, tetapi juga terkait dengan reputasi seluruh keluarganya. Tentu ini menjadi beban bagi perempuan tersebut, apalagi, seperti kita ketahui, menikah bukan seperti kuliah yang bisa diputuskan dari satu pihak. Supaya bisa bergelar akademis, kita bisa berupaya sekuat tenaga agar terdaftar dan lulus. Namun untuk bisa bergelar ‘nyonya’, perlu upaya dan kesempatan bertemu dengan orang yang disebut sebagai belahan jiwanya, yang memang ‘jodohnya’.

Oleh karena itu, terkait dengan status pernikahan, hanya ada 2 tipe orang yang akan berbahagia: mereka yang ingin dan berhasil menikah, dan mereka yang tidak menikah karena ingin untuk tidak menikah. Sebaliknya, 2 tipe orang yang paling tidak berbahagia ialah: mereka yang menikah namun tidak ingin menikah dan mereka yang tidak menikah padahal ingin menikah. Jelas bahwa bukan status pernikahan yang membuat bahagia, tetapi motivasi yang terealisasilah yang menentukan kebahagiaan. Parahnya, seringkali kita turut andil menambah beban pada orang-orang yang tidak menikah, melalui pertanyaan “kapan kawin?”,” masih single aja nih?” yang terdengar sepele, namun sangat merampas kebahagiaan  mereka – dan mungkin keluarga besarnya.

Jadi, berhentilah menghakimi. Tidak selamanya bertanya menunjukkan kepedulian, dan jadikanlah single sebagai pilihan, bukan kegagalan, sama seperti menikah adalah pilihan.

“Too many women throw themselves into romance because they’re afraid of being single, then start making compromise and losing identity.” – Julie Delpy

 

Kapan Kawin? Menjawab Pertanyaan Kapan Waktu Terbaik untuk Menikah

 

Kapan kawin?

Sebagian besar dari kita, entah karena mandat budaya, diatur oleh jam biologis, atau panggilan spiritual, bermimpi untuk menikah dan membentuk keluarga baru. Manusia memang dibekali dengan identitas yang sudah ditentukan dari awal – di mana dirinya, orang tua, atau siapapun manusia di muka Bumi ini tidak dapat mengubah atau menentukannya –, yaitu identitas gender. Kehadiran manusia dengan identitas gender secara tidak langsung memberikan suatu pesan bahwa manusia memang diciptakan untuk berpasang-pasangan, yang diikat dalam sebuah pernikahan. Memang betul, beberapa orang sejak awal sudah berkomitmen untuk tidak menikah, dan itu sah-sah saja, tetapi toh masyarakat kita hingga kini masih berkeyakinan bahwa setiap orang selayaknya menikah. Menikah juga sering dianggap sebagai suatu fase sangat penting dalam hidup manusia sehingga ritual pernikahan menjadi begitu istimewa. Dalam sepanjang hidup manusia, mungkin hanya ada tiga peristiwa besar yang dikenang dan dirayakan bersama dengan tradisi berbeda-beda pada tiap-tiap budaya: kelahiran, pernikahan, dan kematian.

Berada di antara kelahiran dan kematian seolah melambangkan seberapa signifikannya momen pernikahan. Melalui pernikahan, seseorang dapat mengalami hidup yang sangat menyenangkan (seperti menyambut kelahiran seorang bayi yang dinantikan) atau menjalani hidup yang sangat berat dan menyiksa (seperti menyaksikan kematian orang yang sangat disayang). Parahnya lagi, pernikahan adalah sebuah jalan di dalam hidup seseorang yang tidak mengenal berbalik arah (tidak dapat di-undo) karena, meskipun seseorang tetap memiliki hak untuk bercerai, pernikahan menjadi sama sekali berbeda ketika dilakukan lebih dari sekali.

 

Lalu, kapan waktu terbaik seseorang menikah?

Teori perkembangan psikososial dari Erikson menegaskan bahwa usia terbaik pernikahan ialah ketika seseorang sudah memasuki masa dewasa muda (usia 20 hingga 40-45 tahun). Di usia ini, tugas perkembangan seseorang terfokus pada pencarian hubungan romantis yang intim dengan orang lain, untuk menumbuhkan dan mengalami cinta yang eksklusif; sedangkan di usia aqil balik, tugas perkembangan remaja masih sebatas pembentukan jati diri, belum berfokus pada pembinaan relasi romantis yang intim dengan orang lain.

Rentang usia dewasa muda tentu sangat luas untuk memberikan indikasi usia terbaik bagi seseorang untuk menikah. Oleh karenanya, secara lebih spesifik beberapa penelitian lanjutan (misal: DeMaris & Rao, 1992; Heaton, 2002; Rodrigues, Hall, & Fincham, 2007; Hanes, 2014) mengkonfirmasi bahwa idealnya seseorang menikah setelah berusia 23 tahun karena mereka yang menikah di bawah usia tersebut adalah yang paling rentan untuk mengalami perceraian. Lebih lanjut, juga ditekankan bahwa semakin muda seseorang menikah, semakin besar peluangnya untuk bercerai.

 

Menikahlah sebelum usia 32 tahun!

Penelitian terbaru ternyata menunjukkan hal yang lebih fenomenal. Pada tahun 2015, Nicholas Wolfinger, seorang profesor dalam bidang Sosiologi di University of Utah, melakukan analisa berdasarkan data survei dari National Survey of Family Growth (NSFG) pada tahun 2006 hingga 2010. Jika studi-studi sebelumnya mengatakan bahwa semakin tua usia seseorang, semakin kecil terjadinya peluang perceraian; dalam hasil analisanya Wolfinger menemukan bahwa usia terbaik seseorang untuk menikah ialah setelah melewati usia 25 tahun, tetapi sebelum usia 32 tahun. Temuan ini juga tetap berlaku sama setelah mengontrol variabel jenis kelamin, tingkat pendidikan, religiositas, latar belakang etnis, dan riwayat aktivitas seksual sebelum menikah. Dalam studinya, Wolfinger menyimpulkan bahwa waktu terbaik untuk menikah ialah di akhir usia 20 tahun, tidak peduli apapun tingkat pendidikan, kepercayaan agama, etnis, atau jenis kelamin orang itu.

Wolfinger menjelaskan beberapa alasan yang mendukung temuannya ini. Pertama, menurutnya, kebanyakan orang yang belum menikah hingga di usia 30 tahun cenderung merupakan orang-orang yang sulit membina hubungan interpersonal yang baik dengan orang lain. Oleh karenanya, ketika mereka menikah, besar peluang pernikahannya mengalami kegagalan. Wolfinger menyadari bahwa dinamika dan tekanan ekonomi di masa kini yang semakin besar membuat banyak orang menunda usia pernikahannya karena berusaha untuk mengejar karier yang menuntut waktu lebih lama untuk mendapat penghasilan yang cukup guna membangun keluarga jika dibandingkan dengan di masa lalu. Namun, menurut Wolfinger, orang-orang yang demikian adalah mereka yang menikah di akhir usia 20 tahunan, sehingga dianggap sebagai kelompok orang yang paling tidak rentan terhadap perceraian dalam pernikahannya. Di samping itu, sebagian orang yang menikah di usia 30 tahunan memiliki motivasi untuk menikah yang lebih dikendalikan oleh tekanan keluarga dan kerabat, sehingga pernikahannya lebih dilandasi oleh usaha pelarian agar tidak mendapat penilaian negatif dari keluarga maupun orang-orang terdekatnya. Itulah sebabnya mereka menjadi lebih rentan terhadap perceraian.

 

Mencermati Temuan Wolfinger

Secara statistik, dengan jumlah sampel yang melebihi 5.000 orang dan teknik sampling dan pengolahan statistik yang tepat, tentu fakta itu dapat diyakini kebenarannya. Pengolahan data hingga pada penarikan kesimpulan demikian sudah sesuai dengan logika statistika. Namun, psikologi, terutama pernikahan, pastinya lebih dari sekadar angka dan data. Di samping akurasi hasilnya yang mungkin terbatas karena hanya melibatkan responden di Amerika Serikat – yang mungkin berbeda dengan tipikal masyarakat di Indonesia –, fakta ini tetap berguna bagi kita untuk mempertimbangkan kapan waktu terbaik untuk menikah. Ada beberapa hal yang perlu menjadi pertimbangan.

Pertama, ukuran waktu terbaik untuk menikah ialah kedewasaan psikologis, bukan biologis. Kedewasaan secara psikologis sulit diukur dari usia karena bagi beberapa orang, kecakapan psikologis dalam membangun hubungan, membina komitmen, dan mengelola konflik mungkin bisa muncul lebih awal daripada sekelompok orang lainnya. Jadi, menjadi tidak bijaksana jika seseorang berharap untuk mendapat pernikahan bahagia dengan menunda pernikahannya hingga akhir usia 20 tahun dan sebelum 32 tahun tanpa melakukan pembenahan dan pengembangan diri.

Kedua, hendaknya kita tidak terjebak pada pengambilan kesimpulan yang keliru. Penarikan kesimpulan usia terbaik menikah yang dilakukan oleh Wolfinger dilakukan berdasarkan analisa terhadap data, baru setelah itu ditelusuri kemungkinan sebab-sebab munculnya pola data demikian. Oleh karenanya, kita tidak boleh keliru dalam memaknai fakta ini agar tidak terjebak pada pengambilan keputusan yang salah. Sederhananya, jika ada data yang mengatakan bahwa ada banyak kecelakaan mobil yang terjadi di suatu jalan di malam hari; maka data ini seharusnya bukan membuat kita berpikir untuk tidak melewati jalan itu di malam hari, tetapi justru lebih berhati-hati dengan memperhatikan analisa mengapa sering terjadi kecelakaan di jalan itu pada malam hari, atau bahkan berinisiatif membuat penerangan di jalan itu sehingga tidak lagi terjadi kecelakaan. Bagi yang sudah berusia di atas 30 tahun, tentu temuan ini bukan menjadi alasan untuk Anda tidak menikah karena kemungkinan bercerainya tinggi, melainkan menjadi informasi yang sangat bermanfaat untuk merefleksikan diri apa yang harus diantisipasi agar pernikahan Anda tetap berbahagia.

Terakhir, realita psikologi tidak cukup direpresentasikan melalui angka-angka. Realita psikologi bersifat sangat unik, khas, dinamis, dan subjektif. Data yang ada bicara mengenai pola dan probabilitas, bukan sesuatu yang pasti. Jadi, bukan berarti semua orang yang menikah sebelum akhir usia 20 tahun atau di atas usia 32 tahun pasti akan gagal pernikahannya; namun data itu memberikan informasi yang bermanfaat mengenai dinamika pernikahan pada sebagian besar orang dalam kurun waktu tertentu.

 

Jadi, kapan kawin?

Saya percaya waktu terbaik seseorang untuk menikah tidak dibatasi oleh usia biologisnya, tetapi kematangan dan kemantapan hatinya untuk siap memasuki pernikahan. Motivasi seseorang untuk menikah lebih menentukan kualitas pernikahannya daripada usia saat ia menikah. Pernikahan yang berhasil bukan terjadi hanya karena seseorang merasa kesepian, merasa tertekan oleh penilaian keluarga dan orang di sekitarnya, atau merasa tidak mampu berdiri sendiri (memiliki self-esteem yang rendah, membutuhkan pengakuan dan penerimaan dari orang lain). Justru pernikahan yang baik terjadi pada dua orang yang sebenarnya mampu berdiri sendiri, tetapi memutuskan untuk berkomitmen dan bersatu membentuk sebuah keluarga. Pada orang-orang yang menikah karena membutuhkan topangan, tentu akan menaruh ekspektasi tinggi yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan dirinya. Namun jika pernikahan dilakukan oleh orang-orang yang sebenarnya mampu berdiri sendiri, ia tidak lagi menaruh harapan yang egois dalam pernikahannya; sebaliknya, ia justru lebih berorientasi untuk membahagiakan pasangannya melalui pernikahan itu.

Jadi, menikahlah ketika Anda sanggup berdiri sendiri, berapa pun usia Anda saat itu.

 

Artikel dipublikasikan dalam buletin Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara, volume 2, no. 15. 

Acuan:
DeMaris, A., & Rao, K. V. (1992). Premarital cohabitation and subsquent marital stability in the United States: A reassessment. Journal of Marriage and the Family, 54, 178-190.
Hanes, S. (2014, Mar 10). Best predictor of divorce? age when couples cohabit, study says. The Christian Science Monitor Retrieved from http://search.proquest.com/docview/1505399866?accountid=25704
Heaton, T. B. (2002). Factors contirbuting to increasing stability in the United States. Journal of Family Issues, 23(3), 392-409.
Rodrigues, A. E., Hall, J. H., & Fincham, F. D. (2007). What predicts divorce and relationship dissolution. Dalam M. A. Fine & J. H. Harvey (Eds). Handbook of Divorce and Relationship Dissolution (hal 85-112). New York, NY: Taylor & Francis.
Wolfinger, N. H. (2015). Want to avoid divorce? Wait to get married, but not too long. Diunduh dari http://family-studies.org/want-to-avoid-divorce-wait-to-get-married-but-not-too-long/

Ketika “Aku Cinta Padamu” Tidak Lagi Cukup

relationship - experiencing life foundation

Banyak yang mengatakan membangun hubungan romantis jauh lebih mudah daripada mempertahankannya. Walaupun beberapa orang tetap beranggapan bahwa membangun hubungan merupakan hal sulit, harus diakui bahwa mempertahankan hubungan seringkali terasa jauh lebih sulit. Sekalipun angka perceraian masih lebih sedikit daripada angka pernikahan yang bertahan, beberapa hubungan pernikahan yang bertahan tidak selalu menggambarkan kepuasan pasangan atas hubungan itu. Banyak di antaranya yang terpaksa mempertahankan hubungan demi anak, demi penilaian masyarakat, demi ‘tidak berdosa’ melanggar ajaran agama, atau demi menjaga nama baik keluarga.

Mempertahankan sebuah hubungan memang bukan hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga seni (keterampilan) untuk melakukannya. Seringkali pasangan tahu apa yang benar, namun untuk melakukannya tidak pernah sesederhana mengetahuinya. Masalah mempertahankan hubungan bisa jadi merupakan masalah yang abadi sepanjang manusia hidup. Perselingkuhan bukan lagi hal yang baru. Hukum dari masa lalu pun sudah jelas mengatur tentang hal tersebut, mengindikasikan bahwa perselingkuhan dan kegagalan hubungan pernikahan merupakan masalah klasik yang tidak pudar oleh perkembangan waktu.

Emerson Eggerichs, penulis buku terkenal “Women Need Love and Man Need Respect” dengan tegas menyebutkan rahasia sederhana yang kompleks untuk mempertahankan sebuah hubungan: bahwa lelaki butuh dihormati dan perempuan butuh dicintai. Dalam riset sederhana yang dilakukan, disebutkan bahwa 74% laki-laki lebih memilih untuk merasa kesepian dan tidak dicintai daripada tidak dihormati. Sebaliknya, perempuan membutuhkan cinta dari pasangannya sama seperti manusia membutuhkan oksigen untuk bernafas.

Buku tersebut diterbitkan pertama kali pada tahun 2004. Namun tips yang sama sebetulnya sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu, tertuang di antaranya dalam kitab Efesus 5: 22-33. Secara detail kedua sumber itu sepakat bahwa: istri harus menghormati suami, tanpa syarat, dan suami harus mengasihi istri, juga tanpa syarat. Tanpa syarat berarti tanpa batas, hormat yang tiada batas sama seperti manusia  hormat kepada Tuhannya, dan kasih yang tanpa batas sama seperti Tuhan yang mengasihi manusia. Resep yang begitu sederhana, tetapi tidak pernah mudah melakukannya. Mengapa?

Beberapa pasangan perempuan akan berdalih: “bagaimana bisa saya menghormati suami saya yang pulang kerja larut malam?”,  sementara yang lelaki juga akan mengatakan: “tidak mungkin saya dapat mencintai pasangan yang tidak dapat mengendalikan mulut dan emosinya!”. Lalu di tengah pembelaan diri tiada habis ini, muncullah penengah yang mengatakan, hubungan hanya dapat dipertahankan jika keduanya memiliki komitmen. Sekilas, memang terdengar betul. Tapi, seperti yang dikatakan oleh Sternberg, cinta yang hanya dibangun dengan komitmen pada akhirnya akan terasa hampa.

Komitmen penting. Namun komitmen seharusnya lahir bukan dari usaha untuk mempertahankan cinta, tetapi dari kepercayaan (trust) yang penuh pada pasangan. Inilah yang seharusnya menjadi inti dari sebuah hubungan yang harmonis dapat dipertahankan. Seorang perempuan tidak akan pernah menghormati pasangannya yang pulang kerap larut malam kecuali ia percaya penuh bahwa apa yang dilakukan pasangannya adalah demi mencari nafkah bagi keluarganya. Seorang lelaki tidak akan pernah mencintai pasangannya yang cerewet, menuntut, dan banyak mengatur segala sesuatu kecuali ia percaya penuh bahwa segala hal yang dicerewetkan, dituntut, dan diatur adalah bagian dari usaha pasangannya itu untuk mewujudkan rumah tangga yang baik dan harmonis.

Kepercayaan adalah hal mutlak bagi terpeliharanya keharmonisan suatu hubungan, sama dengan iman mutlak bagi penganut agama. Oleh karena itu, bagi yang belum memasuki pernikahan, penting untuk menantang diri: sejauh mana Anda percaya bahwa pasangan Anda benar-benar memiliki satu visi dengan Anda dalam mewujudkan rumah tangga dan masa depan; bagi Anda yang sudah menikah: pasti ada visi yang sama yang membuat Anda menikah, kembalilah pada visi itu, nikmati kembali rasa ketika visi itu disatukan, dan buatlah komitmen bersama-sama untuk saling percaya bahwa keduanya berambisi menciptakan yang terbaik, sehingga tidak lagi sulit untuk menghormati maupun menyayangi pasangan.

“A perfect marriage is two imperfect people who refuses to give up on each other.”

– Anonymous.

Referensi acuan, klik di sini.

Siapkah Anda menjadi Orangtua?

Tidak dapat dipungkiri bahwa orangtua adalah penentu terbesar kehidupan anak di masa mendatang. Banyak sekali kasus-kasus yang terjadi pada setiap pribadi di masa dewasa diakibatkan oleh pola asuh yang salah dari orangtua. Sampai hari ini, masih banyak orangtua yang sebenarnya dapat dikatakan belum ‘siap’ menjadi ‘orangtua’.

Menjadi orangtua berarti bertanggung jawab atas kehidupan manusia lain yang Tuhan titipkan kepadanya. Selain mengurus diri sendiri, ada kewajiban besar untuk mengurusi (memelihara, merawat, membesarkan, mengajari, dll) orang lain; yaitu anak. Bagaimana mungkin seorang ayah atau ibu yang masih belum matang dalam mengurus diri sendiri mampu mengurusi orang lain? Mengurus diri sendiri diawali dengan mengenal akan diri sendiri secara utuh. Setelah mengenal diri secara utuh, kemudian tahu akan kebutuhan-kebutuhan dalam diri, memiliki sikap hidup yang konsisten antara pikiran dan perbuatan, tahu akan tujuan hidup, barulah dapat dikatakan ia mampu mengurus diri sendiri.

Setelah itu tidak hanya berhenti pada urusan diri sendiri. Menjadi orangtua berarti memiliki pasangan, dan pasangan yang dimiliki sepatutnya juga dapat mengurus diri sendiri. Alangkah indahnya jika sebagai ayah dan ibu yang telah mampu mengenal diri masing-masing, sama-sama belajar mengenal satu sama lain secara matang, dan ketika mereka memiliki anak, anak tersebut dapat diajarkan akan pengenalan diri yang baik. Setelah itu, anak juga diajarkan bagaimana berelasi dengan orang lain karena sang orangtua telah berhasil dalam berhubungan dengan orang lain (yaitu pasangannya) secara sehat.

Dua hal penting ini; yakni pengenalan akan diri sendiri dan hubungan dengan orang lain; dapat membuat anak tersebut tumbuh menjadi anak yang sehat secara mental dan kemungkinan besar akan terbebas dari berbagai gangguan psikologis. Tidak banyak orangtua yang menyadari pentingnya pemantapan akan diri sendiri dan menjalin hubungan yang matang dengan pasangan sebelum mereka memiliki anak. Hal ini membuat kasus-kasus kenakalan remaja, penyimpangan sosial, kejahatan seksual, dsb marak terjadi di sekitar kita. Oleh karena itu, bagi siapapun yang kelak hendak memiliki anak, mulailah bertanya dalam hati: telah siapkah saya menjadi orangtua?

Jika anak dibesarkan dengan celaan,
Ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan,
Ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan,
Ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan,
Ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi,
Ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan,
Ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian,
Ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan,
Ia belajar keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman,
Ia belajar menaruh percaya.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan,
Ia belajar menyenangi dirinya.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang,
Ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

Konflik dalam Hubungan: Kami Berbeda!

hubungan bermasalah - experiencing life foundation

Membangun hubungan bisa jadi merupakan tugas utama dalam hidup manusia, baik hubungan dengan Tuhan, dengan sesama, maupun dengan alam dan lingkungannya. Namun uniknya, membangun hubungan seringkali dikeluhkan menjadi hal tersulit dalam hidup manusia. Tidak heran mengapa data perceraian terus meningkat dari tahun ke tahun. Badan Urusan Pengadilan Agama, Mahkamah Agung, mencatat persentase kenaikan angka perceraian mencapai 70% dari tahun 2005 hingga 2010 (sumber). Ironisnya, penyebab utama perceraian ialah karena ketidakharmonisan dengan pasangan.

PERBEDAAN MEMBUAT BERCERAI SESUATU YANG “SAMA”

Mengapa dikatakan ironis? Ketidakharmonisan pasangan menunjukkan ada konflik dalam hubungan itu. Konflik menunjukkan ada perbedaan pendapat, pandangan, selera, atau apapun. Padahal, faktor utama suatu hubungan dapat terjalin ialah karena adanya persamaan (bukan perbedaan) (Myers, 2008). Persamaan menyebabkan terjadinya kedekatan (walaupun dalam beberapa kasus juga bisa ditemukan kedekatan yang mendahului persamaan). Namun pada intinya, suatu hubungan diawali dengan adanya (bahkan banyaknya) kesamaan antara dua pihak. Tidak percaya?

Coba pikirkan apa yang menyebabkan Anda dengan pasangan atau sahabat Anda dapat berhubungan dekat? Mereka yang saling mengenal di kelas, misalnya, pasti punya kesamaan minat sehingga bisa sekelas dan akhirnya menjadi dekat. Mereka yang mengenal di mall, pasti punya kesamaan hobi. Bahkan mereka yang dijodohkan, pasti memiliki kesamaan: kurang mau mendekati orang lain terlebih dahulu, merasa jodoh akan datang ‘nanti’ sehingga tetap menunggu, atau apapun kesamaannya. Kesamaan bisa dikatakan sebagai lem perekat yang sangat penting untuk dipelihara agar suatu hubungan bisa terbentuk dan tetap terjalin. Ketika seseorang sudah berhubungan lebih dekat, kesamaan visi dan cara pandang terhadap kehidupan menjadi penting demi mempertahankan hubungan itu. Namun faktanya ialah: setelah hubungan terbentuk, justru perbedaan yang lebih sering muncul daripada persamaan, sehingga konflik pun tidak terhindarkan.

PENTINGKAH PERBEDAAN DALAM HUBUNGAN?

Perbedaan ditenggarai menjadi sebab utama retaknya suatu hubungan. Alih-alih langsung menjustifikasi pernyataan tersebut, sebetulnya sangat penting untuk kita kritisi terlebih dahulu kebenarannya. Faktanya, jika Anda merasa diri semakin berbeda dengan pasangan Anda, sebenarnya Anda telah mengenal semakin dalam pasangan Anda. Percayalah, tidak ada orang di dunia ini yang memiliki kesamaan 100% dengan Anda, termasuk Saudara kembar Anda. Persamaan memungkinkan Anda mengenal lebih dalam satu dengan lainnya. Mengapa? Sederhana saja, dengan kesamaan, Anda memiliki topik untuk sharing, dapat terlibat dalam waktu yang dihabiskan dengan kegiatan yang sama-sama disukai, dan dapat merencanakan sesuatu yang sama-sama senangi. Ketika muncul kesamaan dan kedekatan, rasa suka dan cinta mulai timbul. Pada tahap awal, rasa cinta memungkinkan seseorang untuk berfokus pada kesamaan yang dimiliki dengan pasangannya, sehingga mengabaikan sesuatu yang berbeda. Inilah sebabnya pada masa awal seseorang jatuh cinta, ia sering merasa ia ditakdirkan untuk hidup bersama karena benar-benar mengerti, memahami, dan memiliki kesamaan dalam hampir segala hal.

Namun kemudian, perbedaan mulai terlihat. Salah satunya bisa jadi karena rasa cinta seringkali ambigu dalam mencintai, sehingga cintanya menjadi egosentris: berpusat pada pemuasan kebutuhan diri dan bukan pasangan. Ketika mulai berfokus pada diri sendiri, kita mulai menuntut pasangan melakukan sesuatu untuk memuaskan kita, dan berpikir bahwa: “dia sungguh sangat berbeda!” “Jika saya jadi dia, tentu saya akan sangat tahu bagaimana memperlakukan diri saya dengan baik!” “Kita berdua memang sangat berbeda!”  Perbedaan juga pasti muncul betapapun miripnya kita dengan pasangan kita.

Perilaku menuntut juga sebenarnya merupakan indikasi bahwa Anda mempersepsikan pasangan Anda lebih dekat daripada orang lain di sekitar Anda. Ketika belum berhubungan dekat dengan pasangan, tentu Anda tidak akan mengomentari hal-hal yang kurang sesuai dengan prinsip hidup Anda. Ketika belum berpacaran atau menikah, bersendawa sehabis makan mungkin tidak membuat Anda risih. Namun beberapa tahun berhubungan, Anda bahkan menghabiskan waktu dua hari karena bertengkar hebat setelah pasangan Anda tidak terima kritikan Anda karena bersendawa sehabis makan.

Berita baiknya, detik ketika perbedaan mulai terpikirkan oleh Anda adalah detik ketika Anda berjalan lebih dalam dalam hubungan Anda. Namun berita buruknya, tidak banyak orang yang dapat mengatasi dan mengkomunikasikan perbedaan secara efektif, mengakibatkan angka perceraian yang melambung drastis.

PERBEDAAN PASTI, MENGHADAPI PERBEDAAN PENTING

Jadi ketika Anda telah menemukan perbedaan dengan pasangan Anda, berarti Anda sudah selangkah lebih maju; dan ketika Anda berusaha untuk menggunakan cara yang tepat dalam menghadapi perbedaan, Anda memutuskan untuk dua langkah lebih maju.

Perbedaan pasti ditemukan; oleh sebab itu yang penting bukanlah suatu hubungan atas dasar kesamaan 100%, melainkan cara yang tepat dalam menghadapi perbedaan. Cara yang tepat dalam mengatasi perbedaan muncul dari pandangan yang tepat dalam melihat perbedaan.

PANDANGAN 1: Perbedaan perlu disatukan agar kesamaan tetap terbina. Ketika muncul perbedaan pandangan, visi, atau cara hidup, sangat diperlukan diskusi untuk menyamakan perbedaan tersebut. Menyamakan perbedaan tidak selalu berarti akan mengikuti pendapat Anda saja, atau pasangan Anda saja. Kadangkala merumuskan suatu cara pandang yang baru dan berbeda dari pandangan Anda dan pasangan Anda dapat menjadi lebih efektif. Kunci terpenting dalam mengatasi perbedaan adalah: dikomunikasikan dengan kasih dan kesediaan untuk mendengar. Perbedaan ada bukan untuk membuat Anda saling menyerang, tetapi justru membuat hubungan Anda semakin erat seiring dengan penyamaan perbedaan itu. Perbedaan hanyalah “kondisi” sebelum hal itu menjadi sama. Anda tentu tidak akan membuang beras semata-mata karena Anda hanya mau memakan nasi, karena Anda tahu betul, setelah dimasak beras akan menjadi nasi. Prinsip yang sama pun berlaku: setelah didiskusikan, pasti akan ada jalan keluar di mana timbul kesamaan pendapat atas perbedaan yang Anda – tentu saja hal ini harus terjadi sebelum nasi menjadi bubur.

PANDANGAN 2: Ada beberapa perbedaan yang perlu dibiarkan berbeda, selama tidak saling mengubah arah perjalanan hubungan Anda. Dunia akan sangat membosankan ketika hanya ada satu warna. Terkadang, perbedaan memberikan warna yang mencerahkan kehidupan. Filter ini mungkin bisa menjadi pertimbangan yang baik dalam menentukan apakah perbedaan ini perlu disamakan atau dibiarkan: “Apakah perbedaan itu cukup menghambat Anda dan pasangan dalam mencapai tujuan hidup bersama?”, “Apakah perbedaan itu perlu disamakan demi kepentingan bersama atau hanya untuk kepuasan Anda?” Hanya karena pasangan Anda terbiasa untuk bekerja sedikit demi sedikit sedangkan Anda terbiasa untuk mengerjakan dengan segera sampai habis seharusnya tidak cukup layak untuk menghancurkan hubungan Anda, sepanjang hal tersebut tidak mengganggu usaha Anda mencapai tujuan hidup bersama, bukan? Tidak selamanya “dua menjadi satu” berarti yang berbeda sepenuhnya menjadi sama. Pelangi menjadi indah ketika seluruh warna tersebut menjadi satu tanpa kehilangan warnanya masing-masing.

Persamaan karakter, pandangan, cara hidup dapat mempererat hubungan Anda. Namun perbedaan tidak selalu merusak hubungan. Cara yang tepat dalam menghadapi perbedaan menjadi penentu bertahan atau runtuhnya suatu hubungan. Ketika hubungan dibangun atas dasar cinta kepada pasangan, tentu tidak ada perbedaan yang cukup besar untuk merusaknya. Sebaliknya, ketika hubungan dibangun atas dasar cinta yang egosentris, tidak ada perbedaan yang cukup sepele untuk tidak merusaknya.

 

“The meeting of two personalities is like the contact of two chemical substances: if there is any reaction, both are transformed.”
― C.G. Jung

Hubungan Pernikahan: Menyayangi ATAU Menyaingi?

marriage- Experiencing Life Foundation

Jika pada zaman dahulu R.A. Kartini memperjuangkan kesamaan hak perempuan dengan laki-laki, agaknya hari ini usaha tersebut berhasil. Masalah persamaan gender memang sepertinya sudah menjadi masalah yang sangat diperhatikan. Dalam ranah politik, misalnya, 30% dari calon legislatif harus diisi oleh perempuan. Beberapa lowongan pekerjaan pada berbagai sektor bisnis dan industri juga lebih mengutamakan pelamar perempuan daripada laki-laki. Bahkan, saat ini tidak asing jika kita melihat seorang perempuan yang berhasil dalam kariernya, sampai menduduki jabatan tertinggi dalam struktur organisasi. Bukan hanya puncak karier, kemajuan teknologi di masa kini juga memungkinkan para perempuan untuk bekerja online sehingga memperoleh penghasilan yang bahkan lebih besar daripada pekerjaan pasangannya yang bekerja di kantor. Urusan rumah tangga tidak terbengkalai, peran sebagai ibu bagi anak-anak tetap terpenuhi, serta mampu menghasilkan keuangan yang lebih besar dari suami melalui permainan saham atau sekedar berdagang online – tentu itu adalah hal yang ‘ideal’ dan menyenangkan, bukan?

Sebelum adanya penyetaraan gender, konflik dan ketidakpuasan dalam rumah tangga timbul dari sang istri yang merasa seperti ditindas dan mendapat tempat nomor dua. Suami selalu menjadi sentral, pengatur, bahkan diktator dalam memutuskan dan menentukan segala sesuatu, sedangkan istri digambarkan sebagai sosok penurut, tidak berdaya atas kekerasan suami, dan harus berpasrah pada nasib yang menomorduakan kaumnya. Namun sekarang, ketika penyetaraan gender sudah diperhatikan, ternyata konflik dan ketidakpuasan dalam rumah tangga tidak juga hilang. Realitas bahwa sang istri dengan jabatan pekerjaan dan kemampuan finansial yang mengungguli suami seringkali menimbulkan tekanan mental tersendiri bagi sang suami. Lalu, apakah artinya suami tersebut gagal melakukan perannya? Atau apakah hal ini menunjukkan bahwa lebih baik peran kaum perempuan dibatasi kembali?

PERSPEKTIF EVOLUSIONER TERHADAP PERAN GENDER

Larsen dan Buss (2005) dalam bukunya, Personality Psychology, menggambarkan bagaimana peran gender terbentuk dalam masyarakat. Seorang lelaki, menurut perspektif evolusioner, dilahirkan dengan insting untuk menjadi pelindung; sedangkan seorang perempuan memiliki insting sebagai sosok yang selektif. Seorang perempuan berusaha memilih lelaki yang dianggapnya dapat memberikan rasa aman bagi masa depannya serta masa depan keturunannya kelak. Oleh karena itu, lelaki dengan tampilan fisik yang tegap lebih disukai oleh perempuan karena dianggap akan memberikan perlindungan bagi dirinya dan anak-anaknya kelak. Namun, bagi perempuan dengan kemampuan kognitif yang lebih tinggi, tampilan fisik tidak terlalu menjadi faktor. Seorang tokoh psikologi sosial, David Myers (2007), menggambarkan bahwa seorang perempuan dengan kemampuan kognitif lebih tinggi cenderung akan memilih laki-laki yang pandai juga, karena dianggap dapat memberikan jaminan bagi masa depannya, baik secara finansial maupun perencanaan. Sebaliknya, insting laki-laki sebagai pelindung muncul karena melihat perempuan sebagai sosok yang lemah dan perlu untuk dilindungi. Perempuan dianggap sebagai sosok yang perlu disayang, diperhatikan, dan dilindungi. Oleh karena itu, seorang laki-laki akan terpacu untuk bekerja keras dan menghadapi segala tantangan apapun yang membahayakan perempuan.

Jadi, menurut perspektif evolusioner, jelas bahwa peran seorang perempuan ialah untuk memelihara keturunan dan menghidupkan cinta di dalam keluarga, sementara peran seorang lelaki ialah untuk mencukupi dan menghidupi seluruh anggota keluarga. Jika ditarik lebih lanjut, maka jelaslah sekarang mengapa seorang lelaki akan sangat terobsesi akan status dan prestige, sehingga sangat butuh dihormati; sedangkan seorang perempuan akan sangat terobsesi dengan kasih dan sentuhan emosiona, sehingga butuh untuk dicintai – meskipun saya tidak katakan bahwa seorang lelaki tidak butuh dicintai atau seorang perempuan tidak butuh untuk dihormati.

KONFLIK RUMAH TANGGA AKIBAT PERBEDAAN PERAN GENDER

Pandangan evolusioner terhadap peran gender membentuk opini, bahkan stigma, dalam masyarakat bahwa seorang lelaki memang seharusnya bekerja dan berpenghasilan yang lebih besar daripada perempuan. Oleh karena itu, ketika peran ini tidak tercipta, maka timbul perasaan cemas karena merasa tidak dapat memenuhi standar budaya, takut akan stigma negatif dari masyarakat, serta takut akan hilangnya peran gender yang menjadi insting dasar di dalam diri.

Jika sebelum penyetaraan gender kaum perempuan merupakan kaum yang merasa tertekan oleh laki-laki, setelah penyetaraan gender, seringkali kaum lelaki yang merasa tertekan oleh perempuan – dan akhirnya tidak jarang si laki-laki pun akan kembali menekan perempuan dan menciptakan konflik dalam masyarakat. Tidak mudah bagi seorang lelaki untuk menerima ketika pasangannya mendapat pekerjaan dengan posisi dan penghasilan yang lebih baik darinya. Ia akan mulai merasa cemas karena ambisi serta kondisi idealnya dirampas oleh sang istri, sehingga merasa tersaingi. Muncul pikiran pada lelaki tersebut bahwa ia akan tidak dihormati, tidak diperhitungkan, serta gagal menjadi kepala dalam keluarga, karena status serta penghasilannya tersaingi oleh perempuan. Namun, di sisi lain, tidak mudah bagi laki-laki tersebut untuk mengekspresikan perasaannya karena semakin ia mengekspresikan perasaannya, semakin ia merasa cemas. Akibatnya, muncullah berbagai konflik dalam rumah tangga yang terjadi ketika sang suami tiba-tiba mudah marah ketika berbicara tentang pekerjaan dan keuangan, bahkan muncul berbagai alasan dari sang suami untuk membatasi karier istrinya dengan meminta istrinya berhenti bekerja karena merasa cemburu dengan atasan istri, anak-anak yang kurang terpelihara, kondisi rumah tangga yang dianggap berantakan, dan sebagainya.

BAGAIMANA MENGATASINYA?

Sekalipun berkembang stigma dalam masyarakat mengenai lelaki yang seharusnya lebih sukses secara pekerjaan daripada perempuan, namun tidak ada aturan “benar-salah” yang mutlak terkait dengan hal ini. Oleh sebab itu, sikap yang dewasa serta saling menghargai tanpa kondisi apapun antar masing-masing pasangan merupakan hal yang mutlak untuk dapat tetap membina rumah tangga yang harmonis. Pandangan yang bijaksana dan proporsional pada masing-masing pasangan merupakan hal yang penting agar tetap tercipta rumah tangga dimana masing-masing pasangan dapat tetap menjalankan perannya tanpa ditentukan oleh berapa uang yang dihasilkan.

Bagi sang suami, yakinlah bahwa Anda dicintai bukan karena berapa uang yang Anda hasilkan atau berapa tinggi jabatan yang Anda duduki dalam pekerjaan. Seorang istri yang tulus ialah dia yang mencintai Anda, dan bukan berbagai atribut Anda. Anda mungkin merasa bahwa masyarakat menilai Anda gagal, namun Anda perlu untuk mulai berpikir lebih menyenangkan istri Anda daripada masyarakat, bukan? Tetaplah pilih pekerjaan yang terbaik, sekalipun mungkin yang terbaik itu masih belum baik jika dibandingkan dengan pekerjaan sang istri. Yakinlah, bahwa hal tersebut terjadi atas rencana Allah, dan tetaplah berdoa (bdk. Ams 16:9; Yer 29:11).

Kedua, belajarlah untuk tidak melihat dalam perspektif hitam atau putih. “jika kalah dalam pekerjaan, maka saya gagal”, “jika istri lebih kaya, maka saya tidak dapat memimpin”, “jika ia mampu mandiri secara finansial, maka saya tidak dibutuhkan.” Pemikiran – pemikiran tersebut adalah pemikiran sempit yang seringkali membuat kita terjebak dalam kondisi depresif karena memandang dunia hanya berwarna hitam dan putih. Hidup ini jauh lebih dari sekedar hitam dan putih! Terkadang Anda mungkin lebih rendah, namun seperti Roller Coaster, hidup Anda tidak berhenti dalam kondisi yang lebih rendah. Kondisi yang rendah mungkin hanya sebagai pemacu agar Anda bisa memanjat ke yang lebih tinggi, karena toh yang-tinggi itu tidak akan ada tanpa ada yang-rendah, bukan? Sebaliknya, ketika pun Anda berada dalam posisi yang lebih rendah daripada istri secara finansial, Anda bukanlah seorang yang kalah. Tidak semua yang tidak menang adalah kalah. Tetaplah mencintai dan menyayangi istri dan keluarga Anda, maka Anda sudah menang, setidaknya dari kungkungan emosi dan pemikiran sempit Anda.

Bagi sang istri, bersyukurlah karena kesempatan itu diberikan kepada Anda. Ingatlah bahwa pesan Alkitab terhadap Anda berlaku tidak peduli betapapun uang yang Anda hasilkan atau jabatan yang Anda peroleh. Anda tetap dituntut untuk tunduk terhadap suami sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan (bdk. Kol 3:18). Tetaplah menjadi seorang penolong – bukan pesaing – bagi suami Anda, sehingga Anda tetap menjalankan peran serta alasan Allah menciptakan perempuan. Sadarilah bahwa pekerjaan yang suami Anda lakukan adalah pekerjaan terbaik yang ia mampu lakukan, dan hargailah itu – karena jika ia boleh memilih, tentu ia akan memilih yang lebih baik dari Anda demi menyenangkan Anda.

Selanjutnya, tetaplah berkarya dalam bidang yang dipercayakan kepada Anda dan akuilah suami Anda tetap sebagaimana Anda mengakui dirinya sebelum Anda mendapatkan pekerjaan tersebut. Bersyukurlah karena Allah mempercayai Anda sebagai salah satu saluran berkat bagi suami dan anak-anak Anda. Sebaliknya, tetaplah rendah hati, karena Allah bisa saja menggunakan cara lain jika cara yang diberikan melalui Anda ternyata hanya menimbulkan konflik dalam rumah tangga.

Sebagai penutup, saya tuliskan kembali suatu kalimat yang pernah diucapkan saat sebuah rumah tangga akan dibentuk, jauh sebelum diketahui siapa berpenghasilan lebih besar dari siapa; sebuah ikrar yang sebenarnya lebih dari cukup untuk menjadi syarat atas rumah tangga yang harmonis dan jawaban atas segala pertengkaran dalam rumah tangga:

… di hadapan Allah dan jemaat-Nya, aku mengaku dan menyatakan menerima dan mengambil engkau sebagai istriku/suamiku. Sebagai suami/istri yang beriman, aku berjanji akan memelihara hidup kudus denganmu, dan akan tetap mengasihimu pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, dan tetap mendampingimu dengan setia sampai kematian memisahkan kita.

“Let the wife make the husband glad to come home, and let him make her sorry to see him leave.”      
– Martin Luther