Category Archives: Filosofi hidup

Tahun baru, Masalah baru?

GAMBAR

Menyongsong tahun yang baru, setiap individu memiliki respon yang bervariasi. Ada yang bersemangat, sedih, takut, cemas, dan bahkan merasa bahwa semakin hari hidupnya menjadi semakin tidak bermakna. Hal ini tidak jarang dirasakan oleh mereka yang mengalami beban pergumulan yang berat, terutama jika masalahnya tidak kunjung selesai dari tahun ke tahun.

Pada dasarnya, setiap manusia, sepanjang ia masih bernapas tidak pernah lepas dari apa yang dinamakan dengan “masalah” dalam hidupnya. Ketika seseorang masih “diberikan” masalah, itu menjadi tanda bahwa ia masih “hidup”. Yang menjadi krusial dalam hidup manusia bukanlah jenis masalah apa yang dihadapi, seberapa banyak dan berat masalah yang dihadapi, namun lebih kepada bagaimana mengatasi masalah-masalah yang muncul dalam kehidupan. Suatu pepatah mengatakan, ”We’re not defined by our trials, but by how we face them.”

Cara kita menyikapi suatu masalah (dari masalah yang sangat sepele hingga masalah yang dikategorikan sangat berat) dalam hidup dapat menentukan tingkat kesehatan mental kita. Orang yang mudah melihat sisi positif dan menghadapi masalahnya dengan cara-cara efektif (fokus pada inti masalah bukan kepada emosi dan orang yang terlibat, terbuka, mau mendengarkan, berpikir ke depan, dsb) cenderung memiliki mental yang lebih sehat dibandingkan dengan orang yang sulit memandang hal positif, mudah menyalahkan diri sendiri atau orang lain, dan bahkan sulit mencari jalan keluar yang efektif karena senang berlarut-larut dalam emosi yang negatif. Seseorang yang sehat mentalnya memiliki kemampuan penyesuaian diri yang baik terhadap lingkungan maupun masalah yang terjadi dalam lingkungannya karena hampir bisa dipastikan tidak ada lingkungan yang sepenuhnya sama dan mampu memenuhi tuntutan masing-masing individu.

Oleh karenanya, dalam menghadapi tahun yang baru, hendaklah kita tidak lagi mengkhawatirkan masalah apa yang akan terjadi nantinya, tapi lebih perlu untuk mengkhawatirkan tentang diri kita sendiri; apakah kita sudah memiliki kesiapan diri serta cara penyelesaian yang efektif ketika diperhadapkan pada suatu masalah tertentu? Jika ya, kita pastinya akan menjadi orang yang memiliki mental lebih kuat dan sehat dari hari ke hari. Jika tidak, kita dapat menjadi individu dengan mental yang semakin lemah dan rapuh seiring berjalannya waktu. Kesehatan mental yang semakin buruk lama kelamaan dapat menggerogoti kesehatan fisik kita karena keduanya saling memberikan pengaruh satu sama lain, dan tentunya bukan itu yang kita harapkan di sepanjang sisa kehidupan kita saat ini.

“What we achieve inwardly, will change outer reality.”-Plutarch

 

Advertisements

“Keep Moving Forward!” – Belajar dari Bob Sadino

bigstock-Child-Climbing-Steps-323508

Beberapa hari ini kita baru saja kehilangan salah satu tokoh inspirasional di Indonesia, yaitu Bob Sadino. Beliau merupakan seorang pengusaha yang sukses berkat kerja keras dan semangatnya yang tinggi. Awalnya, ia hanyalah orang biasa yang berusaha menyambung hidup setiap hari dengan mencoba berbagai jenis pekerjaan. Air mata dan keringat sudah banyak keluar dari tubuhnya, namun hal tersebut justru seperti “cambuk” yang mendorong dirinya untuk terus maju dan berusaha.

Jika Anda meyakini bahwa kunci kesuksesan harus dipelajari dengan segudang teori dan pengetahuan yang luas, maka kini keyakinan tersebut sudah dipatahkan oleh pemaparan dari Bob Sadino. Baginya, kemauan adalah modal utama untuk bisa menjadi orang yang sukses. Tidak hanya pandai berteori dan membuat rencana, tapi cobalah renungkan beberapa pertanyaan berikut:

  • Maukah Anda merealisasikan buah pemikiran Anda tersebut melalui tindakan nyata?
  • Maukah Anda dengan rendah hati mendengarkan saran serta kritik dari orang lain, terutama pelanggan atau klien Anda, dan tidak merasa diri paling benar?
  • Maukah Anda belajar dari pengalaman Anda dan tidak mengulangi kesalahan yang sama?
  • Maukah Anda memikirkan beribu-ribu jalan lain ketika satu jalan telah tertutup bagi Anda?
  • Maukah Anda mengambil setiap kesempatan atau peluang yang ada di hadapan Anda tanpa perlu merasa “gengsi” dengan diri sendiri maupun orang lain?
  • Banyak orang yang pandai di dunia ini, tetapi banyak dari mereka yang sulit atau kebingungan bagaimana menggunakan kepandaian yang mereka miliki. Mereka memiliki cara pandang yang terlalu ideal sehingga lupa bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini. Akhirnya mereka hanya bisa duduk diam, berpikir banyak hal, dan melewatkan setiap kesempatan kecil yang lewat di depan mata mereka. Banyak orang di dunia ini yang juga memfokuskan diri terus menerus bagaimana untuk menjadi kaya. Yang ada di pikiran mereka setiap hari hanyalah uang dan uang, namun mereka lupa bagaimana berkomitmen dan melihat setiap peluang yang ada yang sebenarnya dapat membuat diri mereka menjadi kaya.

Ketika fokus hidup kita hanyalah kepada uang, maka sebenarnya kita sulit untuk menjadi kaya yang berbahagia. Namun ketika fokus hidup kita lebih kepada kemauan dan komitmen yang tinggi pada apa yang kita kerjakan, berapapun uang yang kita peroleh, biasanya dengan sendirinya kekayaan itu lama kelamaan akan mengejar kita. Kita justru akan menemukan kebermaknaan hidup yang lebih ketika kita memfokuskan diri pada “bagaimana seharusnya saya menjadi seorang individu” dan bukan pada “seberapa banyak yang saya miliki”. Hal inilah yang sebenarnya menjadi landasan hidup Bob Sadino. Ia tidak pernah mengejar uang, namun justru pada akhir hidupnya kekayaan lah yang terus mengikutinya dan membuatnya menjadi pribadi yang berbahagia. “Teruslah maju!” demikian pernyataan implisit yang diungkapkan oleh Bob Sadino. Sedikit apapun usaha yang kita lakukan namun ketika kita terus berjalan ke depan dengan tidak berhenti atau menoleh ke belakang, niscaya ada hasil yang dapat kita tuai pada akhirnya nanti.

– In memoriam of Bob Sadino – 

 bob-sadino

“If you can’t fly then run, if you can’t run then walk, if you can’t walk then crawl, but whatever you do you have to keep moving forward.” ~ Martin Luther King Jr.

Pentingnya Menemukan Yang Lebih Penting dari Yang Terpenting Dalam Hidup

goal - experiencing life foundation

Jika dalam artikel sebelumnya kita sudah sepakat (saya harap demikian) bahwa tujuan hidup merupakan hal penting dalam hidup, satu hal yang membuat adanya hal yang lebih penting saat ini ialah merumuskan tujuan hidup yang efektif. Tujuan hidup penting untuk membuat hidup tetap hidup. Satu-satunya perbedaan antara hidup tanpa tujuan dengan kematian adalah bahwa seseorang yang memiliki hidup tanpa tujuan dihantui perasaan cemas, apatis, dan putus asa; sedangkan seseorang yang sudah meninggal (jika sudah memiliki tujuan setelah kehidupan) disebut memiliki kedamaian dan ketenangan (rest in peace). Bahkan kematian terlihat lebih baik daripada hidup tanpa tujuan!

Kembali kepada rumusan tentang tujuan hidup, ada beberapa hal yang penting untuk diperhatikan dalam merumuskan suatu target yang efektif dalam hidup:

1. Awali dengan MIMPI.

Satu-satunya perbedaan yang harusnya membedakan tujuan dan mimpi ialah bahwa mimpi berupa angan-angan, sehingga membuat apapun yang tidak mungkin menjadi mungkin. Artinya, sebelum merumuskan tujuan, sangat penting bagi kita untuk membebaskan pikiran kita dari segala pikiran dan logika yang seringkali membatasi diri untuk menjadi lebih baik dari yang sebenarnya kita bisa. Bermimpilah menjadi orang yang lebih kaya dari Donald Trump, orang yang lebih baik dari Mother Theresa, atau seorang yang lebih inovatif dari Thomas Alfa Edison, Albert Einstein, Picasso, dan seterusnya. Mimpi yang tinggi membangkitkan perasaan positif yang membakar semangat di dalam diri, sebaliknya mimpi yang ‘terlalu nyata’ seringkali menghalangi kita untuk berbuat lebih dari apa yang sebenarnya kita bisa.

2. Rumuskan TUJUAN dari TUJUAN.

Jangan berakhir dengan mimpi! Lanjutkan dengan merumuskan tujuan. Berbeda dengan mimpi yang jauh dari realita, karena tujuan hendak diaplikasikan dalam keseharian hidup, maka tujuan harus dibuat serealistis mungkin. Realistis di sini artinya memungkinkan untuk dilaksanakan (sekalipun tidak mudah). Mimpi yang tidak realistis perlu diterjemahkan dalam bentuk tujuan yang realistis. Sebagai contoh, seseorang memiliki mimpi untuk menyulap dunia menjadi lebih sejahtera. Tentu ini tidak realistis. Oleh karenanya, tujuan perlu dibuat lebih operasional sehingga dapat digunakan, misalnya: untuk membuat orang-orang di sekitarnya lebih memahami hidup dan bagaimana menjalani kehidupan agar lebih sehat melalui pekerjaannya sebagai seorang dokter.

Aspek penting yang perlu diperhatikan ialah mengetahui motif paling mendasar mengapa tujuan itu penting menjadi tujuan hidup Anda. Tanyakan kepada diri: apa tujuannya memiliki tujuan itu? Mengapa saya perlu mencapai tujuan itu? apa pentingnya saya mencapai tujuan itu? Temukan hingga ke akar-akarnya. Jika kita kaitkan dengan tujuan memiliki tujuan hidup ialah untuk membuat hidup dihidupi ke arah yang positif, maka buatlah batasan yang jelas tentang tujuan dari tujuan hidup Anda. Anda bisa gunakan 3 batasan mendasar yang menjadi standar apakah mimpi itu akan melahirkan hal positif atau tidak di dalam diri Anda: 1) Apakah mimpi itu dapat mendekatkan hubungan kita dengan Sang Pencipta?, 2) Apakah mimpi itu tidak merugikan diri sendiri?, 3) Apakah mimpi itu tidak merugikan orang lain? Jika sudah melewati tiga standar ini, tujuan itu dapat dianggap layak untuk menjadi tujuan hidup Anda.

3. Rumuskan tujuan yang SPESIFIK.

Banyak orang gagal merealisasikan tujuannya karena ia tidak tahu bagaimana mengambil langkah awal untuk memulainya. Ini sangat mungkin terjadi karena dua penyebab: 1) tujuan tidak realistis, 2) tujuan tidak spesifik. Untuk penyebab pertama, sudah dijelaskan dalam poin sebelumnya. Untuk penyebab kedua, penting bagi kita untuk menurunkan tujuan ke dalam hal-hal yang lebih jelas sehingga kita tahu bagaimana cara mencapainya. Bayangkan jika A memiliki tujuan untuk pergi ke luar negeri. Bagaimana cara mencapainya? Rute pesawat apa yang harus diambil? Maskapai penerbangan apa yang menyediakannya? Tentu ini akan lebih sulit direalisasikan jika dibandingkan dengan apabila A bertujuan untuk pergi ke Amerika Serikat. Dengan segera, A akan dapat menemukan cara-cara yang harus dilakukan untuk merealisasikan tujuan tersebut: membuat visa, membeli tiket maskapai tertentu yang memiliki penerbangan dengan rute ke Amerika, dan segera terbang.

Tujuan yang kurang spesifik dalam hidup, misalnya: ingin membahagiakan orang lain, ingin keuangan tetap meningkat, atau bahkan yang lebih rohani seperti: ingin menyenangkan hati Sang Pencipta. Bagaimana cara membahagiakan orang lain? Langkah apa yang harus dilakukan agar keuangan tetap meningkat? Apa yang harus dilakukan agar Sang Pencipta senang? Tujuan umum penting untuk dapat memandu diperolehnya tujuan yang lebih spesifik, namun jika berakhir di tujuan umum, tujuan akan tetap menjadi seperti mimpi.

4. Pelajari cara-cara untuk mencapai tujuan.

Satu-satunya cara agar tujuan dapat menggerakkan hidup ialah ketika tujuan mampu menarik hidup mengarah kepadanya. Untuk dapat berjalan ke arah itu, tentu kita perlu menentukan jalur mana yang ingin diambil. Jika tujuan seseorang ialah menjadi seorang ilmuwan hebat, maka ia perlu menentukan di bidang apa ia ingin geluti, universitas apa yang cocok, atau hal-hal lain yang relevan. Bukan hanya menentukan jalur, penting juga bagi kita untuk paham dan patuhi batasan-batasan yang ada, seperti: kode etik seorang ilmuwan, aturan dan tata cara hidup bermasyarakat, dan sebagainya.

Ketika keempat langkah sederhana di atas mampu dirumuskan, maka motivasi yang mendorong seseorang untuk hidup dapat dibangun. Yang terpenting yang harus ditekankan ialah bahwa bagian terindah bukanlah momen ketika kita berhasil mencapai tujuan hidup itu, melainkan setiap detik perjuangan yang dilakukan untuk mencapai tujuan hidup kita. Banyak orang yang terjebak karena terlalu berfokus pada pencapaian tujuan sehingga ketika ia gagal, ia menjadi sangat frustrasi bahkan mengalami berbagai gangguan kejiwaan, namun ketika ia berhasil pun, ia akan segera merasakan kehampaan karena tidak lagi ada tujuan di dalam hidupnya. Tujuan perlu dibuat bukan semata-mata agar kita mudah mencapainya, tetapi agar hidup kita menemukan makna melalui proses meraih tujuan hidup itu. Dengan semangat demikian, dan hanya dengan semangat itu, hidup menemukan maknanya dan terasa indahnya.

 

“A goal is not always meant to be reached, it often serves simply as

something to aim at.”

— Bruce Lee

Pentingnya Menemukan Yang Terpenting Dalam Hidup

tujuan hidup - Experiencing Life Foundation

Apa yang terpenting dalam hidup?

Sebuah pertanyaan sederhana yang memberikan jawaban sangat bervariasi. Beberapa orang tanpa berpikir langsung menjawab “uang”, sementara yang lainnya menganggap “pasangan”, “keluarga”, “jabatan”, dan sederet jawaban lain yang seolah-olah menggambarkan bahwa hidupnya ideal ketika hal tersebut diperoleh.

Kekayaan, keberhasilan, dan fokus yang terlalu besar terhadap hidup seringkali membuat kita lupa akan apa yang mungkin dapat dikatakan paling penting dalam hidup ini: tujuan hidup. Karena banyak orang berpikir yang penting adalah uang, jabatan, prestasi, pasangan, keluarga, banyak pula yang akhirnya terjebak dengan mencari segala macam cara tercepat dan termudah untuk meraihnya. Ironisnya, setelah semuanya berhasil di raih, mereka terjebak dalam suatu kehampaan, kehilangan arah dan tujuan karena mereka sesungguhnya menempatkan “tujuan” yang terlalu dangkal, sederhana, dan sempit.

Memiliki hidup yang bertujuan merupakan hal yang sangat penting baik untuk pengembangan diri maupun sebagai faktor protektif dari berbagai kondisi gangguan jiwa. Depresi, sebagai salah satu gangguan yang umum ditemui dalam masyarakat, salah satunya ditandai dengan hilangnya tujuan hidup. Kasus-kasus bunuh diri juga merupakan akibat tidak adanya tujuan hidup. Sebaliknya, mereka yang memiliki tujuan hidup justru dapat menjalani hidup dan masa-masa sulit dalam hidupnya dengan tetap bersemangat, karena masalah dianggap sebagai tantangan untuk mendekatkan diri mencapai tujuan hidupnya.

Tujuan hidup perlu dimiliki sejak dini. Dengan memiliki tujuan yang jelas, kita tidak lagi sulit untuk membuat keputusan terhadap berbagai pilihan hidup yang ada. Salah satu contoh sederhana yang sering ditemui ialah dalam hal menentukan jurusan kuliah. Dengan begitu banyaknya pilihan fakultas, tidak sedikit mereka yang bingung dan tidak tahu harus memilih jurusan apa. Beberapa memilih berdasarkan tingkat kesukaran yang menurutnya paling minimal, sementara yang lain memilih jurusan dengan pekerjaan yang dianggap paling menjanjikan. Hanya sedikit yang benar-benar menentukan pilihannya berdasarkan tujuan hidupnya. Akibatnya, ketika menemui hambatan dalam studinya, tidak jarang yang akhirnya menyerah. Mereka yang lahir di keluarga kaya dapat dengan mudah pindah (dan pindah-pindah) jurusan, sementara mereka yang kurang memungkinkan kondisi ekonominya terpaksa putus kuliah. Jika beruntung, yang kaya bisa lulus dari jurusan yang mungkin sama sekali berbeda daripada saat ia masuk. Namun tidak peduli lulus atau tidak, mereka akan kembali bertemu dalam satu titik: ke mana setelah lulus (atau putus) kuliah?

Tujuan hidup yang mantap memberikan arah yang jelas sehingga melahirkan daya juang saat seseorang menghadapi kendala. Bagi mereka yang memiliki tujuan hidup, tidak ada kata gagal dalam hidup mereka karena kegagalan merupakan suatu kondisi ketika seseorang berhenti mencoba untuk bangkit dari keterpurukan. Mereka yang memiliki tujuan hidup yang mantap akan mampu memfokuskan energinya untuk bukan saja bangkit setelah terpuruk, tetapi juga berlari menuju arah yang pasti.

Sesuatu yang hidup adalah sesuatu yang dinamis, bergerak; dan apa yang dapat hidup tetap hidup ialah ketika ada dorongan untuk bergerak ke arah tertentu yang pasti. Untuk itulah tujuan hidup menjadi penting. Uang, jabatan, atau apapun hendaknya bukan menjadi ‘tujuan hidup’ kita karena ketika tujuan hidup direduksi hanya pada hal-hal tersebut, kita dapat dengan mudah mengalami kehampaan ketika sudah berhasil mencapainya. Kekayaan, prestise, atau apapun yang kita anggap penting dalam hidup sebenarnya merupakan alat, akses, serta pemanis dalam upaya kita untuk mencapai tujuan hidup itu sendiri, sehingga hidup kita tidak berhenti ketika telah mendapatkannya, tetapi juga tidak terjebak dalam upaya mati-matian untuk menangkap angin. Pertanyaannya sekarang: apa tujuan hidupmu?

 

“The mystery of human existence lies not in just staying alive, but in finding something to live for.”
― Fyodor Dostoyevsky

 

Bahagia ala Flappy Bird

Flappy Bird - Experiencing Life Foundation

Baru-baru ini dunia dikejutkan dengan sebuah aplikasi permainan yang sebenarnya sangat sederhana, namun begitu fenomenal. Hampir semua pengguna gadget tentu akrab dengan fenomena “Flappy Bird”, sebuah permainan yang konsepnya sangat sederhana (namun bagi sebagian orang sangat sulit, sangat sederhana), nyaris tanpa tujuan selain menghindari tabrakan dengan pipa-pipa, dan tidak ada ‘menang’. Ada beberapa fakta menarik dibalik fenomenalnya berita ini. Pertama, bahwa Dong Nguyen, pembuat game tersebut, sebenarnya telah mempublikasikan Flappy Bird sejak Mei 2013. Permainan itu tidak mendapat respon yang sangat sensasional, sampai ketika pada Januari 2014, seorang pengguna akun YouTube asal Swedia, Felix Kjellberg, membuat video berisi daftar permainan favoritnya dan menempatkan Flappy Bird sebagai salah satunya. Sejak saat itu, Flappy Bird mulai menarik perhatian. Kedua, beberapa sumber menyebutkan bahwa Dong Nguyen berhasil meraup untung hingga US$ 50.000 setiap harinya sejak Flappy Bird menjadi pusat perhatian dunia. Ketiga, dan yang paling menarik, Dong Nguyen telah memutuskan untuk menghapus Flappy Bird per tanggal 19 Februari 2014 sehingga tidak lagi dapat diunduh.

Sebagai seorang pengembang aplikasi permainan (games developer), Dong Nguyen tentu dapat dikatakan sangat berhasil karena karyanya telah diunduh lebih dari 50 juta pengguna, sehingga membuat Flappy Bird sebagai aplikasi permainan terfavorit selama tahun 2014 ini. Bagi kebanyakan orang, Dong Nguyen telah mencapai kesuksesannya karena berhasil meraih keuntungan dengan cara yang halal, mendapat pengakuan atas karya originalnya, serta sedang berada dalam pintu karier yang sangat menjanjikan. Lalu apa yang membuatnya memutuskan untuk justru ‘membuang’ mesin uang dan kepopulerannya itu?

Jika dianalisis dari sisi psikologis, semua teori psikologi sepakat bahwa segala tindakan manusia diarahkan untuk mancapai kebahagiaan. Hampir seluruh teori kepribadian mendukung pernyataan bahwa tujuan hidup manusia ialah untuk memperoleh kebahagiaan. Survival of the fittest pada dasarnya juga dapat dikaitkan dengan tujuan tersebut: bahwa manusia akan bahagia ketika terbebas dari ancaman dan bahaya, sehingga terus berjuang memperoleh kebahagiaannya. Orang yang bahagia ialah orang yang memaknai peristiwa dalam hidupnya sebagai sesuatu yang memberikan kepuasan dan membangkitkan rasa senang. Jadi, bukan peristiwa yang membuat seseorang bahagia, namun pemaknaan akan peristiwa itulah yang menimbulkan kebahagiaan.

Dalam statistik, kita mengenal istilah skor dan value. Keduanya sama-sama dapat diterjemahkan sebagai ‘nilai’, namun sebenarnya keduanya bermakna berbeda. Value merupakan nilai dari sebuah nilai; penghayatan atau pemaknaan dari sebuah skor. Jika dikaitkan dengan kebahagiaan, value merupakan penghayatan yang menimbulkan kebahagiaan sedangkan skor merupakan peristiwa yang merangsang penghayatan tersebut. Berpenghasilan US$ 50.000 per hari merupakan ‘skor’, peristiwa, yang merangsang kebahagiaan. Namun ketika hal tersebut tidak sesuai dengan prinsip serta nilai-nilai yang dianut dalam hidup, maka peristiwa itu tidak membangkitkan rasa bahagia.

Dalam wawancara yang dilakukan oleh berbagai media, Dong Nguyen menganggap bahwa karyanya merupakan “overly success”. Ia tidak nyaman menjadi pusat perhatian dunia, menjadi seorang milioner, dan menjadi sorotan media. Oleh karenanya, ketika berita tentang dirinya menjadi begitu fenomenal, hal itu tidak dimaknai sebagai sesuatu yang membuatnya bahagia, bahkan justru membuatnya menjadi tidak bahagia.

Di era materialistik seperti ini, ketika segala sesuatu diukur dengan angka dan bukan dengan nilai, orang-orang seperti Don Nguyen bisa jadi merupakan orang yang langka. Menjelang Pemilu Caleg dan Capres, banyak oknum yang tergila-gila dengan skor dan angka sehingga hanya berfokus pada persentase yang tinggi dalam survei, jumlah pendukung yang banyak, dan mencari dana kampanye sebanyak-banyaknya. Akibatnya, korupsi merajalela demi meningkatkan ‘angka’ aset dan modal untuk berkampanye. Ketika orang-orang yang seperti ini duduk di kursi pemerintahan, nilai-nilai luhur yang seharusnya dianut justru direduksi menjadi sekedar pencapaian angka-angka saja. Mereka bukan lagi berani bayar harga demi Pancasila, melainkan mentransaksikan Pancasila demi keuntungan segelintir pihak. Politik bukan lagi menjadi sistem untuk kemajuan bangsa, tetapi menjadi suatu pasar tempat terjadinya transaksi untuk meraup keuntungan pihak tertentu.

Semoga Flappy Bird bukan hanya meninggalkan air mata bagi orang-orang yang sudah terlanjur teradiksi dengan permainannya, tetapi juga dapat menginspirasi mereka yang duduk dan akan duduk di kursi-kursi pemerintahan, serta mereka yang selama ini berusaha membayar kebahagiaan dengan angka.

 

“It is not how much we have, but how much we enjoy, that makes happiness.”
– Charles Spurgeon

 

Life is Like A Game

Life is like a Game.jpg

#1. Life is like a game. We start it with an easy one, we learn how to live and to keep living, we adapt and adopt new strategies.

#2. Life is like a game. Sometimes we win and sometimes we lose – and it is not a matter. Sometimes we reach the new level, gain new prestige, but on the other side, we also gain higher responsibility. What more matters is how we deal with losing. We always have the choices: to keep playing or to give up and delete the games.

#3. Life is like a game. As we grow, we reach some check-points in our life: graduation, job, career, and grandparents.

#4. Life is like a game. There is the beginning, and there is also the end. In the end, no matter how many coins you have, you cannot take it. Whether you want it or not, you will end the life, and the rest is our memories, records, and achievements.

#5. Life is like a game, and it’s like a roller coaster, when you experience the ups and downs. You know you are in downs or ups, but you enjoy all the runs! You never want it to stop or to walk slowly because, you know, you miss the moment when it stops.

#6. Life is like a game, but it’s not a chess game. There is more than just a black-and-white colour. Sometimes you win, sometimes you lose, and sometimes the rules of win and lose does not apply.

#7. Life is like a game, but unlike the game, you cannot undo all the time you have spent, and you only have one heart. If you do wrong and you do not learn, you will lose your heart, and there will be no turning back.

#8. Life is like a game, and there is only one direction to win the game: to keep on believing and follow all the clues. You may face difficulties.. you may be very upset.. However, you trully know the key to win this game: to keep on believing in The Way, The Truth, and The Life (John 4:16). You know that as long as you believe on that Clues, you will finish the game, win from all the temptations and challenges, and deserve the crown of winner.

DILEMA KEBEBASAN: Apakah KEBEBASAN benar-benar yang saya cari?

Freedom?  - Experiencing Life Foundation

Kebebasan adalah hal yang paling dicari oleh hampir semua orang. Hidup yang berharga seringkali dikaitkan dengan kondisi ketika seseorang bisa membeli apa saja yang ia mau, pergi ke mana saja yang ia mau, dan menikmati hari-hari tanpa ada kewajiban atau keharusan melakukan sesuatu. Bekerja yang terikat waktu, ikatan kontrak dalam melakukan kewajiban, dan lain sebagainya, sering dianggap sebagai penghalang kebahagiaan seseorang.

Namun, tahukah Anda apa yang akan terjadi ketika seseorang bebas melakukan segala sesuatu yang ia inginkan? Erich Fromm, sebagai tokoh humanistik psikoanalisis, mengemukakan dilema dari kebebasan yang dialami manusia. Menurut teorinya, ketika seseorang ‘bebas’ melakukan sesuatu yang ia inginkan, yang akan terjadi justru ia akan mengalami keterasingan dari dunianya, sehingga kehilangan makna hidupnya. Aturan dan kewajiban melakukan sesuatu sebenarnya bukan hanya menjadi batasan terhadap kebebasan, tetapi justru memberikan makna terhadap hidup.

Sederhananya, ketika Anda bermain monopoli, misalnya, dan Anda memiliki uang yang terlalu banyak sehingga Anda bebas membangun rumah dan hotel dimanapun, tidak kehabisan sekalipun membayar sewa di negara lawan, atau leluasa membayar denda dari kartu ‘kesempatan’ atau ‘dana umum’. Biasanya, orang yang berada dalam kondisi seperti inilah orang yang pertama merasa bosan dan ingin segera menyelesaikan permainan itu. Sama halnya ketika Anda sudah berhasil menyelesaikan studi, meraih puncak karier, dan membina keluarga yang berkecukupan (bahkan mungkin berkelebihan), maka hampir dapat dipastikan Anda akan mengalami midlife crisis, suatu kondisi ketika seseorang kehilangan tujuan dan makna hidupnya. Kebebasan ternyata membuat seseorang ‘terasing’ dengan dunianya, kehilangan tujuan, dan pada akhirnya kehilangan makna hidup.

Hidup yang bermakna bukan berarti hidup yang ideal seperti yang diimpikan sebagian besar orang. Rollo May, seorang tokoh eksistensial, mengungkapkan bahwa hidup yang bermakna diperoleh ketika kita dapat menciptakan relasi yang baik dengan diri sendiri, orang lain, dan alam semesta. Menciptakan relasi yang baik perlu diawali dengan suatu kesadaran akan keberadaan diri, orang lain, dan lingkungan yang seutuhnya. Kesadaran yang utuh tersebut selanjutnya ditanggapi dengan suatu rasa saling memperhatikan dan mengasihi satu dengan lainnya. Interaksi dengan diri, orang lain, dan lingkungan yang positif itulah yang memberikan makna dalam hidup.

Mengenai kebebasan, May mendefinisikan kebebasan sebagai ‘suatu kesadaran akan keterbatasan (destiny; destined = ditentukan)’. Kebebasan yang bermakna dalam hidup seseorang ialah ketika seseorang tersebut menyadari akan keterbatasannya, akan kematian yang siap menjemputnya kapan saja, atau akan segala sesuatu yang tidak terprediksi di dalam dirinya; serta berani untuk menghadapi segala realita tersebut. Jadi, kebebasan dalam hidup justru muncul ketika seseorang menyadari bahwa dirinya terbatas tetapi tetap berani menghadapi segala konsekuensi dari keterbatasannya itu, sehingga dapat bertindak bebas dalam menghadapi hidupnya yang terbatas. Hanya dengan adanya kebebasan inilah seseorang dapat menemukan hidupnya bermakna.

Jadi, ketika saat ini Anda merasa terbebani dengan segala masalah dan tantangan dalam hidup, maka bersyukurlah karena masalah dan tantangan itu ada untuk memberikan makna dalam hidup Anda. Menolak atau menghindari masalah dan tantangan sama saja dengan menyerahkan kebebasan yang Anda miliki, dan membiarkan diri Anda terkungkung dalam suatu ‘kebebasan semu’ yang menghilangkan makna hidup Anda. Sebaliknya, ketika Anda merasa bahwa apapun yang Anda inginkan sudah terpenuhi dan mulai merasa jenuh dengan hidup Anda, itu mungkin pertanda Anda mulai kehilangan makna hidup. Solusinya, silakan ‘mencari masalah’. Tentu saja, bukan melakukan hal negatif sehingga menimbulkan masalah, tetapi tantanglah diri Anda melakukan hal-hal baru yang semula Anda takuti, namun memberikan manfaat positif bagi diri Anda, seperti: melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, berinovasi dalam bisnis baru yang bermanfaat, mempelajari bidang ilmu lain yang menarik namun belum Anda kuasai, serta hal-hal baru lainnya. Selamat ‘mencari masalah!’

“It is an ironic habit of human beings: to run faster when we have lost our way.” 

– Rollo May
 

— — —