Category Archives: Fakta Umum

Bersahabat dengan Kesulitan

Momofuku_Ando

Momofuku Ando (1910-2017).        Sumber: Wikipedia

Berapa banyak di antara kita yang belum pernah makan mie instan? Dengan waktu masak yang kurang dari 10 menit, kita dapat menikmati semangkok mie hanya dengan merebus air panas dan menuang mie serta bumbunya. Sepertinya di antara kita hampir tidak ada yang belum pernah makan mie instan, bahkan mungkin banyak dari kita yang ketagihan memakannya.

Ide menciptakan mie instan ternyata muncul dari sebuah tekanan dan kesulitan. Sejarah mencatat nama Momofuku Ando, pria berdarah Taiwan-Jepang, yang pertama kali menciptakan mie instan, juga dikenal sebagai pendiri Nissin Food, salah satu perusahaan mie instan yang dikenal oleh dunia.

 

Pasca Perang Dunia II, ketika Jepang kalah dari Taiwan, terjadi krisis pangan yang memaksa warga Jepang untuk hanya memakan roti dengan bahan dasar tepung gandum yang dikirim oleh Amerika Serikat. Di masa sulit seperti itu, Ando justru tidak menyerah dengan situasi yang dialaminya. Ia justru berpikir tentu akan lebih baik jika tepung itu dibuat menjadi mie daripada roti, karena mie adalah makanan yang lebih familiar bagi orang Jepang. Namun, kendala berikutnya ialah mie tidak tahan lama. Oleh karenanya, di usianya yang ke-48 pada masa itu, ia melakukan serangkaian eksperimen untuk mengeringkan mi

 

e sehingga dapat disimpan dalam waktu lama, dan berhasil menciptakan mie instan. Bukan hanya itu, ia juga dikenal sebagai penemu mie dalam gelas (cup o’noodle) karena ia melihat banyak orang yang kesulitan untuk mencari wadah yang memadai untuk membuat mie instan.

Apa yang dilakuka

 

n Ando adalah ‘bersahabat’ dengan kesulitan. Coba bayangkan jika ia menghindarinya, mengurung diri, atau berusaha lari dari kesulitan. Dengan bersahabat dengan kesulitan, muncul ide dan peluang yang akhirnya justru menjadi suatu daya lenting untuk membuat dirinya menjadi lebih baik lagi, bahkan berdampak bagi banyak orang di seluruh dunia hingga hari ini.

Orang-orang yang sukses dalam hidupnya bukan mereka yang tidak pernah menemukan kesulitan. Justru melalui kesulitan seseorang dapat mencapai kesuksesan. Kegagalan atau kesuksesan tidak dilihat dari seberapa besar kesulitan yang dihadapi, melainkan bagaimana reaksi kita menghadapinya. Ketika menghadapi tekanan, cobalah berpikir untuk menaklukkan tantangan itu, melihat peluang di balik tantangan, daripada menyerah dan pasrah dengan situasi yang ada.

 “Sometimes we are tested not to show our weaknesses, but to discover our strength.” – anonymous.

Anak Kecil Sudah Berbohong? Wajarkah?

Mengapa anak kecil bisa berbohong tanpa diajari?

Sejak usia berapa anak kecil bisa berbohong?

Bagaimana menghadapi anak yang senang berbohong?

Simak ulasan lengkap Majalah Sang Buah Hati yang merupakan hasil wawancara dengan Karel Karsten Himawan, M.Psi., Psikolog tentang berbohong pada anak. Klik di sini untuk membaca selengkapnya.

Realisasi dan Resolusi Awal Tahun

Entah karena trend yang sudah berlalu, usia yang bertambah sehingga fokus berubah, atau memang benar adanya, sepertinya memasuki tahun 2017 kita tidak banyak mendapat exposure untuk menyusun New Year Resolution. Namun demikian, meski seringkali resolusi tahun baru hanya sebatas daftar di atas kertas, memiliki target dan komitmen yang hendak dicapai dalam hidup adalah hal yang penting untuk membuat hidup benar-benar hidup. Bayangkan jika hari-hari dihabiskan tanpa rencana yang matang, tidak ada tujuan yang jelas, tentu hidup akan terasa sangat membosankan.

Menyusun resolusi tahun baru membutuhkan refleksi akan apa yang terjadi di masa lalu dan proyeksi akan apa yang akan/kita ingin terjadi di masa depan. Kita diajak untuk berpikir dalam dua dimensi waktu (PASTFUTURE), yang sangat berguna untuk merumuskan langkah terbaik di masa kini (PRESENT).

Namun, sadarkah Anda bahwa kemampuan berpikir di masa lalu/masa depan saja tidak cukup untuk merealisasikan apa yang kita inginkan? Bahkan, orang-orang yang dibayang-bayangi oleh masa lalu dan masa depannya sangat rentan mengalami berbagai gejala dan gangguan kejiwaan. Depresi, misalnya, timbul karena penyesalan akan masa lalu atau dihantui akan kegagalan di masa depan. Gangguan kecemasan disebabkan karena kekhawatiran berlebih akan hal-hal yang ‘belum tentu terjadi’ di masa depan.

Tujuan akhir dari merealisasikan resolusi tahun baru tentunya mencapai kebahagiaan. Ironisnya, banyak orang yang setelah menuliskan resolusi itu justru malah semakin jauh dari kebahagiaan. Lalu, apa yang harus dilakukan supaya kita berhasil merealisasikan resolusi kita dengan tetap merasa bahagia?

John Teasdale, Mark Williams, dan Zindel Segal memperkenalkan konsep Mindfulness Based CBT yang terinspsirasi dari konsep Mindfulness Based Stress Reduction (MBSR) yang dikemukakan oleh Jon Kabat Zinn tahun 1979. Dalam konsep ini, ada tiga hal yang penting untuk diterapkan untuk memperoleh kebahagiaan seiring merealisasikan target yang ingin kita capai:

1. Awareness and Acceptance (kesadaran dan penerimaan diri)

Menetapkan target memang penting. Namun, yang sangat penting ialah memiliki gambaran yang objektif tentang diri kita, termasuk segala kekurangan yang kita miliki. Secara psikologis, kita terbiasa untuk menilai diri lebih positif, menutup mata terhadap beberapa kelemahan diri kita. Namun kegagalan untuk melihat keterbatasan kita dapat berdampak pada menetapkan standar yang kurang realistis. Cobalah untuk merefleksikan diri dan mengesampingkan perasaan, emosi, dan pikiran negatif yang seringkali muncul ketika kita berupaya untuk melihat kekurangan dan kegagalan dalam diri kita. Tidak ada cara lain selain menerima secara utuh kegagalan yang pernah kita buat, melepaskannya dari emosi negatif yang tersisa, dan menjadikannya sebagai pelajaran yang berharga.

2. Non-judgmental (tidak menghakimi)

Belajarlah untuk melihat peristiwa sebagai fakta sehingga kita tidak luput dari pelajaran yang hendak diberikan kepada kita melalui peristiwa itu. Penilaian negatif, merasa gagal, merasa bersalah sesekali dan dalam waktu singkat memang bermanfaat untuk memperbaiki diri. Namun yang seringkali terjadi ialah kita terus-menerus dihantui oleh perasaan demikian. Sepanjang kita sudah sadar akan pelajaran yang didapat dari pengalaman yang kurang menyenangkan itu, lepaskanlah emosi negatif yang menyertai, terimalah sebagai bagian yang utuh dalam hidup, dan tersenyumlah.

3. Live in the present (hidup di masa kini)

Penyebab utama kegagalan merealisasikan keinginan dan tujuan dalam hidup ialah karena kita tidak memiliki kontrol di masa kini. Ironisnya, kita berusaha untuk mengontrol apa yang terjadi di masa lalu atau di masa depan, dengan berkata “andai dulu …” atau “bagaimana jika nanti…”. Berhentilah berangan-angan! Kerjakan apa yang mampu dikerjakan sekarang dan jangan lagi izinkan penyesalan dan kekhawatiran mengontrol hidup kita. Apapun yang tidak bisa kita kontrol, serahkan kepada Siapapun yang kita yakini sanggup mengontrolnya, dan berserahlah.

Selamat memulai tahun yang baru di mana Anda adalah satu-satunya orang yang mengontrol langkah Anda sekarang dan saat ini!

 

“The only thing you sometimes have control over is perspective. You don’t have control over your situation. But you have a choice about how you view it.” – Christ Pine

Menikah. Jomblo. Bahagia.

Dunia hari ini dihadapkan pada suatu fenomena yang menarik. Jumlah orang yang memutuskan untuk tidak menikah saat ini meningkat hampir di seluruh negara, terutama di negara Barat, dan tidak terkecuali di Indonesia. Walau data dari Asia Research Institute menunjukkan bahwa dibandingkan negara lain, jumlah orang yang tidak menikah di Indonesia masih relatif kecil, namun jika dilihat peningkatannya dari tahun ke tahun, terdapat jumlah yang berarti terutama dari tahun 1970 hingga tahun 2005, yang mengalami peningkatan hingga 3 kali lipat.

Menariknya lagi, hasil survei Badan Pust Statistik tahun 2014 menunjukkan bahwa indeks kebahagiaan pada orang-orang yang tidak menikah lebih tinggi daripada yang menikah. Bahasa lainnya, para jomblo di Indonesia ditemukan lebih berbahagia daripada mereka yang menikah. Padahal, di sisi lain, budaya di Indonesia masih sangat menjunjung tinggi pernikahan, sehingga mereka yang tidak menikah, apalagi perempuan, dianggap gagal dalam hidupnya.

Benarkah menikah membuat seseorang bahagia?

Menanggapi data-data tersebut, pertanyaan yang muncul berikutnya ialah: apakah benar menikah bisa membuat seseorang lebih berbahagia? Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa status pernikahan berkaitan dengan kurangnya risiko penyakit jantung, depresi, dan meningkatnya kepuasan hidup seseorang. Namun,  penelitian lain menemukan bahwa bukan pernikahan yang membuat seseorang bahagia, tetapi orang yang bahagia yang cenderung memutuskan untuk menikah.

Bella DePaulo, profesor psikologi dari University of Carolina, St. Barbara, menemukan bahwa sebagian besar penelitian tentang pernikahan berlandaskan pada ideologi bahwa pernikahan adalah hal yang positif (sehingga tidak menikah dianggap negatif), sehingga terjebak pada metodologi serta pengambilan keputusan yang keliru. Ia menunjukkan salah satu contoh penelitian yang dilakukan oleh Richard Lucas dan koleganya pada tahun 2003, yang menunjukkan bahwa kebahagiaan seringkali bersifat dinamis dan mengikuti adaptation model, di mana ketika seseorang mengalami kejadian menyenangkan, maka kebahagiaannya akan meningkat, tetapi akan berangsur-angsur kembali menurun hingga pada titik stabil kebahagiaannya. Dengan demikian, penelitian-penelitian yang mengaitkan kebahagiaan dengan pernikahan selayaknya tidak diukur dalam satu waktu (cross-sectional design), karena bisa saja orang yang baru menikah saat itu masih merasa bahagia. Cara terbaik untuk menelitinya ialah dengan menggunakan desain longitudinal, di mana pengukuran terhadap kebahagiaan dilihat dari waktu ke waktu dan diamati perbandingannya antara yang menikah dan tidak menikah. Lucas dan koleganya melakukan penelitian dengan cara ini dan menemukan bahwa pada beberapa orang, pernikahan memang bisa meningkatkan kebahagiaan secara permanen, tetapi tidak pada semua orang.

Jadi, siapa yang berbahagia dan yang tidak?

Menjalani hidup sebagai single, DePaulo mengaku dirinya sangat puas dan berbahagia dalam hidupnya. Ia mengklaim bahwa statusnya ialah ‘single at heart’. Tentu ia tidak sendiri. Beberapa orang juga dapat ditemui puas dengan hidupnya walau tidak menikah. Namun seringkali yang membuat seseorang berbahagia atau tidak bukan status pernikahannya, bahkan bukan kehidupan pernikahannya, tetapi stigma dan prasangka yang diberikan oleh lingkungan terkait dengan status pernikahannya itu. Terutama di Indonesia, ketika seorang perempuan di usia 30 tahunan dan tidak menikah, bukan hanya ia yang seringkali dianggap gagal, tetapi juga terkait dengan reputasi seluruh keluarganya. Tentu ini menjadi beban bagi perempuan tersebut, apalagi, seperti kita ketahui, menikah bukan seperti kuliah yang bisa diputuskan dari satu pihak. Supaya bisa bergelar akademis, kita bisa berupaya sekuat tenaga agar terdaftar dan lulus. Namun untuk bisa bergelar ‘nyonya’, perlu upaya dan kesempatan bertemu dengan orang yang disebut sebagai belahan jiwanya, yang memang ‘jodohnya’.

Oleh karena itu, terkait dengan status pernikahan, hanya ada 2 tipe orang yang akan berbahagia: mereka yang ingin dan berhasil menikah, dan mereka yang tidak menikah karena ingin untuk tidak menikah. Sebaliknya, 2 tipe orang yang paling tidak berbahagia ialah: mereka yang menikah namun tidak ingin menikah dan mereka yang tidak menikah padahal ingin menikah. Jelas bahwa bukan status pernikahan yang membuat bahagia, tetapi motivasi yang terealisasilah yang menentukan kebahagiaan. Parahnya, seringkali kita turut andil menambah beban pada orang-orang yang tidak menikah, melalui pertanyaan “kapan kawin?”,” masih single aja nih?” yang terdengar sepele, namun sangat merampas kebahagiaan  mereka – dan mungkin keluarga besarnya.

Jadi, berhentilah menghakimi. Tidak selamanya bertanya menunjukkan kepedulian, dan jadikanlah single sebagai pilihan, bukan kegagalan, sama seperti menikah adalah pilihan.

“Too many women throw themselves into romance because they’re afraid of being single, then start making compromise and losing identity.” – Julie Delpy

 

Kapan Kawin? Menjawab Pertanyaan Kapan Waktu Terbaik untuk Menikah

 

Kapan kawin?

Sebagian besar dari kita, entah karena mandat budaya, diatur oleh jam biologis, atau panggilan spiritual, bermimpi untuk menikah dan membentuk keluarga baru. Manusia memang dibekali dengan identitas yang sudah ditentukan dari awal – di mana dirinya, orang tua, atau siapapun manusia di muka Bumi ini tidak dapat mengubah atau menentukannya –, yaitu identitas gender. Kehadiran manusia dengan identitas gender secara tidak langsung memberikan suatu pesan bahwa manusia memang diciptakan untuk berpasang-pasangan, yang diikat dalam sebuah pernikahan. Memang betul, beberapa orang sejak awal sudah berkomitmen untuk tidak menikah, dan itu sah-sah saja, tetapi toh masyarakat kita hingga kini masih berkeyakinan bahwa setiap orang selayaknya menikah. Menikah juga sering dianggap sebagai suatu fase sangat penting dalam hidup manusia sehingga ritual pernikahan menjadi begitu istimewa. Dalam sepanjang hidup manusia, mungkin hanya ada tiga peristiwa besar yang dikenang dan dirayakan bersama dengan tradisi berbeda-beda pada tiap-tiap budaya: kelahiran, pernikahan, dan kematian.

Berada di antara kelahiran dan kematian seolah melambangkan seberapa signifikannya momen pernikahan. Melalui pernikahan, seseorang dapat mengalami hidup yang sangat menyenangkan (seperti menyambut kelahiran seorang bayi yang dinantikan) atau menjalani hidup yang sangat berat dan menyiksa (seperti menyaksikan kematian orang yang sangat disayang). Parahnya lagi, pernikahan adalah sebuah jalan di dalam hidup seseorang yang tidak mengenal berbalik arah (tidak dapat di-undo) karena, meskipun seseorang tetap memiliki hak untuk bercerai, pernikahan menjadi sama sekali berbeda ketika dilakukan lebih dari sekali.

 

Lalu, kapan waktu terbaik seseorang menikah?

Teori perkembangan psikososial dari Erikson menegaskan bahwa usia terbaik pernikahan ialah ketika seseorang sudah memasuki masa dewasa muda (usia 20 hingga 40-45 tahun). Di usia ini, tugas perkembangan seseorang terfokus pada pencarian hubungan romantis yang intim dengan orang lain, untuk menumbuhkan dan mengalami cinta yang eksklusif; sedangkan di usia aqil balik, tugas perkembangan remaja masih sebatas pembentukan jati diri, belum berfokus pada pembinaan relasi romantis yang intim dengan orang lain.

Rentang usia dewasa muda tentu sangat luas untuk memberikan indikasi usia terbaik bagi seseorang untuk menikah. Oleh karenanya, secara lebih spesifik beberapa penelitian lanjutan (misal: DeMaris & Rao, 1992; Heaton, 2002; Rodrigues, Hall, & Fincham, 2007; Hanes, 2014) mengkonfirmasi bahwa idealnya seseorang menikah setelah berusia 23 tahun karena mereka yang menikah di bawah usia tersebut adalah yang paling rentan untuk mengalami perceraian. Lebih lanjut, juga ditekankan bahwa semakin muda seseorang menikah, semakin besar peluangnya untuk bercerai.

 

Menikahlah sebelum usia 32 tahun!

Penelitian terbaru ternyata menunjukkan hal yang lebih fenomenal. Pada tahun 2015, Nicholas Wolfinger, seorang profesor dalam bidang Sosiologi di University of Utah, melakukan analisa berdasarkan data survei dari National Survey of Family Growth (NSFG) pada tahun 2006 hingga 2010. Jika studi-studi sebelumnya mengatakan bahwa semakin tua usia seseorang, semakin kecil terjadinya peluang perceraian; dalam hasil analisanya Wolfinger menemukan bahwa usia terbaik seseorang untuk menikah ialah setelah melewati usia 25 tahun, tetapi sebelum usia 32 tahun. Temuan ini juga tetap berlaku sama setelah mengontrol variabel jenis kelamin, tingkat pendidikan, religiositas, latar belakang etnis, dan riwayat aktivitas seksual sebelum menikah. Dalam studinya, Wolfinger menyimpulkan bahwa waktu terbaik untuk menikah ialah di akhir usia 20 tahun, tidak peduli apapun tingkat pendidikan, kepercayaan agama, etnis, atau jenis kelamin orang itu.

Wolfinger menjelaskan beberapa alasan yang mendukung temuannya ini. Pertama, menurutnya, kebanyakan orang yang belum menikah hingga di usia 30 tahun cenderung merupakan orang-orang yang sulit membina hubungan interpersonal yang baik dengan orang lain. Oleh karenanya, ketika mereka menikah, besar peluang pernikahannya mengalami kegagalan. Wolfinger menyadari bahwa dinamika dan tekanan ekonomi di masa kini yang semakin besar membuat banyak orang menunda usia pernikahannya karena berusaha untuk mengejar karier yang menuntut waktu lebih lama untuk mendapat penghasilan yang cukup guna membangun keluarga jika dibandingkan dengan di masa lalu. Namun, menurut Wolfinger, orang-orang yang demikian adalah mereka yang menikah di akhir usia 20 tahunan, sehingga dianggap sebagai kelompok orang yang paling tidak rentan terhadap perceraian dalam pernikahannya. Di samping itu, sebagian orang yang menikah di usia 30 tahunan memiliki motivasi untuk menikah yang lebih dikendalikan oleh tekanan keluarga dan kerabat, sehingga pernikahannya lebih dilandasi oleh usaha pelarian agar tidak mendapat penilaian negatif dari keluarga maupun orang-orang terdekatnya. Itulah sebabnya mereka menjadi lebih rentan terhadap perceraian.

 

Mencermati Temuan Wolfinger

Secara statistik, dengan jumlah sampel yang melebihi 5.000 orang dan teknik sampling dan pengolahan statistik yang tepat, tentu fakta itu dapat diyakini kebenarannya. Pengolahan data hingga pada penarikan kesimpulan demikian sudah sesuai dengan logika statistika. Namun, psikologi, terutama pernikahan, pastinya lebih dari sekadar angka dan data. Di samping akurasi hasilnya yang mungkin terbatas karena hanya melibatkan responden di Amerika Serikat – yang mungkin berbeda dengan tipikal masyarakat di Indonesia –, fakta ini tetap berguna bagi kita untuk mempertimbangkan kapan waktu terbaik untuk menikah. Ada beberapa hal yang perlu menjadi pertimbangan.

Pertama, ukuran waktu terbaik untuk menikah ialah kedewasaan psikologis, bukan biologis. Kedewasaan secara psikologis sulit diukur dari usia karena bagi beberapa orang, kecakapan psikologis dalam membangun hubungan, membina komitmen, dan mengelola konflik mungkin bisa muncul lebih awal daripada sekelompok orang lainnya. Jadi, menjadi tidak bijaksana jika seseorang berharap untuk mendapat pernikahan bahagia dengan menunda pernikahannya hingga akhir usia 20 tahun dan sebelum 32 tahun tanpa melakukan pembenahan dan pengembangan diri.

Kedua, hendaknya kita tidak terjebak pada pengambilan kesimpulan yang keliru. Penarikan kesimpulan usia terbaik menikah yang dilakukan oleh Wolfinger dilakukan berdasarkan analisa terhadap data, baru setelah itu ditelusuri kemungkinan sebab-sebab munculnya pola data demikian. Oleh karenanya, kita tidak boleh keliru dalam memaknai fakta ini agar tidak terjebak pada pengambilan keputusan yang salah. Sederhananya, jika ada data yang mengatakan bahwa ada banyak kecelakaan mobil yang terjadi di suatu jalan di malam hari; maka data ini seharusnya bukan membuat kita berpikir untuk tidak melewati jalan itu di malam hari, tetapi justru lebih berhati-hati dengan memperhatikan analisa mengapa sering terjadi kecelakaan di jalan itu pada malam hari, atau bahkan berinisiatif membuat penerangan di jalan itu sehingga tidak lagi terjadi kecelakaan. Bagi yang sudah berusia di atas 30 tahun, tentu temuan ini bukan menjadi alasan untuk Anda tidak menikah karena kemungkinan bercerainya tinggi, melainkan menjadi informasi yang sangat bermanfaat untuk merefleksikan diri apa yang harus diantisipasi agar pernikahan Anda tetap berbahagia.

Terakhir, realita psikologi tidak cukup direpresentasikan melalui angka-angka. Realita psikologi bersifat sangat unik, khas, dinamis, dan subjektif. Data yang ada bicara mengenai pola dan probabilitas, bukan sesuatu yang pasti. Jadi, bukan berarti semua orang yang menikah sebelum akhir usia 20 tahun atau di atas usia 32 tahun pasti akan gagal pernikahannya; namun data itu memberikan informasi yang bermanfaat mengenai dinamika pernikahan pada sebagian besar orang dalam kurun waktu tertentu.

 

Jadi, kapan kawin?

Saya percaya waktu terbaik seseorang untuk menikah tidak dibatasi oleh usia biologisnya, tetapi kematangan dan kemantapan hatinya untuk siap memasuki pernikahan. Motivasi seseorang untuk menikah lebih menentukan kualitas pernikahannya daripada usia saat ia menikah. Pernikahan yang berhasil bukan terjadi hanya karena seseorang merasa kesepian, merasa tertekan oleh penilaian keluarga dan orang di sekitarnya, atau merasa tidak mampu berdiri sendiri (memiliki self-esteem yang rendah, membutuhkan pengakuan dan penerimaan dari orang lain). Justru pernikahan yang baik terjadi pada dua orang yang sebenarnya mampu berdiri sendiri, tetapi memutuskan untuk berkomitmen dan bersatu membentuk sebuah keluarga. Pada orang-orang yang menikah karena membutuhkan topangan, tentu akan menaruh ekspektasi tinggi yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan dirinya. Namun jika pernikahan dilakukan oleh orang-orang yang sebenarnya mampu berdiri sendiri, ia tidak lagi menaruh harapan yang egois dalam pernikahannya; sebaliknya, ia justru lebih berorientasi untuk membahagiakan pasangannya melalui pernikahan itu.

Jadi, menikahlah ketika Anda sanggup berdiri sendiri, berapa pun usia Anda saat itu.

 

Artikel dipublikasikan dalam buletin Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara, volume 2, no. 15. 

Acuan:
DeMaris, A., & Rao, K. V. (1992). Premarital cohabitation and subsquent marital stability in the United States: A reassessment. Journal of Marriage and the Family, 54, 178-190.
Hanes, S. (2014, Mar 10). Best predictor of divorce? age when couples cohabit, study says. The Christian Science Monitor Retrieved from http://search.proquest.com/docview/1505399866?accountid=25704
Heaton, T. B. (2002). Factors contirbuting to increasing stability in the United States. Journal of Family Issues, 23(3), 392-409.
Rodrigues, A. E., Hall, J. H., & Fincham, F. D. (2007). What predicts divorce and relationship dissolution. Dalam M. A. Fine & J. H. Harvey (Eds). Handbook of Divorce and Relationship Dissolution (hal 85-112). New York, NY: Taylor & Francis.
Wolfinger, N. H. (2015). Want to avoid divorce? Wait to get married, but not too long. Diunduh dari http://family-studies.org/want-to-avoid-divorce-wait-to-get-married-but-not-too-long/

3 Alasan Pentingnya Psikotes Pada Karyawan

Baik pekerja maupun pemberi kerja pasti setuju bahwa pekerja ideal ialah ketika ia merupakan the right man on the right place. Bagi sebagian orang, bekerja dengan menghitung angka-angka dan mencocokkan data dari satu dokumen ke dokumen lainnya merupakan pekerjaan yang sangat mereka senangi, sementara bagi sebagian lainnya, ketika diminta bekerja demikian, mereka akan sangat frustrasi dan tidak puas dengan pekerjaannya. Akibatnya, tentu hasil kerjanya menjadi tidak optimal, banyak kesalahan, dan bahkan menambah pekerjaan bagi orang lain.

Keunikan pada diri setiap orang rupanya menjadi modal penting bagi roda industri untuk tetap berputar. Dengan variasi peran yang dijalankna, mereka akan dapat saling mengisi kekosongan satu sama lain, sehingga produktivitas kerja dapat tercapai. Masalahnya, jarang sekali perusahaan yang  memiliki orang yang tepat pada posisi yang tepat itu. Ada orang-orang yang sebenarnya sangat potensial jika bekerja di bidang keuangan, namun karena ia bekerja di bidang pemasaran, maka potensinya menjadi tidak berkembang, walau ada pula orang-orang yang memang potensi dan motivasi kerjanya sangat terbatas sehingga tidak akan sesuai untuk mengisi pekerjaan apapun.

Untuk membantu memetakan potensi dan kemampuan seseorang agar dapat mengisi posisi yang tepat dalam sebuah perusahaan, pemeriksaan psikologis penting untuk dilakukan. Namun masalahnya, banyak perusahaan yang memilih untuk tidak melakukan pemeriksaan psikologis pada karyawannya karena berpikir bahwa mereka harus mengeluarkan uang. Padahal, menempatkan orang di posisi yang salah justru malah membuat mereka berpeluang besar untuk mengeluarkan uang yang lebih besar daripada untuk melakukan pemeriksaan psikologis (misal: biaya training yang sia-sia, produktivitas kerja yang kurang optimal, dan angka turnover yang meningkat).

Pemeriksaan psikologi biasanya dilakukan oleh pihak ketiga dengan tujuan untuk menjamin netralitas hasil penilaian terhadap karyawan. Tujuan pemeriksaan bisa untuk dalam rangka seleksi penerimaan karyawan, pemetaan karyawan, atau mengevaluasi performa dan kesiapan karyawan yang nantinya akan berguna untuk pertimbangan melakukan promosi pada karyawan. Pemeriksaan psikologi merupakan rangkaian proses yang terdiri dari: psikotes (penggunaan materi tes psikologi baik dalam bentuk paper-and-pencil maupun computerized), observasi (bisa dalam bentuk simulation, focus group discussion, leaderless group discussion), dan wawancara.

Sekurang-kurangnya ada 3 alasan yang membuat psikotes/pemeriksaan psikologi pada karyawan penting untuk dilakukan perusahaan:

#1. Psikotes/pemeriksaan psikologis memungkinkan kita untuk memprediksi performa pekerja sebelum mereka bekerja. Berbeda dengan tes akademis yang biasa dilakukan, psikotes dapat memberikan informasi bukan hanya tentang kemampuan pekerja, tetapi juga potensi dari pekerja tersebut. Potensi berarti sesuatu yang belum terlihat. Dengan demikian, ketika ada karyawan yang kurang menunjukkan performa yang baik, melalui psikotes/pemeriksaan psikologis kita dapat mengetahui apakah kinerja yang kurang baik tersebut disebabkan oleh: a) ia tidak memiliki kemampuan dan kemauan untuk bekerja dengan baik, b) ia sebenarnya memiliki kemauan untuk bekerja, namun tidak mampu, c) ia sebenarnya mau dan mampu bekerja, namun kurang termotivasi karena beberapa faktor. Dengan menilik pada hal ini, tentu mudah untuk dapat memprediksi siapa yang akan berhasil, siapa yang akan berhasil jika dilakukan penyesuaian (baik pada sistem reward, posisi/jabatan, dan lain-lain), dan siapa yang kemungkinannya sangat kecil untuk berhasil.

#2. Psikotes/pemeriksaan psikologis memberikan informasi yang sulit didapat jika hanya mengandalkan pengamatan atau penilaian secara umum dan bukan oleh profesional di bidangnya. Setiap orang, apalagi orang yang sedang melamar kerja, tentu berusaha untuk menciptakan kesan pertama yang positif. Kesadaran bahwa dirinya sedang dinilai pasti membuatnya untuk menunjukkan dirinya yang terbaik. Jika yang ditunjukkan bukanlah kondisi yang sebenarnya, maka tentu saat ia bekerja, hasil kerjanya tidak akan sesuai dengan yang diharapkan. Rangkaian pemeriksaan psikologis/psikotes dapat mendeteksi hal tersebut, sehingga dapat membedakan orang-orang yang terlihat baik karena mereka memang benar-benar baik dan orang-orang yang terlihat baik karena mereka sedang menyembunyikan hal-hal yang buruk.

#3. Psikotes/pemeriksaan psikologis membantu memetakan karyawan untuk mengisi posisi yang sesuai dengan dirinya. Rangkaian pemeriksaan psikologis dilakukan bukan hanya untuk menguntungkan perusahaan karena dapat memiliki orang-orang terbaik untuk mengisi posisi yang ada, tetapi juga menguntungkan karyawan yang bekerja di dalamnya karena akan membuatnya bekerja sesuai dengan minat dan kemampuannya. Setiap orang pasti memiliki potensi, dan sepanjang didukung dengan motivasi dan semangat kerja yang positif, tentu ia akan sesuai dengan salah satu dari sekian banyak lowongan pekerjaan yang ada. Memiliki karyawan yang bekerja sesuai dengan keahliannya akan membuat produktivitas kerja meningkat berkali-kali lipat karena pekerjaan tidak lagi dianggap sebagai beban bagi mereka, tetapi sebagai pengalaman positif yang membantu mengaktualisasi diri mereka.

 

Oleh karena itu, psikotes merupakan hal yang penting untuk dipertimbangkan dalam menunjang produktivitas suatu industri. Namun, perlu tetap diingat bahwa hasil psikotes bukanlah alat untuk menjadikan label bagi orang-orang yang dites. People change. Jadi, apabila ada orang-orang yang saat dites mendapat hasil kurang memuaskan, rekomendasi psikologis (yang biasanya juga diberikan di dalam laporan hasil psikotes) tetap perlu diperhatikan untuk meningkatkan potensi / kapabilitas karyawan tersebut. Beberapa informasi hasil psikotes juga memiliki masa validitas yang terbatas pada beberapa bulan atau tahun karena manusia adalah mahkluk yang dinamis dan pembelajar.

Karakter Bagian 2: Karakter & Berlian

Ada satu definisi menarik tentang karakter yang dikemukakan dalam characterfirst.com, seperti ini:

“Character is like a diamond; the ultimate goal is to develop the radiance of character that is so blended together that many qualities may sparkle in the light of a single deed.”

Dari berbagai pengertian yang ada mengenai karakter, sepertinya karakter yang dianalogikan dengan berlian ini benar-benar tepat menggambarkan karakter. Karakter tidak pernah bisa dilihat, tetapi manifestasinya dalam perilaku tampak bahkan hanya melalui satu tindakan kecil. Jadi, orang-orang yang berkarakter kuat akan menunjukkan kilauan karakternya bahkan melalui suatu tindakan sederhana yang dilakukan.

Berbicara mengenai berlian, ternyata sangat menarik untuk mencermati bagaimana sebuah berlian terbentuk serta relevansinya dengan pembentukan karakter. Kira-kira ada empat hal penting yang menggambarkan pembentukan sebuah berlian yang sepertinya serupa dengan pembentukan karakter seseorang.

#1. Berlian berasal dari karbon.

Tentu tidak ada orang yang mau membeli karbon dengan harga semahal berlian. Karbon seringkali dianggap jelek, hitam, kotor, dan seringkali dianggap sebagai benda beracun. Jadi, berlian tidak ada dengan sendirinya. Ia berasal dari sesuatu yang tidak berharga, tetapi melalui proses tertentu, ia dapat menjadi sesuatu yang sangat bernilai. Begitu pula dengan karakter. Seseorang yang berkarakter tidak dilahirkan dari sananya menjadi berkarakter. Ia harus melalui proses dan terpaan dalam kehidupan untuk membuat karakternya teruji. Menjadi pribadi yang berkarakter perlu usaha, dan seringkali usahanya lebih keras daripada apa yang kita pernah pikirkan!

#2. Berlian ditemukan di kedalaman 100-200 km dari permukaan Bumi.

Sebagai barang yang sangat berkilau dan berharga, berlian tidak berada di tempat yang mudah terlihat oleh orang lain; namun keberadaannya dicari dan dihargai oleh orang lain. Sama halnya dengan karakter, kita tidak dapat melihat karakter seseorang dengan mudah karena ia tidak tampak sebagaimana kita menilai cantik / tampannya seseorang. Karakter terletak di kedalaman pribadi seseorang, namun keberadaannya pasti diketahui, diperhitungkan, dan dihargai oleh orang lain.

#3. Untuk membentuk berlian, dibutuhkan jutaan tahun, dengan suhu melebihi 1.000°C, dan tekanan sekitar 50 kilobar.

Suhu yang panas dan tekanan yang besar tentu sesuatu yang menimbulkan ketidaknyamanan. Namun ketidaknyamanan itu berbuah sesuatu yang tanpanya kita tidak dapat menghasilkannya. Orang-orang yang menjadi panutan karena karakternya yang tajam dan terpuji ialah mereka yang sudah melalui masalah yang besar dan luar biasa di dalam hidupnya, dan ia memilih untuk bertahan dan menghadapinya. Banyak orang yang berpikir untuk menghindari masalah, play safe, dan mengkondisikan lingkungannya sebisa mungkin agar terbebas dari tantangan. Orang-orang seperti ini memang terlihat memiliki jalan yang lurus dalam hidupnya, tenang, dan selalu senang; namun sebenarnya ia sedang memilih untuk menyimpan karbon dalam hidupnya dan tidak pernah berniat untuk menjadikannya berlian.

#4. berlian keluar ke permukaan bumi saat letusan gunung berapi.

Panas yang begitu terakumulasi membuat berlian disemprotkan dari dalam Bumi. Sama halnya dengan berlian, karakter seseorang paling tampak ketika ia berhadapan dengan masalah yang sangat pelik, yang menuntut pengambilan keputusan yang kritis. Situasi ketika masalah itu ‘harus meledak’, di situlah karakter seseorang tampak. Tidak sulit menjadi orang baik dalam situasi yang menyenangkan, tetapi dalam situasi yang sangat menekan, sulit mencari orang yang tetap baik dan ‘berkilau’ kepribadiannya.

Menjadi pribadi yang berkarakter butuh usaha, butuh perjuangan, dan butuh ‘masalah’. Terkadang hal itu begitu berat hingga kita merasa ingin menghindarinya, memaksa orang lain berubah untuk kita, dan mengkondisikan lingkungan agar tidak menuntut kita begitu besarnya. Namun sejatinya, upaya-upaya demikian hanya merupakan upaya yang menghalangi kita untuk memurnikan karakter kita. Berbahagialah jika saat ini masih ada masalah yang kita hadapi, masih ada situasi yang seolah-olah terlalu menekan, dan hadapilah. Bertahan, dan jangan menyerah, hingga suatu saat orang melihat kilauan yang indah dalam diri kita.