Category Archives: Kristen

Ketika “Aku Cinta Padamu” Tidak Lagi Cukup

relationship - experiencing life foundation

Banyak yang mengatakan membangun hubungan romantis jauh lebih mudah daripada mempertahankannya. Walaupun beberapa orang tetap beranggapan bahwa membangun hubungan merupakan hal sulit, harus diakui bahwa mempertahankan hubungan seringkali terasa jauh lebih sulit. Sekalipun angka perceraian masih lebih sedikit daripada angka pernikahan yang bertahan, beberapa hubungan pernikahan yang bertahan tidak selalu menggambarkan kepuasan pasangan atas hubungan itu. Banyak di antaranya yang terpaksa mempertahankan hubungan demi anak, demi penilaian masyarakat, demi ‘tidak berdosa’ melanggar ajaran agama, atau demi menjaga nama baik keluarga.

Mempertahankan sebuah hubungan memang bukan hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga seni (keterampilan) untuk melakukannya. Seringkali pasangan tahu apa yang benar, namun untuk melakukannya tidak pernah sesederhana mengetahuinya. Masalah mempertahankan hubungan bisa jadi merupakan masalah yang abadi sepanjang manusia hidup. Perselingkuhan bukan lagi hal yang baru. Hukum dari masa lalu pun sudah jelas mengatur tentang hal tersebut, mengindikasikan bahwa perselingkuhan dan kegagalan hubungan pernikahan merupakan masalah klasik yang tidak pudar oleh perkembangan waktu.

Emerson Eggerichs, penulis buku terkenal “Women Need Love and Man Need Respect” dengan tegas menyebutkan rahasia sederhana yang kompleks untuk mempertahankan sebuah hubungan: bahwa lelaki butuh dihormati dan perempuan butuh dicintai. Dalam riset sederhana yang dilakukan, disebutkan bahwa 74% laki-laki lebih memilih untuk merasa kesepian dan tidak dicintai daripada tidak dihormati. Sebaliknya, perempuan membutuhkan cinta dari pasangannya sama seperti manusia membutuhkan oksigen untuk bernafas.

Buku tersebut diterbitkan pertama kali pada tahun 2004. Namun tips yang sama sebetulnya sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu, tertuang di antaranya dalam kitab Efesus 5: 22-33. Secara detail kedua sumber itu sepakat bahwa: istri harus menghormati suami, tanpa syarat, dan suami harus mengasihi istri, juga tanpa syarat. Tanpa syarat berarti tanpa batas, hormat yang tiada batas sama seperti manusia  hormat kepada Tuhannya, dan kasih yang tanpa batas sama seperti Tuhan yang mengasihi manusia. Resep yang begitu sederhana, tetapi tidak pernah mudah melakukannya. Mengapa?

Beberapa pasangan perempuan akan berdalih: “bagaimana bisa saya menghormati suami saya yang pulang kerja larut malam?”,  sementara yang lelaki juga akan mengatakan: “tidak mungkin saya dapat mencintai pasangan yang tidak dapat mengendalikan mulut dan emosinya!”. Lalu di tengah pembelaan diri tiada habis ini, muncullah penengah yang mengatakan, hubungan hanya dapat dipertahankan jika keduanya memiliki komitmen. Sekilas, memang terdengar betul. Tapi, seperti yang dikatakan oleh Sternberg, cinta yang hanya dibangun dengan komitmen pada akhirnya akan terasa hampa.

Komitmen penting. Namun komitmen seharusnya lahir bukan dari usaha untuk mempertahankan cinta, tetapi dari kepercayaan (trust) yang penuh pada pasangan. Inilah yang seharusnya menjadi inti dari sebuah hubungan yang harmonis dapat dipertahankan. Seorang perempuan tidak akan pernah menghormati pasangannya yang pulang kerap larut malam kecuali ia percaya penuh bahwa apa yang dilakukan pasangannya adalah demi mencari nafkah bagi keluarganya. Seorang lelaki tidak akan pernah mencintai pasangannya yang cerewet, menuntut, dan banyak mengatur segala sesuatu kecuali ia percaya penuh bahwa segala hal yang dicerewetkan, dituntut, dan diatur adalah bagian dari usaha pasangannya itu untuk mewujudkan rumah tangga yang baik dan harmonis.

Kepercayaan adalah hal mutlak bagi terpeliharanya keharmonisan suatu hubungan, sama dengan iman mutlak bagi penganut agama. Oleh karena itu, bagi yang belum memasuki pernikahan, penting untuk menantang diri: sejauh mana Anda percaya bahwa pasangan Anda benar-benar memiliki satu visi dengan Anda dalam mewujudkan rumah tangga dan masa depan; bagi Anda yang sudah menikah: pasti ada visi yang sama yang membuat Anda menikah, kembalilah pada visi itu, nikmati kembali rasa ketika visi itu disatukan, dan buatlah komitmen bersama-sama untuk saling percaya bahwa keduanya berambisi menciptakan yang terbaik, sehingga tidak lagi sulit untuk menghormati maupun menyayangi pasangan.

“A perfect marriage is two imperfect people who refuses to give up on each other.”

– Anonymous.

Referensi acuan, klik di sini.

Advertisements

Beli Sekarang: Integrating Psychology & Christianity – The Enrichment Model

Integrating psychology and christianity - Karel Karsten & Eunike MutiaraPersoalan integrasi antara psikologi dengan Kristen akhir-akhir ini sudah mulai mendapat perhatian yang besar. Beberapa kontroversi bermunculan tentang apakah memungkinkan keduanya bersatu. Sejak psikologi menjadi ilmu yang lepas dari filsafat, yakni sejak Wundt mendirikan laboratorium psikologi pertama di dunia pada tahun 1879, secara berangsur-angsur psikologi seolah berkonflik dengan Kristen, diantaranya: beberapa tokoh psikologi yang menganggap Kristen sebagai suatu determinan atau penyebab gangguan neurotik, teori-teori baru yang mengkultuskan diri sendiri seolah sebagai tuhan, bahkan sampai diterimanya kaum homoseksual sebagai kondisi yang tidak lagi dianggap patologis. Ini merupakan suatu fenomena yang ironis, karena fakta perjalanan sejarah menunjukkan bahwa pada awalnya, psikologi maupun seluruh ilmu-ilmu lain, merupakan ilmu yang dikembangkan dengan salah satu tujuan untuk membantu manusia mengenal siapa Allah melalui ciptaan-Nya, sehingga kelak dapat berguna untuk meningkatkan kesejahteraan hidup manusia.

Hingga hari ini, bahkan di Indonesia, belum banyak ahli psikologi yang berani secara eksplisit mengintegrasikan keduanya. Dalam melakukan psikoterapi, merefleksikan hidup klien, atau bahkan dalam penelitian, peran agama (Kristen) seringkali diabaikan karena dianggap dapat merusak tatanan konstruk psikologi yang ada. Padahal di sisi lain, berbagai penelitian menunjukkan bahwa spiritualitas dan religiusitas berkontribusi positif terhadap kondisi psikologis seseorang.

Dalam lingkungan universitas pun, ilmu psikologi diajarkan secara ‘independen’. Ya, beberapa kalangan menyebutnya independen dengan dalih bahwa usaha mengintegrasikan psikologi dalam perspektif Kristen merupakan usaha membatasi psikologi hanya dalam kacamata Kristen saja. Padahal sesungguhnya, usaha menghindari integrasi psikologi dengan Kristen itulah yang sebenarnya membatasi ilmu psikologi sehingga tidak boleh keluar dari ‘pagarnya’ dan berhubungan dengan ilmu lain – dalam hal ini teologi. Usaha ini menjadi semacam jebakan karena ketika banyak orang memisahkan psikologi dengan Kristen dengan tujuan agar tidak terkungkung dalam satu perspektif, sebenarnya telah mengungkung psikologi itu sendiri agar tidak keluar dari perspektifnya saat ini.

Buku ini berusaha memberikan gambaran tentang bagaimana integrasi antara psikologi dan Kristen itu dapat, bahkan seharusnya, dilakukan agar keduanya menemukan keutuhan. Model integrasi yang dikembangkan dalam buku ini bukan model yang baru, melainkan hanya memodifikasi kelima model awal yang telah banyak diterima dan didiskusikan oleh beberapa kalangan (Level of Explanation Model, Christian Psychology model, Transformational Psychology Model, Integration Model, Biblical Counseling Model). Dalam buku ini, segala kelebihan dari masing-masing model integrasi tersebut diintegrasikan serta dibuat lebih sistematis sehingga integrasi antara psikologi dan Kristen dapat dilakukan dengan luwes, baik dalam rangka untuk menganalisa maupun untuk praktik profesional.

Pada akhirnya, buku ini benar-benar berusaha untuk mengajak para praktisi kesehatan mental, khususnya yang juga beridentitas sebagai umat Kristen, untuk benar-benar bijaksana dalam mengintegrasikan keduanya. Bahwa seorang psikolog bukanlah seorang penginjil, pengkhotbah, yang perlu berkoar-koar menceritakan tentang keyakinan agamanya kepada kliennya. Di sisi lain, bahwa keyakinan agama sejatinya juga dapat, bahkan lebih nyata jika tercermin dalam perilaku, bukan hanya dengan perkataan, psikolog.

Klik di sini untuk mendapatkan buku ini.

Makna Natal: Habis-Habisan Memberi yang Tidak Dapat Habis

Christmas gift - ELF

 

Dalam hitungan hari, umat Kristen akan merayakan Natal. Ada satu pesan menarik dari Natal yang terkait erat dengan prinsip-prinsip psikologi. Natal diperingati sebagai hari kelahiran Yesus Kristus, yang bagi orang Kristen merupakan peristiwa besar untuk menggenapi kebenaran firman yang sudah disampaikan beribu tahun sebelumnya, dan bersama dengan karya hidup Kristus hingga sampai kematian-Nya, injil menjadi suatu kebenaran yang hidup dan memiliki kuasa (karena tanpa karya inkarnasi Kristus, injil hanyalah kebohongan belaka).

Terlepas dari rangkaian kisah itu, ada satu kebenaran filosofi yang unik dari peristiwa Natal dan terkait erat dengan apa yang disebut dengan psychological well-being (kesejahteraan psikologi). Natal berarti Allah Bapa memberikan dan merelakan anak-Nya untuk lahir di dunia, menebus dosa manusia tidak terkecuali, tanpa mengharapkan imbalan dari manusia. Kasih Kristus hadir dan dinyatakan bagi setiap orang, bukan karena orang itu melakukan sesuatu atau bukan mengisyaratkan sesuatu untuk dibayarkan sebagai imbalannya. Inilah pemberian yang sejati, dan dari sinilah sukacita Natal muncul.

Untuk memaknai sukacita Natal, orang Kristen membagikan sukacitanya melalui perayaan Natal, menyiapkan hadiah bagi orang-orang yang dikasihi. Kebahagiaan Natal yang sejati justru muncul bukan karena mendapatkan hadiah, melainkan karena menyiapkan dan memberikan hadiah kepada orang lain. 

Tahukah Anda bahwa memberi juga memberikan dampak psikologis yang lebih positif dan mendekatkan seseorang kepada kebahagiaan yang sebenarnya daripada menerima? Setidaknya ada 3 alasan yang mendukung hal ini.

1. Memberi mengisyaratkan peran aktif, bukan pasif. Ketika Anda memberi, berarti Anda secara aktif bertindak melakukan sesuatu. Sebaliknya, menerima berarti Anda diam dan berharap orang lain memberikannya pada Anda. Jika dikaitkan dengan kebahagiaan, dengan memberi, Anda berarti secara aktif mendefinisikan dan menciptakan kebahagiaan di dalam diri Anda, bukan menggantungkan kebahagiaan dari lingkungan atau ekspektasi terhadap apa yang orang lakukan kepada Anda. Hal ini sejalan dengan teori locus of control yang dikembangkan oleh Rottler (1954). Orang-orang yang memiliki internal locus of control memiliki peran aktif untuk dapat mengubah lingkungannya, sehingga dapat menciptakan kebahagiaannya sendiri.

2. Memberi menyatakan siapa Anda, menerima mendefinisikan siapa Anda. Seorang psikolog sosial bernama Erich Fromm, dalam bukunya yang berjudul To Have or To Be (1976) membedakan dua tipikal umum manusia, yakni kelompok being dan having. Orang-orang dalam kelompok having adalah mereka yang mengaitkan identitas dan jati dirinya berdasarkan apa yang mereka miliki. Jadi, kesenangan mereka digantungkan pada atribut yang mereka punya, termasuk yang mereka dapatkan. Sementara itu, orang-orang dalam kelompok being ialah mereka yang memiliki identitasnya tidak ditentukan oleh atribut yang melekat pada dirinya. Jadi, kebahagiaan mereka murni ditentukan oleh apa yang mereka dapat lakukan, bukan apa yang mereka dapatkan. Karakter yang produktif, tentu, adalah orang-orang being, yang kebahagiaannya sejati karena tidak bergantung pada kondisi lingkungan.

3. Kebahagiaan sejati timbul ketika manusia membina hubungan dengan sesamanya, bukan dengan objek lain. Ada yang mengatakan “money can’t buy you happiness”. Tentu ini pendapat yang benar, walaupun kita juga tahu bahwa kebahagiaan sulit terjadi jika tidak ada uang. Namun pepatah itu menunjukkan bahwa ‘kebahagiaan tidak dijual’, dan oleh karenanya Anda tidak dapat membelinya dimana-mana. William Glasser (1998) pernah mengatakan bahwa kebahagiaan yang sejati timbul ketika seseorang dapat membina hubungan yang berkualitas dengan sesamanya. Hadiah, gadget favorit, tas bermerk atau alat-alat fashion lainnya mungkin bisa membuat Anda bahagia, tetapi seringkali, bahkan selalu, memberikan kebahagiaan yang fana. Ia hanya bertahan selama beberapa waktu, dan setelahnya, semua benda itu tidak lagi membuat Anda bahagia. Itulah yang terjadi ketika Anda melekatkan kebahagiaan pada hadiah yang akan orang lain berikan pada Anda. Sebaliknya, ketika Anda memberikan hadiah, secara tidak langsung Anda pun sedang memuaskan kebutuhan Anda akan kebahagiaan dengan menjalin hubungan berkualitas dengan orang lain. Waktu ketika Anda memikirkan kebutuhan orang-orang yang Anda kasihi, waktu ketika Anda membayangkan apakah barang yang akan dibeli akan membuatnya senang serta mempertimbangkan warna favorit, jenis barang favorit, serta hal-hal lain dalam mempersiapkan hadiah, sebenarnya adalah waktu yang mendatangkan kebahagiaan bagi Anda. Begitu pula ketika Anda memberikan hadiah serta melihat reaksi orang yang Anda berikan hadiahnya, Anda mendapat kebahagiaan sejati itu.

 

Memberi pada dasarnya berbagi kebahagiaan kepada orang lain, tetapi juga mendapat kebahagiaan di waktu yang sama ketika Anda memberi. Dengan memberi, Anda tidak pernah kehabisan, justru semakin berkelimpahan.

Pada akhirnya, benarlah yang dikatakan dalam Kis 20: 35b: “Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.”

 

“The love we give away is the only love we keep.”
– Elbert Hubbard

Kuasa DOA atau Kuasa BERDOA?

kneeling_in_prayer - Experiencing Life Foundation

Benarkah doa berkuasa?

Pertanyaan ini menjadi salah satu pertanyaan menarik dalam dunia psikologi yang beririsan dengan Kristen. Menurut psikologi yang sangat mengedepankan objektivitas, kuasa doa yang ‘tak terukur’ secara objektif meninggalkan suatu tanda tanya besar. Beberapa konsep psikologi dianggap tepat untuk menjelaskan mengapa sebagian orang menganggap doa berkuasa, seperti: self-fulfilling prophecy, keyakinan dalam diri bahwa doanya berkuasa sehingga menyebabkan apa yang diinginkan terjadi; mere-exposure effect, karena sering mengulang harapan-harapannya dalam doanya, maka kejadian di dalam hidupnya seolah-olah memenuhi harapannya; atau bahkan magical thinking, menganggap peristiwa yang tidak berhubungan sama sekali seolah-olah menjadi memiliki hubungan logis dan dikaitkan dengan harapan terkabul dalam doanya.

Banyak orang yang bersikap skeptis terhadap agama memandang bahwa doa hanya merupakan upaya manusia untuk memberikan ketenangan di dalam dirinya. Pendapat mereka diperkuat oleh fakta bahwa tidak semua doa terkabul, sehingga doa yang terkabul sebenarnya hanya disebabkan oleh faktor acak (random). Ketika seseorang berdoa agar lulus ujian, misalnya, dan ternyata lulus, maka sebenarnya tanpa berdoa pun ia memang seharusnya lulus.

Eksperimen Doa

Pada tahun 2006, American Heart Journal memuat sebuah artikel penelitian dari Benson et al. (2006) yang menguji ada atau tidaknya pengaruh doa syafaat terhadap kesembuhan atau keberhasilan pasien yang akan menjalankan operasi bypass jantung. Sekitar 1.800 pasien dari enam rumah sakit di Amerika Serikat berpartisipasi dalam penelitian ini. Sebagian pasien didoakan tanpa diberitahu sebelumnya, sedangkan sebagian lainnya didoakan dengan diberitahu sebelumnya. Penelitian ini hendak membuktikan apakah doa atau keyakinan bahwa seseorang didoakan yang memberikan kuasa terhadap seseorang. Secara metodologis dan keilmuwan, penelitian ini tampak sempurna.

Hasil penelitiannya, seperti sudah dapat diprediksi sebelumnya, doa tidak berkuasa menyembuhkan atau menghindari pasien dari komplikasi pasca operasi. Ironisnya, dalam penelitian tersebut, seseorang yang mengetahui bahwa dirinya didoakan justru memiliki kecenderungan komplikasi pasca operasi yang lebih tinggi. Lalu, benarkah doa tidak berkuasa?

Menguji Doa atau Menguji Tuhan?

Myers dalam ulasannya tentang integrasi Psikologi dan Kristen (dalam Johnson, 2012) mengulas tiga hal yang perlu diperhatikan untuk mengkritisi eksperimen di atas:

1. Pemahaman doa direduksi menjadi sekedar mantera.

Dalam Alkitab, Allah adalah inti dari seluruh ciptaan, bukan berperan sebagai pembelok hukum alam, melainkan dasar dari segala hukum alam yang terjadi. Karya Allah bukan hanya ditentukan dari doa kita, tetapi justru kita yang mampu berdoa merupakan bagian dari karya Allah. J.I. Packer (dalam Johnson, 2012) menekankan bahwa doa “bukanlah sebuah usaha memaksa Allah menolong kita, melainkan pemahaman yang penuh kerendahan hati, ketidakberdayaan, dan kebergantungan.”

2. Faktor bising (noise) dan keraguan (doubt).

Mayoritas orang Amerika menyatakan kepercayaannya kepada Allah, sehingga tentu semua pasien yang akan menjalani operasi bypass jantung akan didoakan oleh sanak keluarga dan teman-temannya. Lalu, doa dalam eksperimen ini hanya menambah satu dari sekian doa yang telah dilakukan. Pertanyaannya: apakah Allah menuruti semacam aturan bahwa semakin banyak doa, semakin nyata jawabannya? Apakah kerendahan hati, iman, dan keseriusan pasien tidak cukup memengaruhi? Tentu Anda sudah tahu jawabannya.

Kita perlu memahami bahwa doa tentu lebih dari sekedar mengucapkan kata-kata harapan kepada Tuhan. Lalu, apakah para ilmuwan yang mendoakan pasien-pasien tersebut dalam rangka menguji efektivitas doa mendasarkan doanya pada iman atau keraguan? Tentu kita percaya bahwa doa yang diucapkan dengan keyakinan iman sungguh berkuasa. C.S. Lewis (1947) pernah berkata “kemustahilan pembuktian empiris merupakan kebutuhan spiritual; sebab jika tidak demikian, seseorang mulai merasa mirip dengan pesulap.”

3. Doa jelas tidak dapat memanipulasi Allah yang tidak terbatas.

Jika saja penelitian ini benar terbukti dan doa memang benar selalu terjadi, mengapa masih ada kekeringan, banjir, bencana, bahkan mengapa penyakit kanker masih ada sampai sekarang? Bahkan di dalam Alkitab pun diceritakan bagaimana doa Ayub, Paulus, dan bahkan Tuhan Yesus (saat memohon agar cawan pahit berlalu dari-Nya) tidak terjawab. Jika doa tidak terjawab seperti yang didoakan, apakah itu berarti iman pendoa terlalu kecil?

Secara personal, saya percaya bahwa doa memberikan rasa aman secara psikologis terhadap si pendoa. Dengan mengetahui bahwa ada Seseorang yang berkuasa memberikan kelegaan kepadanya serta Maha Baik dan Maha Kuasa, tentu akan timbul rasa aman bagi orang tersebut. Namun, kuasa doa tentu bukan hanya memberikan rasa aman secara psikologis. Doa berkuasa. Kuasanya bukan ditentukan dari seberapa banyak orang berdoa, tetapi dari seberapa besar orang tersebut mau benar-benar bersandar dan menyerahkan segala kekhawatirannya kepada Tuhan. Yang terpenting ialah bahwa esensi doa bukan untuk merealisasikan segala yang diharapkan dalam doa, melainkan mengekspresikan kerendahan hati, kebergantungan, dan ketidakberdayaan diri kepada Tuhan melalui komunikasi yang intim.

“The function of prayer is not to influence God, but rather to change the nature of the one who prays.”
― Søren Kierkegaard

Referensi:

  • Johnson, E. L. (2012). Psychology and Christianity: Five views. (2nd ed.). (Heman Elia, Penerj.). Malang: SAAT. (Original work published 2010).
  • Benson, H., Dusek, J. A., Sherwood, J. B., Lam, P., Bethea, C. F., Carpenter, W., Levitsky, S., Hill, P. C., Clem, D. W., Jain, M. K., Drumel, D., Kopecky, S. L., Mueller, P. S., Marek, D., Rollins, S., & Hibberd, P. L. (2006). Study of the Therapeutic Effects of Intercessory Prayer (STEP) in cardiac bypass patients: A multicenter randomized trial of uncertainty and certainty of receiving intercessory prayer. American Heart Journal, 151 (4), 934-942. Retrived from http://deploy.extras.ufg.br/projetos/adrimelo/filo/2-aula-STEP_paper.pdf

PSIKOLOGI, KRISTEN, DAN KECEMASAN

anxiety

Psikologi dengan Kristen seringkali dianggap sebagai bertentangan. Beberapa aliran menyebutkan bahwa psikologi akan kehilangan identitasnya ketika bersatu dengan Kristen, karena dengan demikian psikologi menjadi tidak netral. Psikologi yang diintegrasikan dengan Kristen dianggap sarat berbau Kristenisasi, sehingga segala ilmu dan prinsip dasar psikologi menjadi hilang dan digantikan dengan nilai-nilai teologis.

Salah satu contoh spesifik mengenai pertentangan antara psikologi dengan Kristen dalam realita kehidupan sehari-hari ialah dalam memandang kecemasan. Anggap saja ada seorang klien datang kepada psikolog, menceritakan pengalamannya tentang bagaimana hidupnya dahulu sangat ‘menyenangkan’ dan ‘sejahtera’. Dengan kemapanan secara ekonomi, ia menikmati berbagai perilaku seks yang tidak dapat diterima secara sosial, moral, dan agama: menjadi seorang biseksual. Namun pada saat itu, ia tidak terlalu memikirkan pandangan masyarakat karena merasa ia dapat mencukupi segala kebutuhannya sendiri. Ia pun dapat menikah dan memiliki seorang anak. Suatu malam, saat ia sedang menghabiskan waktunya di pusat hiburan sesama jenis, ia tertangkap polisi karena mengkonsumsi narkoba. Singkat kata, ketika di penjara dan ada program pendampingan rohani, ia merasa cemas karena telah berbuat dosa dan mendapati dirinya sangat menjijikkan. Ia lalu menceritakan kepada Anda segala masalahnya dan meminta pandangan Anda. Apa respon Anda?

Dalam pandangan humanistik, klien ini seharusnya diajarkan agar dapat menerima dirinya apa adanya, memilih apa yang menurutnya baik, dan melakukan yang dianggapnya baik tersebut. Walaupun mungkin Carl Rogers atau para ahli lainnya tidak secara langsung mengaitkan dengan homoseksualitas, tetapi saya cukup yakin bahwa mereka akan tetap mendorong agar klien tersebut tetap menerima diri apa adanya, sehingga membenarkan dan membiarkan mereka menjadi seorang homoseksual – apalagi setelah saat ini homoseksualitas tidak lagi dianggap sebagai suatu gejala patologis, serta berbagai negara bagian di Amerika Serikat mulau melegalkan homoseksualitas.

Momen ‘kairos’ saat klien tersebut diingatkan dan mengalami perjumpaan dengan Injil yang mengusik hatinya dianggap sebagai momen yang justru menimbulkan kecemasan dalam diri. Namun, terlepas dari integrasi psikologi dan Kristen, apakah benar bahwa kehadiran Injil justru malah membuat seseorang hidup dalam kecemasan? Paling tidak ada beberapa argumentasi penting yang muncul dalam hal ini:

  1. Cemas muncul bukan karena Injil, tetapi karena adanya perubahan. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Setiap orang pasti melakukan kesalahan. Cemas muncul ketika kita menyadari bahwa kita salah, kita berbeda dengan kebanyakan orang, kita menyalahi aturan yang berlaku. Bukankah seorang anak yang mendapat nilai jelek saat ujian juga akan merasa cemas saat mengulang ujian itu kembali? Apakah kita akan mengatakan “Nak, lebih baik kamu tidak perlu mengikuti ujian lagi. Carilah sekolah lain yang lebih mudah.” atau justru mendorong dan memotivasinya agar belajar lebih giat? Terkadang, justru hal yang membuat kita cemas membuat kita lebih baik ketika kita mampu bereaksi dengan tepat terhadap kecemasan tersebut.
  2. Cemas berbeda dengan gangguan cemas. Tidak semua cemas perlu dihindari, justru beberapa kecemasan sangat penting untuk mendorong dan meningkatkan kualitas hidup kita. Kecemasan dalam diri justru menunjukkan adanya kesadaran akan posisi diri kita saat ini serta nilai-nilai yang dianut. Saat seseorang akan mengikuti wawancara kerja, ia akan mengalami cemas; tetapi tentu bukan berarti solusinya adalah dengan membuatnya tidak bekerja. Jadi, yang lebih penting bukanlah kecemasan itu sendiri, melainkan cara kita menghadapi kecemasan.
  3. Kehadiran Injil bukan untuk membuat cemas, tetapi justru untuk membebaskan manusia dari kecemasan. Injil memang secara tegas menolak hubungan sesama jenis karena merupakan perbuatan dosa. Akan tetapi Injil menawarkan keselamatan yang sebenarnya amat dibutuhkan manusia untuk bebas dari kecemasannya. Dalam berbagai kisah kehidupan Yesus dan segala nilai-nilai yang tertulis di Alkitab, kita dapat melihat bahwa sekalipun Allah sangat membenci dosa, tetapi Ia tidak pernah menghilangkan identitas diri-Nya yang adalah Kasih. Oleh sebab itu, penekanan seharusnya ada pada bagaimana setiap manusia sudah berbuat dosa (tidak ada yang lebih suci daripada yang lainnya), bagaimana Allah menerima diri kita dalam segala keberdosaan kita, dan bagaimana Allah melalui Roh Kudus-Nya akan memampukan kita untuk membina dan mempertahankan hidup dalam kekudusan.
  4. Mengabaikan Injil dengan mengokohkan jati diri sebagai homoseksual justru sebenarnya memupuk rasa cemas yang lebih besar di kemudian hari. Seperti perumpamaan di atas, ketika anak dibebaskan dari ujian atau ketika seorang pelamar kerja menghindari wawancara kerja, mereka memang akan terbebas dari kecemasannya. Namun kebebasannya bersifat semu. Di depannya, sudah menanti berbagai potensi kecemasan lain: rasa minder karena tingkat pendidikan yang rendah dibanding teman-temannya, stres karena tekanan ekonomi dan tidak lagi dapat bergantung pada siapapun, atau rasa penyesalan karena telah ‘menolak untuk cemas sesaat’. Seorang homoseksual mungkin saja bisa berusaha menerima identitas dirinya, belajar mencintai dan menerima diri apa adanya, tetapi seumur hidupnya ia akan terus dikuasai oleh ketakutan akan stigma negatif dari masyarakat serta bayang-bayang kecemasan mengenai kehidupan (atau penderitaan) setelah kematian nanti.

Homoseksualitas hanya satu dari sekian banyak hal yang membuat seseorang cemas dan berusaha mengeliminasi nilai Kristen dalam psikologi. Cemas merupakan hal yang normal dan wajar, namun cara seseorang mengatasi kecemasannya justru yang membuatnya dianggap mengalami gangguan atau tidak. Jadi, ketika menghadapi kecemasan, langkah yang paling tepat bukan menghindari kecemasan itu, tetapi mengelola kecemasan dengan bijak agar melalui kecemasan, kita beroleh kualitas hidup yang lebih baik.

Hubungan Pernikahan: Menyayangi ATAU Menyaingi?

marriage- Experiencing Life Foundation

Jika pada zaman dahulu R.A. Kartini memperjuangkan kesamaan hak perempuan dengan laki-laki, agaknya hari ini usaha tersebut berhasil. Masalah persamaan gender memang sepertinya sudah menjadi masalah yang sangat diperhatikan. Dalam ranah politik, misalnya, 30% dari calon legislatif harus diisi oleh perempuan. Beberapa lowongan pekerjaan pada berbagai sektor bisnis dan industri juga lebih mengutamakan pelamar perempuan daripada laki-laki. Bahkan, saat ini tidak asing jika kita melihat seorang perempuan yang berhasil dalam kariernya, sampai menduduki jabatan tertinggi dalam struktur organisasi. Bukan hanya puncak karier, kemajuan teknologi di masa kini juga memungkinkan para perempuan untuk bekerja online sehingga memperoleh penghasilan yang bahkan lebih besar daripada pekerjaan pasangannya yang bekerja di kantor. Urusan rumah tangga tidak terbengkalai, peran sebagai ibu bagi anak-anak tetap terpenuhi, serta mampu menghasilkan keuangan yang lebih besar dari suami melalui permainan saham atau sekedar berdagang online – tentu itu adalah hal yang ‘ideal’ dan menyenangkan, bukan?

Sebelum adanya penyetaraan gender, konflik dan ketidakpuasan dalam rumah tangga timbul dari sang istri yang merasa seperti ditindas dan mendapat tempat nomor dua. Suami selalu menjadi sentral, pengatur, bahkan diktator dalam memutuskan dan menentukan segala sesuatu, sedangkan istri digambarkan sebagai sosok penurut, tidak berdaya atas kekerasan suami, dan harus berpasrah pada nasib yang menomorduakan kaumnya. Namun sekarang, ketika penyetaraan gender sudah diperhatikan, ternyata konflik dan ketidakpuasan dalam rumah tangga tidak juga hilang. Realitas bahwa sang istri dengan jabatan pekerjaan dan kemampuan finansial yang mengungguli suami seringkali menimbulkan tekanan mental tersendiri bagi sang suami. Lalu, apakah artinya suami tersebut gagal melakukan perannya? Atau apakah hal ini menunjukkan bahwa lebih baik peran kaum perempuan dibatasi kembali?

PERSPEKTIF EVOLUSIONER TERHADAP PERAN GENDER

Larsen dan Buss (2005) dalam bukunya, Personality Psychology, menggambarkan bagaimana peran gender terbentuk dalam masyarakat. Seorang lelaki, menurut perspektif evolusioner, dilahirkan dengan insting untuk menjadi pelindung; sedangkan seorang perempuan memiliki insting sebagai sosok yang selektif. Seorang perempuan berusaha memilih lelaki yang dianggapnya dapat memberikan rasa aman bagi masa depannya serta masa depan keturunannya kelak. Oleh karena itu, lelaki dengan tampilan fisik yang tegap lebih disukai oleh perempuan karena dianggap akan memberikan perlindungan bagi dirinya dan anak-anaknya kelak. Namun, bagi perempuan dengan kemampuan kognitif yang lebih tinggi, tampilan fisik tidak terlalu menjadi faktor. Seorang tokoh psikologi sosial, David Myers (2007), menggambarkan bahwa seorang perempuan dengan kemampuan kognitif lebih tinggi cenderung akan memilih laki-laki yang pandai juga, karena dianggap dapat memberikan jaminan bagi masa depannya, baik secara finansial maupun perencanaan. Sebaliknya, insting laki-laki sebagai pelindung muncul karena melihat perempuan sebagai sosok yang lemah dan perlu untuk dilindungi. Perempuan dianggap sebagai sosok yang perlu disayang, diperhatikan, dan dilindungi. Oleh karena itu, seorang laki-laki akan terpacu untuk bekerja keras dan menghadapi segala tantangan apapun yang membahayakan perempuan.

Jadi, menurut perspektif evolusioner, jelas bahwa peran seorang perempuan ialah untuk memelihara keturunan dan menghidupkan cinta di dalam keluarga, sementara peran seorang lelaki ialah untuk mencukupi dan menghidupi seluruh anggota keluarga. Jika ditarik lebih lanjut, maka jelaslah sekarang mengapa seorang lelaki akan sangat terobsesi akan status dan prestige, sehingga sangat butuh dihormati; sedangkan seorang perempuan akan sangat terobsesi dengan kasih dan sentuhan emosiona, sehingga butuh untuk dicintai – meskipun saya tidak katakan bahwa seorang lelaki tidak butuh dicintai atau seorang perempuan tidak butuh untuk dihormati.

KONFLIK RUMAH TANGGA AKIBAT PERBEDAAN PERAN GENDER

Pandangan evolusioner terhadap peran gender membentuk opini, bahkan stigma, dalam masyarakat bahwa seorang lelaki memang seharusnya bekerja dan berpenghasilan yang lebih besar daripada perempuan. Oleh karena itu, ketika peran ini tidak tercipta, maka timbul perasaan cemas karena merasa tidak dapat memenuhi standar budaya, takut akan stigma negatif dari masyarakat, serta takut akan hilangnya peran gender yang menjadi insting dasar di dalam diri.

Jika sebelum penyetaraan gender kaum perempuan merupakan kaum yang merasa tertekan oleh laki-laki, setelah penyetaraan gender, seringkali kaum lelaki yang merasa tertekan oleh perempuan – dan akhirnya tidak jarang si laki-laki pun akan kembali menekan perempuan dan menciptakan konflik dalam masyarakat. Tidak mudah bagi seorang lelaki untuk menerima ketika pasangannya mendapat pekerjaan dengan posisi dan penghasilan yang lebih baik darinya. Ia akan mulai merasa cemas karena ambisi serta kondisi idealnya dirampas oleh sang istri, sehingga merasa tersaingi. Muncul pikiran pada lelaki tersebut bahwa ia akan tidak dihormati, tidak diperhitungkan, serta gagal menjadi kepala dalam keluarga, karena status serta penghasilannya tersaingi oleh perempuan. Namun, di sisi lain, tidak mudah bagi laki-laki tersebut untuk mengekspresikan perasaannya karena semakin ia mengekspresikan perasaannya, semakin ia merasa cemas. Akibatnya, muncullah berbagai konflik dalam rumah tangga yang terjadi ketika sang suami tiba-tiba mudah marah ketika berbicara tentang pekerjaan dan keuangan, bahkan muncul berbagai alasan dari sang suami untuk membatasi karier istrinya dengan meminta istrinya berhenti bekerja karena merasa cemburu dengan atasan istri, anak-anak yang kurang terpelihara, kondisi rumah tangga yang dianggap berantakan, dan sebagainya.

BAGAIMANA MENGATASINYA?

Sekalipun berkembang stigma dalam masyarakat mengenai lelaki yang seharusnya lebih sukses secara pekerjaan daripada perempuan, namun tidak ada aturan “benar-salah” yang mutlak terkait dengan hal ini. Oleh sebab itu, sikap yang dewasa serta saling menghargai tanpa kondisi apapun antar masing-masing pasangan merupakan hal yang mutlak untuk dapat tetap membina rumah tangga yang harmonis. Pandangan yang bijaksana dan proporsional pada masing-masing pasangan merupakan hal yang penting agar tetap tercipta rumah tangga dimana masing-masing pasangan dapat tetap menjalankan perannya tanpa ditentukan oleh berapa uang yang dihasilkan.

Bagi sang suami, yakinlah bahwa Anda dicintai bukan karena berapa uang yang Anda hasilkan atau berapa tinggi jabatan yang Anda duduki dalam pekerjaan. Seorang istri yang tulus ialah dia yang mencintai Anda, dan bukan berbagai atribut Anda. Anda mungkin merasa bahwa masyarakat menilai Anda gagal, namun Anda perlu untuk mulai berpikir lebih menyenangkan istri Anda daripada masyarakat, bukan? Tetaplah pilih pekerjaan yang terbaik, sekalipun mungkin yang terbaik itu masih belum baik jika dibandingkan dengan pekerjaan sang istri. Yakinlah, bahwa hal tersebut terjadi atas rencana Allah, dan tetaplah berdoa (bdk. Ams 16:9; Yer 29:11).

Kedua, belajarlah untuk tidak melihat dalam perspektif hitam atau putih. “jika kalah dalam pekerjaan, maka saya gagal”, “jika istri lebih kaya, maka saya tidak dapat memimpin”, “jika ia mampu mandiri secara finansial, maka saya tidak dibutuhkan.” Pemikiran – pemikiran tersebut adalah pemikiran sempit yang seringkali membuat kita terjebak dalam kondisi depresif karena memandang dunia hanya berwarna hitam dan putih. Hidup ini jauh lebih dari sekedar hitam dan putih! Terkadang Anda mungkin lebih rendah, namun seperti Roller Coaster, hidup Anda tidak berhenti dalam kondisi yang lebih rendah. Kondisi yang rendah mungkin hanya sebagai pemacu agar Anda bisa memanjat ke yang lebih tinggi, karena toh yang-tinggi itu tidak akan ada tanpa ada yang-rendah, bukan? Sebaliknya, ketika pun Anda berada dalam posisi yang lebih rendah daripada istri secara finansial, Anda bukanlah seorang yang kalah. Tidak semua yang tidak menang adalah kalah. Tetaplah mencintai dan menyayangi istri dan keluarga Anda, maka Anda sudah menang, setidaknya dari kungkungan emosi dan pemikiran sempit Anda.

Bagi sang istri, bersyukurlah karena kesempatan itu diberikan kepada Anda. Ingatlah bahwa pesan Alkitab terhadap Anda berlaku tidak peduli betapapun uang yang Anda hasilkan atau jabatan yang Anda peroleh. Anda tetap dituntut untuk tunduk terhadap suami sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan (bdk. Kol 3:18). Tetaplah menjadi seorang penolong – bukan pesaing – bagi suami Anda, sehingga Anda tetap menjalankan peran serta alasan Allah menciptakan perempuan. Sadarilah bahwa pekerjaan yang suami Anda lakukan adalah pekerjaan terbaik yang ia mampu lakukan, dan hargailah itu – karena jika ia boleh memilih, tentu ia akan memilih yang lebih baik dari Anda demi menyenangkan Anda.

Selanjutnya, tetaplah berkarya dalam bidang yang dipercayakan kepada Anda dan akuilah suami Anda tetap sebagaimana Anda mengakui dirinya sebelum Anda mendapatkan pekerjaan tersebut. Bersyukurlah karena Allah mempercayai Anda sebagai salah satu saluran berkat bagi suami dan anak-anak Anda. Sebaliknya, tetaplah rendah hati, karena Allah bisa saja menggunakan cara lain jika cara yang diberikan melalui Anda ternyata hanya menimbulkan konflik dalam rumah tangga.

Sebagai penutup, saya tuliskan kembali suatu kalimat yang pernah diucapkan saat sebuah rumah tangga akan dibentuk, jauh sebelum diketahui siapa berpenghasilan lebih besar dari siapa; sebuah ikrar yang sebenarnya lebih dari cukup untuk menjadi syarat atas rumah tangga yang harmonis dan jawaban atas segala pertengkaran dalam rumah tangga:

… di hadapan Allah dan jemaat-Nya, aku mengaku dan menyatakan menerima dan mengambil engkau sebagai istriku/suamiku. Sebagai suami/istri yang beriman, aku berjanji akan memelihara hidup kudus denganmu, dan akan tetap mengasihimu pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, dan tetap mendampingimu dengan setia sampai kematian memisahkan kita.

“Let the wife make the husband glad to come home, and let him make her sorry to see him leave.”      
– Martin Luther

Adam, Eve, and The Science

BENARKAH ADAM DAN HAWA MEMAKAN BUAH APEL SEHINGGA JATUH KE DALAM DOSA?

 

Kisah Adam dan Hawa bisa jadi merupakan salah satu kisah Alkitab yang pertama kali melekat dalam otak saya. Dibesarkan di keluarga berlatar belakang Kristen, berbagai kisah-kisah dalam Alkitab saya dengar setiap minggu melalui kegiatan di Sekolah Minggu. Selain itu, kisah ini sepertinya juga merupakan kisah yang cukup populer, sehingga sebagian dari mereka yang bukan Kristen pun mungkin mengenal benar kisah ini.

Akan tetapi, setelah bertahun-tahun mengenal kisah ini, saya menemukan fakta yang menarik ketika kembali merenungkannya dalam suatu persekutuan doa yang saya hadiri. Izinkan saya mengutip ayat dalam kitab ini: “..bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat. … lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian.” (Kej. 3:5-6). Sejak pertama mendengar kisah ini, saya takjub dan heran: buah macam apa yang dapat memberi pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat? Dalam benak saya, pastilah dalam buah tersebut terkandung unsur-unsur ‘magis’ dan ajaib yang dapat memberikan kuasa tertentu, membuka pikiran kita, dan membuat kita menjadi pandai, hebat seperti Allah.

Dalam Kejadian 2 : 9, Alkitab menjelaskan bahwa pohon tersebut merupakan ‘pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat’. Tidak disebutkan secara detail apa pohon tersebut dan buah apa yang dimaksud sebagai buah yang baik dan yang jahat. Beberapa orang kemudian berspekulasi mengenai apa jenis buah ini. Hingga hari ini, cukup terkenal bahwa buah yang dimakan oleh Adam dan Hawa adalah buah apel. Itulah sebabnya istilah ‘jakun’ dalam Bahasa Inggris disebut sebagai ‘Adam’s Apple’ karena – entah hanya lelucon atau memang benar menjadi penyebabnya – konon saat memakan buah itu, Adam terkejut sehingga tersedak.

Akan tetapi, hasil penelusuran lebih lanjut menunjukkan bahwa kata apel pada sebelum abad ke-17 digunakan untuk menyebut segala jenis buah-buahan selain berries, termasuk kacang-kacangan (dalam dictionary.reference.com). Di samping itu, kata ‘apel’ dalam Bahasa Latin ialah mālum, serupa dengan kata ‘setan’ atau ‘ketidakberuntungan’ yang dalam Bahasa Latin ialah mălum. Kedua hal inilah yang membuat sebagian orang menginterpretasikan bahwa buah yang dimakan oleh Adam dan Hawa adalah buah apel. Tetapi, apakah benar memakan apel bisa membuat kita mengetahui apa yang baik dan yang jahat? Atau bahkan bisa membuat kita mati? Atau mungkin khasiat ‘magis’ tersebut telah hilang pasca kejadian Adam dan Hawa?

Dalam perenungan yang saya lakukan, saya mendapat pemahaman yang baru yang dapat memberikan penjelasan yang lebih logis-pragmatis mengenai ayat ini. Jika dikaitkan secara kontekstual, pada saat manusia pertama (Adam dan Hawa) tinggal di Taman Eden, segala sesuatu terasa damai, nyaman, dan ‘benar’, dan tidak ada kesalahan. Apa yang manusia ketahui pada saat itu hanyalah ‘kebenaran’ – karenanya manusia dapat hidup bersama-sama dengan Allah.

Akan tetapi, Allah membuat suatu ‘aturan main’ dalam taman itu: bahwa segala sesuatu boleh dilakukan dalam hidup Adam dan Hawa, kecuali memakan satu jenis buah yang telah ditetapkan oleh Allah. Allah, dalam segala ke-Allah-annya paham betul tentang kelemahan dan titik lemah manusia. Oleh sebab itu, dalam menyampaikan ‘aturan main’ ini, Allah mengatakan agar Adam dan Hawa tidak memakan atau bahkan merabanya agar tidak mati (ay.3). Aturan main ini tentu membuat manusia menjadi takut karena dipikirnya bahwa buah ini sungguh beracun dan tidak baik baginya. Allah bahkan melarang manusia untuk meraba, bukan hanya memakannya, menyadari betapa lemahnya manusia jatuh ke dalam godaan (karena ketika manusia bisa merabanya, mungkin saja manusia tidak akan tahan untuk tidak mencicipinya).

Namun, iblis, dalam segala kelicikannya, berusaha untuk membuat manusia jatuh ke dalam dosa. Iblis merayu dan mengatakan bahwa buah itu membuat manusia memahami apa yang benar dan yang salah, serta dapat memberi pengertian. Inilah yang membuat manusia tergiur – dan inilah titik kejatuhan manusia.

Setelah Adam dan Hawa memakannya, buah tersebut memang tidak mengandung ‘racun’ yang mematikan secara jasmaniah. Adam dan Hawa tidak mati setelah itu. Akan tetapi, racun yang mematikan itu ternyata mematikan hubungan rohani manusia dengan Allah. Sebetulnya, bukan karena buahnya yang ajaib dan mengandung unsur magis, tetapi tindakan manusia yang ‘melanggar aturan main’ inilah yang membuka mata mereka, khususnya mengenai apa yang baik dan apa yang jahat. Buah tersebut mungkin hanya satu dari sekian banyak buah yang tidak memiliki ‘kandungan khusus’, tetapi memakan buah tersebut merupakan tindakan melawan aturan Allah yang jelas menimbulkan konsekuensi tersendiri. Jadi, bukan buahnya yang penting, melainkan momentum memakan buah yang terlarang itu yang lebih bermakna.

Sejak memakan buah itu – sejak melanggar aturan Allah –, benarlah kata si iblis bahwa manusia kini mengetahui apa yang baik dan yang buruk. Manusia bukan hanya mengenal kebenaran tetapi juga mengenal kesalahan, bahkan melakukan kesalahan. Dengan demikian, peristiwa memakan buah itu menjadi suatu momentum ketika manusia memiliki ‘pengertian tentang yang baik dan yang jahat’. Sama seperti analogi berikut ini: kita tidak akan pernah mengetahui adanya warna hitam jika tidak pernah ada warna putih (atau warna-warna lainnya). Artinya, definisi kita mengenai warna hitam tidak akan pernah terbentuk jika tidak ada warna-warna lain, atau dengan kata lain, istilah ‘warna hitam’ sebenarnya sama saja dengan istilah ‘warna’, karena tidak ada warna-warna lain. Atau, ilustrasi yang lebih mudah dipahami: definisi kita mengenai ‘burung nuri’ mungkin sama dengan definisi kita mengenai ‘burung’ jika tidak ada burung-burung lain di dunia ini. Namun, karena adanya burung-burung lain di dunia ini, maka definisi mengenai ‘burung nuri’ memberikan pemahaman yang lebih spesifik bahwa burung nuri merupakan burung yang berbeda dengan burung kakak tua, burung gereja, dan seterusnya.
Kembali kepada kisah Adam dan Hawa, setelah memakan buah tersebut dan melakukan kesalahan, manusia kini memang benar mendapat ‘pengertian’ tentang yang baik dan yang jahat. Ia tahu apa itu kesalahan. Ia tahu apa itu dosa, dan benarlah pula apa yang dikatakan Allah bahwa “janganlah kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.” Pengertian tentang yang benar dan yang salah diperoleh manusia, tetapi karena ‘kesalahan’ yang dilakukannya, maka manusia harus mati. Melawan aturan Allah berarti berbuat dosa, dan upah dosa ialah maut (Rm 6:23).

Melalui pemahaman tersebut, saat ini kita mengetahui bahwa bukan magisnya buah tersebut yang membuat manusia menjadi ‘pandai’, tetapi momen ketika manusia memakan buah tersebut memberikan pengalaman tentang kesalahan (yang menimbulkan pengertian mengenai yang baik dan yang buruk), dan sekaligus membuat manusia harus mati dan binasa. Pemahaman ini konsisten dengan apa yang menjadi esensi ilmu pengetahuan yang terus berkembang hingga saat ini.

Ada empat manfaat ilmu pengetahuan: to describe, to explain, to predict, dan to control. Ilmu pengetahuan berfungsi untuk menggambarkan fenomena yang benar atau ‘seharusnya’ berdasarkan hubungan logis, menjelaskan bagaimana suatu fenomena disebut ‘benar’ dan ‘salah’, memprediksi apa yang akan terjadi dari suatu fenomena yang ‘benar’ atau ‘salah’, serta melakukan kontrol terhadap suatu fenomena agar menjadi ‘benar’. Untuk membuatnya lebih konkrit lagi, tentu kita mengetahui bahwa ilmu pengetahuan berkembang melalui berbagai penelitian. Penelitian diawali dari adanya masalah. Masalah merupakan kesenjangan antara apa yang ideal (benar) dan apa yang sebenarnya terjadi (tidak ideal = tidak benar = salah).
Kisah Adam dan Hawa yang jatuh ke dalam dosa pada akhirnya menghasilkan ilmu pengetahuan, yang terkesan ‘hebat’ karena dapat membedakan yang benar dan yang salah, tetapi juga yang sebenarnya tidak kita perlukan ketika ‘tidak ada yang salah’. Andai Adam dan Hawa tidak berbuat kesalahan (baca: dosa) pada masa itu, tentu ilmu pengetahuan tidak diperlukan karena segala sesuatu adalah benar dan tidak perlu mengetahui tentang kesalahan. Jadi, pengetahuan perlu sepanjang ada kesalahan (baca: ketidaklogisan, kekeliruan, penyimpangan).
Namun, tidak ada gunanya menyesali apa yang dilakukan oleh Adam dan Hawa – karena tidak ada penyesalan yang dapat menghapus kesalahan. Tidak penting apa jenis buah yang dimakan oleh Adam dan Hawa, tetapi lebih penting pemaknaan terhadap ‘momentum Adam dan Hawa yang memakan buah tersebut’, yang membuat manusia jatuh ke dalam dosa. Apa yang dapat kita lakukan sekarang ialah memahami benar tentang kebenaran dan kesalahan (berdasarkan ‘pengetahuan’ yang diperoleh sejak ‘momen ketika Adam dan Hawa memakan buah itu’), dan melakukan apa yang benar. Sebagai orang percaya, sumber kebenaran adalah Firman Tuhan, dan melakukan apa yang benar adalah melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan, karena kematian yang seharusnya menghantui kita, telah lenyap melalui karya penyelamatan-Nya.